
Happy Reading π
ππππππ
Hari sabtu perusahaan Bima tutup kantor jam satu siang. Hari ini Sisil ingin bertemu sahabat nya Dita karena sudah lama mereka tidak bertemu, semenjak Sisil pindah bekerja di kota J mereka baru satu kali bertemu.
Sisil sudah menghubungi Dita untuk mengajak ketemuan, mereka sepakat bertemu di rumah Dita karena sekarang di sedang ada di rumah, ia tidak masuk bekerja dua hari ini karena demam.
Dan Sisil sudah meminta izin pada Bima, ia mau menjenguk sahabat nya Dita yang sedang sakit. Semenjak mereka pacaran Sisil selalu meminta izin atau melapor pada Bima setiap akan pergi atau sedang ada dimana ia sekarang. itu semua atas kemauan Bima yang begitu posesif pada Sisil. Bima mengizinkan dengan syarat tidak boleh pulang malam.
Pada musim pancaroba seprti sekarang ini biasanya daya tahan tubuh menurun, sehingga mudah terserang penyakit. Hal ini pula yang terjadi pada Dita sekarang ia jatuh sakit. Hal serupa juga di alami Sisil beberapa waktu yang lalu.
Di perjalanan menuju komplek rumah Dita, Sisil melihat ada abang bakso gerobak sedang menjajahkan dagangannya. Ia meminta mang Didin untuk berhenti di dekat abang bakso.
" Bang, abang bakso " Panggil Sisil pada si tukang bakso yang sedang mendorong gerobak
Sisil turun dari mobil hendak berbicara pada abang bakso yang sudah berhenti karena di panggil Sisil tadi
" Bang saya mau beli, tapi abang ikut saya ke komplek itu ya " Sisil menunjuk gerbang komplek perumahan mewah
Si abang tukang bakso melihat arah telunjuk Sisil kemudian ia melihat Sisil tidak yakin karena ia belum pernah masuk kesana. Karena itu komplek perumahan elite tidak bisa sembarang masuk kesana apa lagi berjualan keliling seperti nya.
" Ayo gk apa apa bang, nanti abang ikut di belakang mobil kami, saya yang akan urus semuanya " Sisil meyakinkan abang bakso yang ragu
Dan akhirnya bang tukang bakso ikut di belakang mobil yang Sisil tumpangi. Di gerbang Sisil melapor pada satpam yang sedang bertugas dan meminta izin untuk membawa abang tukang bakso masuk.
Abang tukang bakso berhasil di bawa Sisil masuk ke dalam komplek perumahan. Sisil mentraktir beberpa orang satpam yang sedang berjaga sebagai ucapan terimakasih. Kemudia ia mengajak abang bakso ke rumah Dita.
Sisil tiba di depan rumah Dita, ia turun dari mobil dan menghampiri abang bakso yang juga ikut berhenti. Sisil meminta abang bakso untuk mangkal di bawah pohon rindang yang ada di taman seberang rumah Dita.
Kebetulan rumah Dita berhadapan dengan taman komplek di sana banyak anak anak yang sedang bermain. Para encus sedang ngerumpi sambil menjaga anak majikan. Sisil mentraktir mereka semua hitung hitung membantu abang bakso. Tentu mereka semua sangat senang mendapat traktiran dari Sisil dan abang bakso juga berterima kasih pada Sisil sudah mau memborong dagangan nya.
__ADS_1
" Dita... Dita main yok " Sisil memanggil Dita dari balik pintu pagar yang masih tertutup
" Gk mau" Sahut Dita dari balkon kamarnya yang berada di lantai dua
" Turun gk lo " Tunjuk Sisil pada Dita yang ada di atas
" Ogah " Sahut Dita belum mau turun
" Gue naik nih " Sisil sudah mengambil ancang ancang untuk menaiki pagar tinggi milik rumah Dita
" Gue mager Sil, gk enak badan " Ucapnya malas
" Gk ada, cepet lo turun. Gk usah di manja tuh penyakit " Teriak Sisil dari bawah
Pagar mewah milik keluarga Dita di buka oleh art
" Lama amat si mbak buka nih pager, udah kering nih tenggorokan Sisil teriak teriak " Ucapnya pada sang art
Nining art setia keluarga Dita dari dulu sampai sekarang masih ikut kemanapun keluarga Dita pergi makanya mereka sudah kenal dan akrab.
" Halah pasti mbak Ning lagi dangdutankan di belakang " Tebak Sisil sambil mencebikkan bibirnya
" Tahu aja neng Sisil mah " Ucap Nining tersenyum malu
" Sisil udah hapal kegiatan mbak Ning jadi mbak Ning gk bisa bohong, udah tuh ada bakso mbak Ning mau gk?" Tawar Sisil
" Mau lah kalau soal makanan gratisan mbak Ning gk bakalan nolak " Nining berlari kecil menghampiri abang bakso
Dita keluar dengan membawa empat buah mangkok
" Kok banyak bener bawa mangkok nya? " Tanya Sisil heran
__ADS_1
" Tuh di suruh sama nyonya " Tunjuk Dita pada sang nyonya rumah pakai dagunya padahal tadi Dita sendiri yang menawari kedua orang tuanya
" Ohhhh mama sama papa juga mau? " Tanya Sisil sekarang ia menghampiri orang tua Dita yang sekarang sudah duduk di kursi teras
" Apa kabar mama sama papa? " Tanya Sisil menyalami dan mencium tangan mama dan papa Dita bergantian
" Alhamdulillah baik Sil, kamu sendiri gimana? " Tanya balik mama Dita
" Yang pasi baik ma, orang suara nya aja sampai kedengeran satu komplek " Bukan Sisil yang menjawab tetapi papa Dita yang menjawab
" Hehehe " Sisil cengengesan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Kalian itu udah dewasa masih aja gk berubah " Mama Dita menggeleng kan kepalanya
" Gk bisa berubah ma, itu udah mendarah daging " Celetuk Dita yang membawa dua mangkok berisi bakso pesanan kedua orang tuanya
Kedua orang tua Dita sangat senang jika Sisil datang ke rumah. Rumah mereka terasa ramai dengan kegaduhan mereka berdua. Jika mereka di rumah seisi rumah ikut heboh.
Orang tua Dita sudah menganggap Sisil putri mereka. Mama Dita sering meminta Sisil untuk ikut tinggal bersama
mereka tapi Sisil selalu menolak dengan sopan. Mereka hanya memiliki Dita satu satunya anak mereka.
πΈ
πΈπΈ
πΈπΈπΈ
Terima kasih sudah mampir di novel author ya π
Terima kasih juga buat like nya ππ
__ADS_1
Bantu vote juga ya ππ