Di Kejar Cinta CEO Tampan

Di Kejar Cinta CEO Tampan
rumah keluarga Erik


__ADS_3

Happy Reading 😘


🦩🦩🦩🦩🦩🦩


Seperti yang sudah di katakan oleh Jery bahwa ia akan ikut Ega ke Singapura. Dan benar saja hari ini Jery menepati perkataan nya. Jery dan Ega sudah berada di negara singa itu.


Dua hari yang lalu Dirga dan Dita sudah kembali dari bulan madu mereka. Dan Sisil juga sudah kembali ke kantor Bima kemarin. Tanpa ingin membuang waktu Ega segera bertandang ke Singapura.


Ega ingin menerima undangan dari orang tua Erik, mantan kekasih nya. Ya beberapa hari yang lalu Ega sempat mendapat pesan dari Singapura. Itu adalah pesan yang di kirimkan oleh ibu Erik.


Ibu dan ayah Erik ingin bertemu, ada hal yang ingin mereka sampai kan pada Ega. Mereka sendiri tak bisa menemui Ega ke Indonesia jadi mereka meminta Ega yang datang ke sana.


Mereka sangat senang ketika Ega mengatakan akan datang. Dan mereka meminta Ega agar langsung ke kediaman mereka.


Dan sekarang Ega dan Jery sedang dalam perjalan menuju kediaman keluarga Erik. Ega menatap ke luar jendela ini untuk ke dua kali nya ia pergi ke kediaman keluarga Erik. Dulu saat pertama kali ke sini ia pergi bersama Erik. Dan sekarang ia pergi bersama Jery.


Ega segera menyadarkan diri nya dari lamunan nya. Ia tak mau larut dalam kenangan dulu, ia sadar ada Jery di samping nya, ia tak mau membuat Jery kecewa dan sakit hati.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya Ega dan Jery tiba di rumah mewah milik keluarga Erik. Terlihat ayah dan ibu Erik sedang berdiri di depan rumah mewah itu.


Kedatangan Ega dan Jery sudah di tunggu dan di sambut dengan baik oleh kedua orang tua Erik. Terlihat ibu Erik menangis saat memeluk Ega. Ega mengusap punggung wanita paruh baya itu dengan lembut.


" Nak Ega dan nak... "


" Jery " Ega menyebut nama Jery seolah tahu jika ayah Erik ingin menyapa namu belum tahu nama Jery


" Ya nak Jery, sebaiknya kalian istirahat dulu di dalam " Ayah Jery mengajak mereka masuk


" Ya benar kalian pasti lelah habis dari perjalanan jauh. Bibi sudah menyimpan kan kamar untuk kalian istirahat " Tambah ibu Erik

__ADS_1


Mereka pun masuk ke dalam. Ibu Erik langsung mengantarkan Ega ke kamar tamu yang sudah di siapkan. Sedangkan Jery di antar oleh ayah Erik ke kamar tamu yang tidak jauh dari kamar yang Ega tempati.


" Selamat istirahat nak, nanti bibi akan panggil jika sudah waktunya makan malam " Ibu Erik berkata lembut sambil mengusap pundak Ega, ia mempersilahkan Ega untuk masuk ke dalam kamar. Setelah Ega masuk, ibu Erik menutup pintu dan menghampiri suaminya.


Ega merebahkan tubuh nya di atas kasur. Tubuh nya memang sangat lelah, dan butuh di istirahat kan sejenak. Namun Ega tak bisa memejamkan matanya. Banyak pertanyaan hinggap di kepala nya saat ini. Ega menatap langit langit kamar memikirkan ada apa sebenarnya, kenapa kedua orang tua Erik ingin bertemu dengan nya? Dan kemana nenek lampir, Ega tak melihat batang hidungnya.


Sebenarnya ketika orang tua Erik meminta nya untuk tinggal di kediaman keluarga, Ega sempat menolak. Karena ia tak mau bertemu nenek lampir yang sangat menyebalkan itu. Apa lagi melihat wajah nya yang ketus dan angkuh. Memikirkan nya saja sudah membuat Ega bergedik.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar Ega di ketuk dari luar.


" Maaf nona, nyonya dan tuan sudah menunggu anda di meja makan " Suara salah satu pelayan rumah Erik dari balik pintu


Kebetulan Ega baru selesai membersihkan diri tadi, setelah selesai menyisir rambut nya Ega pun segera keluar untuk pergi ke ruang makan. Tak enak rasanya jika membiarkan tuan rumah menunggu tamu terlalu lama.


Ketika Ega keluar, ia berpapasan dengan Jery yang juga baru keluar hendak ke ruang makan juga. Mereka pun berjalan bersama.


Ternyata benar ibu dan ayah Erik sudah duduk di kursi masing-masing. Ega dan Jery pun langsung duduk di kursi yang sudah di sediakan.


" Kalian sudah datang " Ucap ayah Erik tersenyum hangat ketika melihat mereka berjalan mendekati meja makan, ia pun mempersilahkan Ega dan Jery untuk duduk


" Kalau begitu sebaiknya kita langsung makan saja. Pasti kalian juga lapar kan setelah dari perjalanan tadi " Ajak ayah Erik


" Ya benar sekali tuan. Kami tadi hanya membeli roti untuk mengganjal perut kami " Seloroh Jery dengan sedikit tersenyum

__ADS_1


Ya, Ega dan Jery tadi tak sempat untuk membeli makanan. Karena ketika sampai di bandara, orang suruhan ayah Erik sudah menunggu mereka di sana. Jadi Jery membeli roti yang ada di gerai halaman bandara.


Mereka pun makan dengan khidmat, sesekali ada obrolan kecil. Mata Ega melirik ke kiri dan ke kanan, ia tak melihat keberadaan nenek lampir. Apa nenek lampir sedang tidak ada di rumah? Pikir Ega.


Selesai makan mereka duduk santai di ruang keluarga. Masih berbasa-basi menanyakan kabar. Tak sengaja Ega melihat ada seorang pria berpakaian seperti seorang perawat sedang berjalan melewati ruangan itu.


Kemudian atensi Ega menatap ibu Erik yang masih asik bercengkrama dengan Jery. Walaupun ibu Erik terlihat senyum namun senyuman itu terlihat aneh. Seperti ada kesedihan di sana. Tak jauh berbeda dengan ibu Erik, ayah nya pun juga sama. Ada guratan kesedihan di mata nya.


Tak lama dari pria berpakaian perawatan lewat, Ega kembali melalui orang yang berpakaian sama juga melewati ruangan mereka. Namun kali ini seorang perempuan, perempuan itu membawa nampan di tangan nya dan menuju dapur.


Perawatan perempuan itu memasuki dapur dan bertemu dengan rekannya seorang perawat pria. Ia melihat ke arah nampan yang masih utuh.


" Apa tuan muda tidak mau makan lagi, Jo? " Tanya nya yang di balas dengan hembusan napas kasar oleh perawat pria itu


Pria itu duduk di kursi menyandarkan punggung nya di sana.


" Ternyata menjadi orang kaya itu tidak seenak yang kita bayangkan ya Ros " Seru nya melihat rekan nya yang juga ikut duduk di depan nya


" Ya kau benar Jo. Punya banyak uang tak menjamin hidup kita bahagia. Seperti keluarga ini contoh nya " Balas Rose membenarkan


" Sssttt jangan kencang kencang. Bagaimana kalau ada yang mendengar. Apa kau tak takut kena marah " Ucap Jo seperti berbisik


Jo meletakkan jari telunjuknya di atas hidung Rose, dan ia melihat ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang yang mendengar.


Rose memukul jari telunjuk Jo yang berada di atas hidungnya membuat Jo meringis kesakitan jari nya di pukul. Rose menatap jengkel pada Jo.


" Apa sih, kau duluan tadi yang mulai bicara. Ya aku menimpali saja " Omel Rose


****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2