
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Ketahuilah, terkadang untuk menyelesaikan suatu masalah dirimu harus rela berkorban.
Karena dengan menunjukkan keburukan kita akan tahu siapa yang bisa dijadikan teman sejati. Siapa yang tidak pernah meninggalkan mu disaat dirimu penuh dengan khilaf dan salah.
Memang benar kata orang tua. Jika ingin mengetahui hati seseorang lihatlah bagaimana saat ia sedang MARAH. Lihat bagaimana reaksi dia saat dirimu sedang berbuat salah, cobalah.
Dirimu akan segera tahu siapa yang benar-benar tulus padamu mu.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Tiga hari kemudian.
Hans dan Inayah, terlihat sedang berjalan-jalan disekitar belakang Villa, yang ternyata disana terdapat ladang sayuran. Dan entah mengapa melihat ladang sayuran tersebut, tiba-tiba Inyah teringat akan rumah kecilnya yang berada didaerah ST, yang sudah ia tinggalkan hampir dua Minggu. Dan seketika timbullah dihatinya rasa ingin kembali ke rumah tersebut.
"Nayah? Kamu kenapa? Kok dari tadi bengong sih?" tanya Hans, ketika melihat istrinya yang tiba-tiba terdiam dan hanya memperhatikan ladang sayuran yang berada dihadapannya.
"Eh! Nggak papa kok Bang, hanya saja tiba-tiba Nayah teringat rumah kecil peninggalan Nenek yang di ST. Rasanya Nayah kangen suasana disana," balas Inayah, tanpa melihat suaminya sedikitpun. Karena pandangannya hanya terfokus dengan sebuah gubuk kecil, yang ada ditengah-tengah ladang sayuran tersebut.
Mendengar keinginan Istrinya, seketika Hans langsung meraih tangan Inayah, "Ya sudah ayo kita pulang sekarang," ajak Hans, seraya ia melangkah sambil menggandeng tangannya Inayah. Membuat Inayah terkejut, namun kakinya mengikuti langkah suaminya.
Sesampainya di Villa, Hans langsung mengambil koper mereka. Bermaksud ingin mengemasi baju-bajunya. Namun sepertinya Inayah belum mempercayainya dengan perkataan suaminya tadi.
"Benaran kita mau kembali ke Daerah ST ya Bang?" tanya Inayah, ingin memastikannya lagi.
"Benar dong Sayang, masa kamu nggak percaya sih, sama aku?" balas Hans, yang terlihat ia mulai memasuki baju-bajunya kedalam kopernya.
__ADS_1
"Bukan nggak percaya Bang, cuma inikan udah sore, otomatis nyampenya malamkan? Emang nggak papa ya? Kan Abang tahu, jalanan disana masih banyak yang belum di perbaiki," ujar Inayah mengingatkan Hans.
"Sudah Kamu tenang saja Nayah, jangan kamu pikirkan itu. Sebaiknya kamu bantu aku saja deh, biar secepatnya kita berangkat," balas Hans.
"Ya sudah kalau begitu," kata Inayah, yang akhirnya ia pun membantu Hans mengemasi barang-barang mereka. Setelah selesai tanpa ingin menunda-nundanya Hans langsung membawa koper mereka ke mobil dan menaruhnya di bagasi mobilnya.
Setelah dilihatnya Inayah telah masuk ke mobil. Hans pun segera masuk ke mobil dan tak berapa lama, mobil pun mulai melaju meninggalkan Villa milik Ardiyan. Disela-sela perjalanan mereka.
"Sebaiknya kamu tidurlah Nayah, kamu pasti lelahkan?" ujar Hans, sepertinya ia berharap sekali, agar Inayah segera tidur. Agar ia bisa mempercepat laju mobilnya.
"Emangnya nggak papa kalau Nayah tidur Bang?" tanya Inayah tampak ragu.
"Nggak papa dong Sayang, jadi tidurlah, nanti kalau sudah sampai, Aku pasti bangunkan kamu,"
"Hmm... baiklah kalau begitu, Nayah nggak akan sungkan lagi, kebetulan banget Nayah dah ngantuk," balas Inayah, yang kemudian ia mencari posisi nyamannya agar ia bisa tertidur. Hans tersenyum tipis, melihat tingkah istrinya yang sedang mencari posisi nyamannya sampai mengedusel-dusel sandaran kursinya. Dan tak berapa lama ia pun mulai memejamkan matanya.
Bahkan, ia juga sudah mulai memasuki area perkebunan teh, yang artinya sudah mendekati Rumah kecil Inayah. Dan tak berapa lama kemudian mobilnya pun berhenti, bertepatan dengan Inayah membuka matanya.
"Eh, sudah sampai ya Bang?" tanya Inayah, dengan mata yang masih terlihat memerah. Dan seketika ia melihat rumah peninggalan sang Nenek, "Loh kok rumahnya?" lanjutnya terlihat bingung saat melihat rumah kecilnya telah berubah.
"Kenapa Nayah? Apakah kamu tidak suka?" tanya Hans, seraya ia membuka sabuk pengaman Inyah.
"Ini benarkah Rumah Nenek Bang? Apakah kita tidak salah berhenti?" tanya Inayah yang terlihat masih kebingungan.
"Tidak salah Kok Nayah, ini memang rumah nenek kamu. Hanya saja beberapa hari yang lalu Aku meminta seseorang untuk direnovasi. Gimana apakah kamu suka?" jelas Hans.
"Ooh, suka kok Bang, cantik," kata Inayah yang matanya masih tertuju pada rumahnya.
"Alhamdulillah, ya sudah ayo kita turun," ajak Hans, yang kemudian ia pun turun dari mobilnya, dan langsung melangkah ke begasi mobilnya untuk mengambil tas-tas mereka. Setelah itu ia pun membawanya.
__ADS_1
"Ayo Nayah kita masuk," ajak Hans lagi, sambil ia menenteng tas kopernya.
"Baiklah Bang," balas Inayah, lalu ia pun mengikuti langkah Hans, memasuki rumah tersebut.
Sesampainya di dalam, Inayah langsung tercengang saat melihat perubahan pada rumah Neneknya itu, "Maa shaa Allah, cantiknya," ucapnya dengan mata yang terlihat berbinar.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya, tapi Aku merenovasi sedikit saja kok, makanya kamar tetap satu, tetapi sekarang sudah ada kamar mandinya, kamu mau lihat?"
Mendengar Hans menyebutkan kamar, seketika wajahnya Inayah langsung berubah memerah. "Eh, nanti saja Bang! Soalnya Naya ingin melihat dapurnya dahulu," balesnya lalu ia langsung buat gagas menuju dapur. Hans tersenyum tipis, melihat tingkah malu istrinya.
"Hmm.. semakin menggemaskan. Rasanya aku sudah kecanduan dengannya. Sehingga melihatnya seperti itu, tubuhku langsung bereaksi," batin Hans, yang akhirnya ia menyusul Inayah yang berada di dapur.
Sesampainya di dapur, ia melihat Inayah masih tercengang melihat perubahan dapurnya, karena sudah tidak ada tungku hitam yang biasanya memasak memakai kayu. Kini yang ada hanya kompor gas, bahkan peralatan masaknya kini sudah berganti dengan yang baru.
"Gimana Nayah? Apakah kamu menyukai dapur barunya hm?" tanya Hans, seraya melingkarkan tangannya di pinggang Inayah dari belakangnya.
"Eh, su-suka kok Bang, jadi sangat bersih," balas Inayah, terlihat canggung.
"Alhamdulillah, ya sudah sekarang ayo kita lihat kamarnya," ajak Hans yang langsung menarik tangan istrinya, menuju ke kamar mereka.
"Aaah!" pekik Inayah karena Hans, menariknya secara mendadak, membuat Inayah begitu terkejut, karena entah mengapa Inayah Ia mulai merasa takut, "Aah.. Bang lepaskan, Nayah belum ingin melihat kamarnya!" teriaknya, sambil berusaha melepaskan tangannya Hans, yang menggenggam tangannya.
"Kenapa Nayah? Mengapa kamu seperti takut begitu?" tanya Hans seraya ia menghentikan langkahnya.
"Iya Nayah takut! Habisnya Bang Hans kalau dikamar, selalu maunya itu saja! Nggak tahu apa, itunya Nayah sakit!" seru Inayah, yang akhirnya ia mengungkapkan penyebab rasa takutnya Inayah.
"Eh, maaf Nayah! Maafkan aku, karena tidak tahu, ya sudah mulai sekarang aku tidak akan maksa kamu lagi, jadi maafkan aku ya?" balas Hans dengan lembut, ia terlihat merasa bersalah, karena selama ini hanya mementingkan hasratnya saja tanpa memikirkan perasaan Istri.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1