
Happy Reading 😘
🦩🦩🦩🦩🦩🦩
Setiap gerak gerik Erik dan Ega di atas pelaminan tak lepas dari pantauan ke dua orang tua Erik yang berada tak jauh dibawah pelaminan.
Saat Erik menarik Ega dan membawa nya turun dari pelaminan dan membawanya keluar gedung. Ibu dan ayah Erik ikut mengejar mereka. Begitu juga dengan nenek Erik, sedangkan Vio masih berdiri di atas pelaminan di temani oleh ibu nya.
Vio ingin ikut mengejar tapi di tahan oleh ibu nya. Karena masih ada tamu undangan di sana, walaupun masih sedikit yang tinggal. Karena hari sudah semakin sore jadi tamu yang datang tidak terlalu banyak lagi.
Ibu dan ayah Erik mendekati Ega dan Erik yang sedang duduk di kursi taman. Ibu Erik memegang pundak Ega. Dan Ega sontak menoleh ke samping dimana ibu Erik sudah berdiri di samping nya.
" Ega,, maafkan Erik. Dia tidak bermaksud untuk menyakiti mu " Ucap Ibu Erik merasa tak enak pada Ega
" Iya nak, dan maafkan kami juga yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu kalian " Sambung ayah Erik
" Tidak apa apa paman, bibi. Mungkin kami memang tidak berjodoh " Ucap Ega sambil tersenyum getir
Ibu Erik bisa merasakan perasaan Ega sekarang, karena dulu ia juga pernah mengalami nya. Tak di sangka ibu Erik menangis dan memeluk Ega.
" Kenapa bibi menangis? " Tanya Ega melepaskan pelukan ibu Erik dan menghapus air mata ibu Erik dengan lembut
" Bibi sangat berharap kamu yang menjadi istri Erik " Ucapnya sambil menangis
" Kalau begitu kita menikah saja nanti " Timpal Erik
Ega menoleh pada Erik dan membulatkan matanya.
" Erik " Lirih Ega.
Ega tak habis pikir dengan Erik, padahal ia sudah pernah mengatakan jika ia tak mau menjadi yang ke dua. Ia tak mau bernasib seperti ibu Erik.
__ADS_1
" Benar nak, kalian bisa menikah nanti jika kalian benar-benar saling mencintai. Ayah merestui kalian " Seru ayah Erik memberi lampu hijau dan di angguki oleh ibu Erik
" Iya Ega, kalian bisa bersatu seperti kami " Tambah ibu Erik menggenggam tangan Ega
" Maaf paman, bibi. Tapi aku tak bisa menikah dengan Erik karena aku tak bisa berbagi suami " Ucap Ega menolak
Nampak raut kecewa dari ke-tiga ayah, ibu dan anak itu. Namun Ega tetap tak mau, ia menikah untuk hidup bahagia bersama suaminya nanti bukan untuk menderita.
Selama masih ada nenek sihir itu makan hidup Ega sudah pasti akan menderita. Akan makan hati terus setiap hari. Bisa bisa ia mati muda berharap dengan nenek sihir itu setiap hari.
Saat mereka sedang larut dalam kesedihan, nenek Erik menghampiri mereka dengan wajah angkuhnya.
" Berani juga kau datang, aku kira kau tak akan datang " Sarkas nenek Erik
Mendengar suara nenek Erik, mengejutkan mereka. Dan mereka semua serentak menoleh ke sumber suara.
" Ibu " Ucap ayah dan ibu Erik serentak
" Cihh dasar wanita tak tahu malu. Kalau aku jadi kau, aku tak akan datang. Kedatangan mu hanya merusak suasana saja " Ketus nenek Erik
" Nenek, jadi nenek yang mengirim undangan ke tempat Ega? " Tanya Erik sedikit emosi
" Jika iya, kenapa? Aku melakukan nya agar wanita ini sadar bahwa dia tidak memiliki tempat di keluarga kita. Dia tak sederajat dengan kita, dia tak pantas masuk kedalam keluarga kita. Aku hanya membuka matanya lebar lebar, agar dia melihat dan sadar siapa dia " Ketus nenek Erik dengan wajah angkuh dan arogan
" Nenek, kau sudah keterlaluan. Aku sangat membenci mu " Bentak Erik pada nenek nya membuat semua terkejut mendengar bentakan Erik termasuk juga nenek nya.
" Erik... Kau sudah berani pada nenek, hah. Ini semua karena wanita murahan ini, Erik berani melawan ku sekarang " Tunjuk nenek Erik pada Ega dengan wajah memerah karena marah.
" Ini semua karena nenek sendiri bukan karena orang lain. Sudah cukup nenek melimpah kan segala kesalahan pada orang lain. Selama ini aku masih bisa menahan, tapi sekarang aku sudah tak sanggup lagi. Nenek selalu egois mementingkan keinginan nenek sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Apa nenek pernah bersikap baik pada ibu, sekali saja. Apa pernah?" Erik menjedah ucapan nya
"Tidak,,tidak pernah. Aku sudah muak dengan sikap nenek " Tambah Erik lagi
__ADS_1
" Itu karena wanita itu tidak pantas menjadi menantu keluarga Moris" Ucap nya menatap Ibu Erik tak suka. Moris adalah nama keluarga turun temurun dari nenek moyang mereka.
" Ibu, dia istri ku. Dia juga yang sudah melahirkan pewaris keluarga. Kenapa ibu masih saja tak menganggap nya " Ucap ayah Erik kecewa
Ega memeluk tubuh ibu Erik yang menangis, ia mengusap punggung nya untuk menenangkan. Ayah Erik menarik tangan istri nya pelan agar beralih ke pelukan nya.
Kemudian ia membawa istri nya pergi meninggalkan taman. Ia tak mau lagi berdebat dan ia akan memutuskan setelah ini akan pergi meninggalkan rumah utama dan tinggal di tempat lain. Agar istri nya tak menderita lagi, walau sudah terlambat namun tak ada salah nya jika mereka memulai kembali dari awal.
Sebenarnya ia sudah lama mengajak istri nya untuk tinggal terpisah dengan ibunya, namun istri nya itu masih ingin tinggal bersama ibunya. Dengan harapan suatu saat nanti ibu suaminya itu berubah dan menerima nya dengan tangan terbuka. Namun sayang, yang ia harapkan tak kunjung terjadi.
" Ini semua karena kau. Sampai kapan pun aku tak akan menerima mu dalam keluarga Moris " Seru nenek Erik masih dengan ego nya. Kemudian ia pergi meninggalkan Ega dan Erik.
" Erik,, lebih baik kamu kembali ke gedung. Semua pasti sedang mencari pengantin pria yang tidak ada di atas pelaminan " Ega meminta Erik untuk kembali
" Aku tidak mau " Seru Erik
" Erik, kau jangan seperti ini. Aku tak mau di cap sebagai perusak pesta orang. Aku datang ke sini untuk memberi doa dan selamat, bukan untuk merusak acara kalian " Timpal Ega
" Tapi aku tak menginginkan pernikahan ini terjadi, aku hanya menginginkan pernikahan dengan mu. Seharusnya kau yang berdiri di samping ku di atas pelaminan bukan wanita itu " Lirih Erik sedih
" Kau harus bisa menerima takdir Erik. Kita masih bisa berteman atau menjadi saudara " Ucap Ega mengelus tangan Erik
" Aku tak mau menjadi teman atau saudara, yang aku mau menjadi suami mu " Kekeh Erik menatap mata Ega
" Sudahlah, kau harus belajar iklas walaupun sangat sulit melakukan nya. Dan aku kemari juga ingin memperjelas hubungan kita. Mulai saat ini kita hanya berteman saja " Ucapan Ega membuat Erik langsung menatap matanya
Erik sungguh tak menyangka Ega bisa melepaskan nya dengan semudah itu. Ia saja tak mampu untuk melakukan Ega. Erik menatap Ega dengan mata berkaca-kaca.
*****
sudah dulu ya nanti kita sambung lagi
__ADS_1