
Heppy Reading 😘
🦩🦩🦩🦩🦩🦩
Semua orang yang mengantar kepergian mereka serentak meninggalkan halaman bandara. Mereka kembali ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Dirga dan papa Gunawan langsung pergi ke perusahaan. Sedangkan mama Laras , opa Alex dan oma Diana kembali ke mansion.
Begitu juga dengan mama Arin, ia kembali pulang. Dan Jery sama seperti Dirga, ia pergi ke perusahaan. Untuk dua minggu ke depan ia akan sibuk karena meng-handle perusahaan yang di tinggal Bima selama pergi berbulan madu.
Mang Didin mengantar mama Rita pulang ke apartemen bersama Alif, kemudian ia kembali melajukan mobil untuk mengantar Rio yang ingin mendaftarkan diri ke sebuah universitas di salah satu universitas yang ada di kota J.
Ketika Rio turun dari mobil, aura yang di pancarkan dari ketampanan nya seketika bisa meleleh hati para gadis yang melihat nya.
Terdengar suara teriakan para gadis, Rio sudah seperti seorang artis saja. Bukan nya senang mendapat pujian dari para gadis, Rio malah tertekan. Ia menimbang nimbang kembali keputusan nya akan masuk ke Universitas ini.
Bukan tanpa alasan Rio menimbang nimbang untuk memutuskan kuliah nya. Di sini ia ingin menuntut ilmu, belajar dengan tenang. Tapi kalau belum apa apa saja suasana sudah seperti ini, bukannya tenang dalam belajar yang ada ia akan selalu kerepotan untuk menghindari para gadis.
Akhirnya Rio menghentikan langkah kakinya yang sudah setengah jalan, ia membalikkan tubuh nya dan pergi meninggalkan halaman universitas itu. Ia akan mencari universitas yang lain pikirnya.
Rio memang sudah terlambat untuk mendaftar masuk kuliah. Namun ia juga belum terlalu terlambat untuk memulai belajar. Karena para mahasiswa mahasiswi baru memulai pelajaran satu minggu ini.
*
*
Di perusahaan Dirga
__ADS_1
Dirga yang baru sampai tak sengaja berpapasan dengan seorang kurir di depan lobi. Kurir itu sedang bertanya pada seorang resepsionis yang sedang berjaga.
" Maaf mbak, apa boleh saya bertemu dengan nona Dita? " Tanya pria paruh baya yang mengenakan jaket berlambang salah satu jasa antar jemput. Sudah di pastikan kalau pria paruh baya itu seorang kurir
" Ada perlu apa anda ingin bertemu Dita? " Belum sempat resepsionis itu menjawab, Dirga sudah terlebih dulu bertanya pada sang kurir.
Ketika mendengar nama Dita di sebut, langkah kaki Dirga yang lebar perlahan mengecil. Dan ia langsung membalikkan tubuh nya menghadap sang kurir yang terlihat sedang memegang buket bunga yang sangat cantik.
Dirga menyipitkan matanya melihat buket itu. Tatapan mata nya mengintimidasi, membuat pria paruh baya yang hendak mengantar buket bunga pada Dita menjadi gugup.
" Sa.. Saya hanya ingin mengantarkan buket ini saja tuan " Ucap nya terbatas sambil menunjukkan buket bunga yang ia pegang
" Dari siapa itu? " Tanya Dirga
" Saya tidak tahu tuan, tidak ada nama pengirimnya "
" Sini serahkan pada ku, nanti akan aku sampaikan pada Dita " Dirga meminta buket bunga itu dan pria itu pun langsung memberi nya pada Dirga
Di depan pintu lift Dirga membolak balikan buket bunga itu. Ia mencari tanda pengenal namun ia tak menemukan apa pun. Tak ada kartu ucapan atau kartu nama terselip di sana. Membuat Dirga penasaran, buket bunga dari siapa itu.
" Siapa yang memberikan dia bunga? Tanya nya pada diri sendiri
" Apa ini dari salah satu penggemar nya? " Tanya nya lagi
Pintu lift terbuka, sebelum masuk Dirga membuang buket bunga yang tak berdosa itu ke tong sampah yang ada di depan lift. Jika bunga itu bisa bicara, pasti ia sudah menangis dan merutuki Dirga. Dirinya yang sudah tampil cantik dan wangi dengan tanpa perasaan Dirga meletakkan nya di dalam tong sampah yang kotor dan bau.
Ting
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Dirga keluar dan langsung menuju meja Dita. Tanpa basa basi Dirga memberi pertanyaan pada Dita, dan perkataan Dirga membuat Dita heran.
" Apa kau mempunyai seorang kekasih? " Tanya Dirga to the point
" Hhh apa? Kekasih? " Ulang Dita sedikit terkejut dengan suara Dirga yang tiba-tiba. Dita tak menyadari akan kedatangan Dirga, tadinya ia sedang fokus pada layar komputer yang ada di mejanya. Ia merasa heran kenapa bos nya datang datang langsung menanyakan perihal kekasih bukan menanyakan masalah pekerjaan.
" Ya kekasih " Dirga menegaskan
" Tidak ada " Jawab Dita menggeleng kepala masih dengan ekspresi terkejut nya dan tangan berada di dada.
" Bagus... Pertahankan " Ucap Dirga kemudian ia berbalik dan masuk kedalam ruangannya
" Hah apa? Apanya yang bagus? Dan kenapa juga harus di pertahankan kejombloan gue ini? Gumam Dita, ia melihat pintu ruang Dirga yang tertutup.
" Bukan suatu kebanggaan " Ucap nya lagi
Sore hari setelah semua pekerjaan nya selesai, Dita langsung bergegas merapikan meja kerjanya. Ia mengambil tas mahalnya yang ada di atas meja dan langsung melangkah kan kakinya untuk pulang.
Lift yang di naiki Dita berhenti di lantai Dita ingin turun. Pintu lift terbuka dan Dita langsung keluar, ketika Dita sudah berada di luar pintu lift ia membuka permen dan memakannya. Dita ingin membuang bungkus permen yang tadi ia makan, mata nya tak sengaja melihat ke dalam tong sampah dimana di dalam sana ada buket bunga yang sangat cantik.
" Ya ampun siapa yang telah tega membuang bunga cantik ini, sayang sekali. Jika tak suka berikan saja pada ku, pasti akan aku terima dengan senang hati " Gumam Dita, ia menatap nanar buket bunga malang itu. Ia sangat menyayangkan bunga secantik itu kenapa harus berakhir di dalam tong sampah.
Jika saja buket bunga itu hanya tergeletak di atas tong sampah yang ada tutupnya pasti sudah di ambil oleh Dita. Tapi sayang bunga itu berada di dalam sudah di pastikan bunga itu sudah kotor dan bau.
" Apa orang itu tak suka bunga, maka dari itu ia membuangnya? , andai ada yang berbaik hati memberikan ku bunga. Ahh senang nya " Dita menghayal, ia tersenyum sendiri sepanjang jalan menuju parkiran mobil
Untung saja hari sudah terlalu sore dan para karyawan sudah pulang terlebih dahulu. Jika ada yang melihat Dita tersenyum sendiri seperti itu pasti orang akan menyangka Dita sudah tak waras lagi.
__ADS_1
" Aish... Sadar Dita. Siapa yang akan memberikan mu bunga " Ucap Dita pada dirinya sendiri. Kemudian ia pun tertawa sendiri akan khayalan nya itu.
Gadis cantik berwajah bule itu pun menjalankan mobilnya dan segera meninggalkan halaman perusahaan. Tubuh nya sudah terasa lelah, ingin segera bertemu kasur empuk nya di rumah. Entah mengapa akhir akhir ini ia sering di suruh lembur oleh bos nya itu.