
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
DUNIA ADALAH NEGERI UJIAN
Ini di dunia! Bukan di surga!
Tidak ada pertemanan yang tanpa perselisihan,
Tidak ada pekerjaan yang sepenuhnya nyaman,
Tidak ada wajah dan fisik yang selalu sempurna. Tidak ada pernikahan yang tanpa pertengkaran. Dan tidak ada kehidupan yang sepenuhnya indah.
Karena Dunia adalah negeri ujian. Selama kita masih hidup, maka Allah akan terus menguji kita
Nabi ﷺ bersabda:
“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” [HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399]
Maka bersabarlah dan bebaskan pikiranmu dari harapan semuanya ingin sempurna. Karena segalanya ada penderitaannya. Segalanya ada kekurangannya. Segalanya ada ujiannya,
Jalani hidup sebagaimana mestinya tanpa berambisi. Dengan demikian engkau akan merasa tenang. Sebab hidup akan terasa lapang tatkala kamu menyikapinya bahwa kehidupan dunia memang penuh ujian dan pasti ada kekurangan.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••
__ADS_1
Setelah mengetahui keberadaan Istrinya, lewat penjaga gerbang dirumahnya. Hans pun langsung mengarahkan mobilnya menuju Kepondok pesantren An-Nur milik Ustadz Khairul. Dan setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Akhirnya mobilnya Hans pun mulai memasuki area pondok pesantren tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya, Hans pun langsung bergegas turun. Namun baru saja ia menutupkan mobilnya tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Dan dengan spontan ia pun langsung menoleh kebelakang, dan terlihatlah olehnya seorang pria tua berjubah dan bersorban putih sedang tersenyum lembut padanya.
"Eh! Abi? Assalamu'alaikum Bi, apa kabar Bi?" ucap Hans, seraya ia menyalami serta mengecup tangan pria tua tersebut, yang tak lain adalah Ustadz Khairul.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, Alhamdulillah Abi baik Nak. Kamu sendiri gimana kabarnya? Sudah lama jugakan kamu tidak lemari?" balas Ustadz Khairul, dan kembali bertanya pada Hans.
"Iya nih Bi, tapi Alhamdulilah, Hans baik juga kok Bi," balas Hans, merasa tidak enak, saat disindir sudah lama tidak ke Pondok.
"Alhamdulillah, Syukurlah kalau begitu. Abi senang mendengarnya. Ya sudah ayo kita masuk," ajak Ustadz Khairul, seraya ia menggandeng tangan Hans.
"Maaf Bi, Hans datang ke sini karena ada perlu sama Nayah Bi. Nayah ada di sinikan Bi?" balas Hans sedikit merasa tidak enak hati lagi, karena menolak ajakan Ustadz Khairul. Namun karena ia masih kepikiran sama istrinya, ia pun terpaksa menolaknya.
"Ooh.. ada kok ada. Mungkin dia saat ini dia sedang mengajarkan ngaji anak-anak santri kalong, di Aula sebelah sana Nak," ujar Ustadz, Khairul, seraya ia menunjuk sebuah Aula yang berdekatan dengan masjid.
"Pergilah Nak," balas Ustadz Khairul dengan singkat.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Bi, kalau begitu Hans kesana ya?" ucap Hans, senang.
"Sama-sama Nak, pergilah."
Setelah mendapatkan jawaban dari Ustadz Khairul, Hans pun langsung bergegas pergi menuju Aula yang ditujukan oleh Ustadz Khairul tadi. Sesampainya di sana di aula tersebut, Hans tampak ragu, saat melihat ada beberapa wanita bercadar disana yang sedang mengajar. Di tambah lagi posisi mereka semua sedang duduk di depan meja untuk mengaji membuat Hans, sulit untuk melihat perut mereka.
Yaa bagi Hans, untuk membedakan istrinya dari para wanita bercadar lainnya adalah perutnya, karena setaunya hanya istrinya sajalah yang memiliki perut besar Karena kehamilannya. Dan disaat ia masih memperhatikan para wanita bercadar itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara anak kecil yang memanggil namanya.
__ADS_1
"Uncle Hans! Sedang apa Uncle berdiri di sini?"
Mendengar suara anak kecil tersebut, Hans pun langsung menoleh ke sumber suara tersebut, "Eh, Yumna!" sentak Hans, kala ia melihat seorang gadis kecil, yang sedang melipat tangannya di bawah dadanya, "Oh.. itu Uncle sedang mencari Ustadzah Inayah, bisa tidak Yumna panggilkan Ustadzah Inayah?" lanjut Hans lagi.
"Oooh.. jadi uncle yaa yang sudah membikin Ustadzah Inayah nangis ya?" tanya si kecil Yumna, seraya ia berkacak pinggang dan memasang wajah sinisnya pada Hans.
Hans yang melihat tampang Yumna, langsung menaikkan sebelah alisnya, "Ay..! Nih bocah masih kecil gayanya udah kayak orang dewasa aja sih! Sok modele!" gerutu Hans, mulai kesal. Karena memang saat ini pikirannya sedang sedikit kacau.
"Apa yang Uncle bilang? Sok modele?" tanya Yumna, yang ternyata ia mendengar gerutuannya Hans, "Perasaan, Umnah nggak merasa jadi model kok Uncle! Jadi Uncle jangan bilang, Umnah sok jadi model deh!" lanjut Yumna, kembali berkacak pinggang.
"Ay! Siapa juga yang bilang Yumna itu jadi Sok jadi model sih? Orang tadi Uncle cuma bilang sok modele, itu artinya... Aah... ngapain gue jadi ngurusin ini sih?" balas Hans, seraya ia menepuk dahinya, "Haiis.. begini ya Yumna, Uncle saat ini sedang terburu-buru! Jadi apakah Yumna tahu dimana Aunty Inayah?" tanya Hans, langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Umna tau sih, Aunty Nayah dimana! Cuma saja kata Aunty, jangan kasih tau siapa-siapa, kalau ada dipondoknya, gitu Uncle!" kata Yumna yang tanpa sadar ia sebenarnya sudah memberitahu dimana Inayah berada. Mendengar perkataan Yumna, Hans pun langsung tersenyum lucu.
"Ooh, Begitu ya? Ya sudahlah kalau begitu lupakan saja! Sekarang sebaiknya Yumna lanjutkan lagi gih ngajinya. Tapi sebelumnya uncle ucapkan terima kasih ya Sayang, sekarang masuklah," kata Hans, berharap Yumna segera pergi, karena ia ingin secepatnya menemui istrinya.
"Oke uncle sama-sama, kalau begitu Umna masuk dulu ya?" pamit Yumna.
"Iya Sayang, pergilah," balas Hans, lalu Yumna pun langsung bergegas masuk. Sedangkan Hans langsung bergegas pergi menuju ke pondoknya Inayah yang letaknya berada di belakang Pondok para santriwati, tepatnya pondoknya berasa di Area perkebunan teh, yang masih kawasan pondok juga.
Saat Hans sedang berjalan menelusuri jalan di pematang perkebunan teh tersebut. Tiba-tiba saja ia teringat pada Naazwa, "Aah.. kok gue jadi ingat Yumna ya? Dulukan dia sering banget ngajak gue jalan-jalan kesini," gumam Hans, yang terlihat ia sudah menghentikan langkahnya di tengah-tengah perkebunan teh tersebut. Namun tatkala ia sedang menikmati keindahan sekitarnya tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari belakangnya.
"Ooh.. jadi ceritanya Bang Hans lagi kangen yaa? Sama ukhty Yumna?"
...•┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈•...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰