
Happy Reading π
ππππππ
Setelah mencari dan mengetahui keberadaan Sisil dari CCTV Dirga segera melangkahkan kakinya ke tempat tujuan.
Dirga melihat Sisil sedang duduk di sebuah kursi dengan pandangan lurus kedepan menatap tembok. Kemudian ia ikut duduk di samping Sisil.
Cukup lama mereka berdiam diri tak ada yang memulai berbicara. Dan akhirnya Dirga memberanikan diri untuk membuka mulutnya dan bersuara.
" Bagaimana perasaan mu sekarang? " Tanya Dirga tanpa melihat Sisil
" Tak bisa ku gambarkan " Jawab Sisil dengan tatapan kosong
" Aku tahu, kau pasti marah dan benci pada kami "
" Ya, tentu aku marah. Tapi untuk benci belum sampai kesana " Jawab Sisil jujur
Dirga melihat ke arah Sisil
" Belum sampai kesana? " Tanya Dirga mengulang ucapan Sisil
" Itu artinya bisa jadi kamu akan membenci kami? " Tanya nya lagi
" Ya " Jawab Sisil singkat membuat Dirga menghembuskan napas dengan kasar
" Kenapa kalian tega membuang ku? " Tanya Sisil dengan mata berkaca kaca
Dirga terkejut dengan pertanyaan Sisil yang menuduh mereka telah membuang Sisil.
" Tidak ada yang membuang mu "
" Kalau aku tidak di buang, terus kenapa aku ada di kota S sedangkan kalian tinggal di kota J? . Kenapa selama ini tidak mencari ku? " Tanya Sisil dengan emosi ia mengeluarkan pertanyaan yang selama ini ingin ia ketahui.
" Tidak ada yang membuangmu, kami sudah berusaha mencari mu kemana mana tapi tak berhasil dan kami tidak tahu bagaimana kamu bisa berada di kota S " Jawab Dirga
" Kalian saja kurang berusaha " Sangah Sisil lagi dengan sinis
" Ya kau benar, kami kurang berusaha sehingga kami tak dapat menemukan mu " Ucap Dirga tak membantah, ia mengakui kesalahan itu dan kepala nya tertunduk lesu
__ADS_1
Kemudian mereka kembali terdiam dengan pemikiran masing masing. Tak lama Dirga bersuara memecah keheningan.
" Aku sangat bersyukur sekarang kita sudah bertemu " Ucapnya senang
" Kau senang? " Tanya Sisil
" Tentu aku senang bisa bertemu dengan adik kecuali ku lagi " Ucap Dirga tanpa ragu sangat terlihat pancaran kebahagian di matanya
" Hahahaha " Sisil tertawa sinis
" Tapi tidak untuk ku, tidak mudah bagiku untuk melupakan kesedihan ku selama ini " Ucap Sisil meneteskan air matanya
" Apa boleh aku membenci kalian? " Tanya Sisil pada Dirga yang sedang menatapnya
Dirga mengembuskan napas beratnya. Sungguh adik kecilnya sekarang telah berubah menjadi pendendam. Ia masih menyalahkan mereka dan belum bisa berdamai untuk memaafkan mereka. Padahal semua ini terjadi bukan atas keinginan mereka. Mereka juga menderita selama ini.
" Kau boleh membenci ku karena tidak berusaha maksimal mencari mu, tapi tidak untuk papa dan mama " Ucapnya dengan wajah tertunduk
Sisil hanya diam, ia menunggu Dirga untuk berbicara.
" Mereka sudah cukup menderita atas kehilangan mu.. " Dirga menjeda ucapnya untuk bernapas, dada nya terasa sesak mengingat kejadian belasan tahun yang lalu. Sangat menyakitkan untuk di kenang.
" Semenjak kau hilang, mama mengalami depresi. Mama dinyatakan gila oleh dokter dan di sarankan untuk di rawat di rumah sakit jiwa. Tapi papa menolak ia tak tega meninggalkan mama sendiri di sana. Akhirnya mama di rawat di rumah dengan papa yang selalu setia menjaganya. Lima tahun mama menjalani pengobatan dengan rajin konsultasi ke psikiater. Selama lima tahun pula aku di abaikan, aku tak pernah melihat mama tersenyum. Papa juga sibuk menguras perusahaan dan mama yang sakit sehingga aku jarang di perhatikan. Untung ada oma dan opa yang selalu memberi pengerti dan merawat ku "
Cerita Dirga tetang masa masa tersulit mereka. Sisil menutup mulutnya tak menyangka akan seperti itu jadinya, kemudian Dirga melanjutkan cerita nya.
" Di tahun ke lima mama baru mulai memperhatikan ku walau sedikit, tapi aku senang. Berangsur angsur mama mulai membaik yang awalnya hampir setiap hari harus konsultasi kemudian menjadi sebulan sekali dan akhirnya mama konsultasi hanya jika ia sedang drop saja. Untung papa selalu ada di saat mama sakit walaupun sebenarnya papa juga sangat menderita tapi sebisa mungkin ia selalu menunjukkan bahwa ia baik baik saja di depan kami semua. Aku tahu papa sering menangis dalam diam, aku salut padanya " Dirga tersenyum saat mengingat sang papa
Sisil terdiam mendengar cerita Dirga. Ia juga meneteskan air mata nya mendengar semua cerita sedih yang menimpa keluarga nya. Ternya bukan hanya ia sendiri yang bersedih, keluarga nya bahkan lebih menderita darinya.
Ia tak menyangka kalau bisa sampai seperti itu. Mama nya depresi, papa nya harus memikul beban yang sangat berat, dan kakak nya juga terlantar di usia yang masih kecil padahal ia juga butuh perhatian dari ke dua orang tuanya.
Dirga juga sangat bersedih, orang tuanya ada di depan mata tapi ia tak di perhatikan. Ia terasa di asingkan dan di anak tirikan, hal ini jauh lebih sakit dari Sisil yang tak dapat melihat mereka. Paling tidak Sisil tak merasakan sakit hati karena terabaikan. Ia dapat melihat kebahagiaan tapi tak dapat meraih kebahagiaan itu sendiri, seperti itu lah yang di rasakan Dirga.
Sisil dapat melihat raut kesedihan di wajah Dirga. Perlahan ia mendekat dan memeluk tubuh Dirga. Sisil bukanlah orang yang jahat dan pendendam, ia juga bukan orang yang egois. Ia juga bisa merasakan kesedihan keluarga nya.
" Maaf... Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kalian juga sama menderita nya seperti ku, bahkan kalian lebih menderita dari ku " Sisil menangis di pelukan sang kakak
" Tidak... Kau tidak salah dan tidak ada yang salah di sini " Ucap Dirga mengelus punggung Sisil yang bergetar karena menangis, ia juga ikut menangis. Dan mereka sama sama larut dalam tangisan.
__ADS_1
" Apa kau telah memaafkan kami? " Tanya Dirga melepaskan pelukan nya
" Ya " Ucap Sisil mengangguk
" Syukur lah aku lega mendengar nya " Ucap Dirga senang
" Apa mama masih menjalani konsultasi pada psikiater? " Tanya Sisil
" Ya, terkadang jika mama sangat terpuruk dalam kesedihan nya akan mengingat diri mu " Jawab Dirga membuat Sisil kembali meneteskan air mata nya
Cukup lama mereka di sana. Setelah merasa lega dan tenang Sisil baru melihat sekitar nya.
" Kak kita ada dimana sekarang dan ini tempat apa? " Tanyanya binggung
Ia baru sadar ternyata ia sudah berjalan terlalu jauh, bukan berjalan tetapi berlari. Dan ia tak tahu ada dimana mereka sekarang. Untung saja Dirga menyusul nya kalau tidak ia tak tahu apakah ia bisa kembali. Mengingat rumah yang begitu luas dan tadi ia pergi tak melihat jalan.
" Kita sekarang ada di halaman belakang tapi tepatnya di samping dan ini kandang ayam. Apa kau tak melihat ada ayam di sana " Ucap Dirga dan melihat kearah samping dimana ada sepuluh ayam besar di sana.
" Apa... Kandang ayam? " Tanya Sisil terkejut
Tenyata tanpa sadar Sisil tersesat dan masuk kedalam kandang ayam. Ya kandang ayam keluarga Dirga cukup luas dan bagus. Siapa yang menyangka itu adalah kandang ayam.
*****
Selamat Hari Raya Idul Adha
πΈ
πΈπΈ
πΈπΈπΈ
Terima kasih sudah mampir di novel author ya π
Terima kasih juga buat like nya ππ
Bantu vote juga ya ππ
Terima kasih untuk komentar positif nya, dengan adanya dukungan komentar yang positif membuat author semangat berimajinasi ππ
__ADS_1