GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
JANJI HANS.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Kalam Ulama 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Semua ibadah itu awalnya mesti dipaksakan dan dilatih. Tengahnya adalah kebiasaan dan kemudahan. Dan akhirnya adalah kenikmatan dan ketergantungan. Jadi biasakan hal-hal yang baik sebab walau awalnya berat tapi akhirnya nikmat, Bermanfaat pula didunia dan akhirat."


[ Al Habib Umar Bin Hafidz ]


❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ❤


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Seperti biasanya, Inayah akan tersentak disaat menjelang subuh. Dan biasanya ia akan langsung terduduk walaupun matanya masih terpejam. Namun kali ini ketika ia hendak duduk, tubuhnya terasa begitu nyeri, apalagi dibagian intimnya. Sehingga tanpa sadar ia pun terpekik. Sehingga membuat Hans seketika terbangun.


"Aakh!"


"Ada apa Nayah?" sentak Hans, terlihat panik. Melihat wajah panik Hans, Inayah pun tak berani mengungkapkan rasa sakitnya.


"Aah, tidak apa-apa kok Bang, tadi Nayah hanya...hanya..." Inaya nampak bingung untuk mencari alasan mengapa ia terpekik.


"Hanya apa Nayah? Apakah kamu bermimpi buruk?" tanya Hans lagi.


"Eh, i-iya Bang, maaf ya Abang jadi kebangun," balas Inayah, terlihat gugup karena merasa bersalah telah berbohong pada suaminya, "Ya sudah, sebaiknya Abang tidur saja lagi," lanjutnya lagi seraya memberikan senyuman manisnya pada Hans.


"Hmm, bukankah sebentar lagi subuh ya?" balas Hans, seraya ia melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya, "Hmm..dua lima menit lagi ya? Ah kalau begitu aku tidur sepuluh menit lagi deh, soalnya masih ngantuk," lanjut Hans, lalu ia pun menghempaskan kepalanya kebantalnya, sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Melihat suaminya kembali memejamkan matanya, Inayah pun tersenyum, "Apakah Bang Hans, begitu lelah karena tadi malam..hmm.. kalau ingat tadi malam, sepertinya bukan Ana saja yang kesakitan. Tapi Bang Hans juga, tapi syukurlah, semua terlewati dengan.." batin Inayah. Ia langsung tersenyum malu, karena sepertinya ia teringat akan akan percintaan pertamanya ia dan Hans.


"Astaghfirullah, apa yang ku pikirkan sih? Ah, sebaiknya Ana segera mandi, bantu keburu Adzan subuh lagi," batinnya lagi. Lalu dengan perlahan ia pun beranjak dari tempat tidurnya. Dan baru saja ia ingin melangkahkan kakinya.


"Aaaakh!! Astaghfirullah!" pekiknya, tanpa sadar. Dan otomatis Hans kembali terduduk. Karena memang tidurnya belum nyenyak sekali. Sehingga ia langsung tersentak saat mendengar pekikan Inayah.


"Nayah?! Kamu kenapa?" tanyanya, seraya ia turun dari tempat tidurnya. Dan langsung menghampiri Inayah.


"Hiks.. sakit Bang..hiks.. nggak bisa jalan," keluh Inayah, yang akhirnya Air matanya tumpah dan membasahi pipinya.


"Sakit banget ya? Ya sudah sini Aku gendong ya?" kata Hans, dan tanpa menunggu balasan dari istrinya Hans, langsung menggendong tubuh Inayah, membuat Inayah terkejut.


"Aakh!" sentaknya dan dengan spontan ia langsung melingkarkan tangannya dileher Suaminya.


"Sebaiknya kamu berendam air hangat dulu ya? Agar mengurangi rasa sakitnya," kata Hans, dan ia pun membawa Inayah ke kamar mandi dan langsung menurunkannya didalam bathtub. Lalu ia pun menarik selimut yang melingkar di tubuhnya Inayah.


Dahi Hans, langsung berkerut mendengar perkataan Inayah, "Malu? Emangnya ada bagian yang belum Aku lihat, Nayah? Bahkan Aku sudah hapal dengan seluruh lekuk tubuhmu! Apa masih bisa berkata malu hm?" balasnya, seraya ia mendekati wajahnya ke wajah Inayah. Sambil tangannya menarik kembali selimut Inayah. Yang akhirnya Inayah pun membiarkan selimutnya diambil oleh Hans. Akan tetapi kedua tangannya langsung menutupi bagian dadanya serta bagian bawahnya.


Hans pun tersenyum tipis, melihat tingkah malu istrinya itu. Lalu ia pun menghidupi kran air hangatnya. Dan selagi menunggu air bathtub penuh, Hans pun menuangkan sabun cair dengan essential oil dan aromaterapi kedalam bathtub. Sehingga timbullah buih dipermukaan airnya. Setelah, batas air yang berbuih tersebut mencapai diatas dadanya Inayah. Hans pun langsung mematikan kran airnya.


"Apakah sekarang terasa lebih baik Nayah?" tanya Hans dengan lembut.


"Hu"um, wangi sabunnya juga bikin nyaman," kata Inayah, sambil menyandarkan kepalanya dipinggir bathtub, seakan ia sedang menikmati aroma yang tercium pada buih-buih yang kini menutupi dadanya. Hans tersenyum melihatnya, yang terlihat tidak canggung lagi dengan keberadaannya.


"Hmm..Aku kok jadi ingin merasakannya ya? Aku ikut masuk ya Nayah?"

__ADS_1


Mendengar perkataan Hans, mata Inayah langsung terbelalak, "Jangaaa.....!" teriaknya. Namun terhenti, karena ia sudah melihat Hans, sudah berada didalam bathtubnya tepat dihadapannya.


"Hah.. ternyata benar, ini sangat nyaman ya?" kata Hans, dengan tampang tanpa berdosanya. Membuat Inayah tak bisa mengeluarkan kata-katanya lagi. Dan akhirnya ia pun membiarkan Hans berada di bathtub yang sama dengannya.


Karena pada saat Inayah ingin protes, ia malah melihat Hans sedang memejamkan matanya. Makanya ia berpikir tidak akan masalah, bila ia ikut memejamkan matanya juga. Dan akhirnya ia pun ikut memejamkan matanya untuk menikmati harumnya aroma terapi. Namun baru beberapa detik saja ia terpejam, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menjalar ditubuhnya. Dan dengan spontan ia pun membuka matanya.


"Aah..Bang Hans..? Apa yang hm.. kamu lakukan..ukh..?" tanya Inayah, dengan tubuh, mulai menggeliat karena sebuah sentuhan yang menjalar tubuhnya, yang sudah pasti itu ulah dari suaminya sendiri.


"Ah..Nayah, Aku menginginkannya lagi.." balas Hans, dan langsung meraih bibir Inayah dengan lembut. Sehingga membuat Inayah akhirnya ikut terhanyut dalam kelembutan tautan bibir yang diciptakan oleh Hans. Sehingga tanpa sadar tangannya sudah melingkar di leher Hans.


Mendapatkan respon dari istrinya, Hans pun nggak mau melepaskan kesempatan tersebut. Dan mulai menggencarkan serangannya Sehingga pertempuran panas didalam bathtub pun tak bisa terhindarkan lagi. Nampak jelas keduanya sama-sama begitu menikmatinya. Bahkan rasa sakit yang Inayah rasakan, tak terhiraukannya lagi. Karena telah terbuai dalam mahligai percintaannya.


Karena memang waktunya begitu sempit, membuat pertempuran tak berlangsung lama. Karena memang keduanya memiliki kewajiban yang harus segera dilaksanakan, sebagai seorang hamba. Setelah keduanya membersihkan diri dan berwudhu. Mereka pun langsung melaksanakan kewajibannya, secara berjamaah. Dan Hans sebagai Imam, karena mungkin ia sedang lelah, makanya ia memilih sholat berjamaah dengan istrinya.


Setelah selesai Inayah langsung meraih, tangan suaminya dan mengecupnya dengan lembut. Sedangkan Hans, membalasnya dengan cara mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih Nayah, terima kasih telah menjadi penyempurna agamaku," ucapnya seraya ia menyatukan dahinya ke dahinya Inayah.


"Sama-sama Bang, Nayah juga mau ucapin terima kasih banyak, karena Abang mau menerima Nayah apa adanya. Dan Nayah begitu bersyukur banget, karena disaat orang tua Nayah..." Belum lagi habis Inayah, menyelesaikan perkataannya. Jari telunjuknya Hans, sudah mendarat di bibirnya Inayah.


"Sssth.. jangan diteruskan lagi. Nayah, kamu tidak sendirian, kamu sekarang punya Aku. Dan aku berjanji akan membahagiakan kamu, hingga akhir hayatku. Bahkan hingga Jannah Nayah," kata Hans, seraya ia memegang wajah istrinya.


Mendengar janji Hans, Air mata Inayah pun mengalir begitu saja. Dan ia pun langsung memeluk tubuh Hans begitu erat, seraya ia berkata.


"Aamiin, Aamiin, Aamiin yaa Allah..hiks..hiks.. terimakasih Bang."

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉.


__ADS_2