
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
SELF REMINDER
"Rencana Allah Lebih Baik. Tak perlu menjerit karna sakit. Tak perlu cemburu hanya karna kau tak mampu. Tahukah kamu? Kebahagian tak pernah tertukar, Meski hidup dihadapkan dengan pilihan sulit. Tapi percayalah Allah selalu punya cara sendiri Untuk membuatmu bahagia."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Sesuai yang diperintahkan oleh Ardiyan, Hans langsung kembali ke daerah ST. Dengan perasaan yang bercampur aduk. Antar senang dan juga sedih. Ia begitu senang saat Ardiyan menyuruhnya kembali ke St. Terapib sebenarnya ia juga sedih. Karena pada akhirnya ia harus merelakan pekerjaannya diambil orang lain. Yang artinya, ia tak lagi menjadi Asistennya Ardiyan. Padahal ia sudah cukup lama menjadi Asisten Ardiyan.
Yaa semenjak Dimas menjadi seorang CIO diperusahaannya sendiri. Hans yang pada saat itu adalah orang kepercayaan Rusdi, kakeknya Ardiyan, langsung ditugaskan menggantikan Dimas selaku Asistennya Ardiyan. Dan semenjak itu ia tak pernah terpisahkan dengan Ardiyan. Ia akan selalu mengikuti Ardiyan kemampuan dan tak pernah cuti sekalipun itu hari besar. Jadi wajar saja kalau saat ini ia merasakan sedih saat mendengar ia harus bekerja didaerah ST, bila Inayah tak juga ingin kembali ke kota.
Tiga jam sudah Hans melakukan perjalanannya menuju daerah ST. Dan kini mobilnya sudah memasuki area perkebunan teh. Yang artinya mobilnya sudah mendekati rumah kecilnya Inayah. Dan ketika jarak tinggal beberapa meter lagi, mata Hans, tiba-tiba melihat sosok wanita bercadar yang terlihat sedang berjalan kearah berlawanan dengannya, ia juga membawa tas ransel, dengan langkah yang terlihat tergesa-gesa.
"Inayah? Bukankah itu Inayah?" gumam Hans, seraya ia memberhentikan mobilnya, lalu ia pun segera turun, "Inayah?!" panggilnya, dan seketika wanita itu pun berhenti dan langsung menatap Hans.
"Bang Hans!" sentak wanita itu, yang ternyata dia memang Inayah. Melihat Hans didepan matanya seketika ia menjatuhkan tas ranselnya lalu ia pun berlari ke arah Hans, dan langsung memeluknya.
"Ada apa Nayah?" tanya Hans terlihat cemas, karena ia dapat merasakan tubuh Inayah yang sedang gemetaran.
"Na-yah ta-takut Bang! Ada dua orang pria yang begitu mencurigakan jadi tadi Nayah pukul kedua Pria itu!" adu Inayah, dengan suara yang juga terdengar bergetar.
"Dua Pria?" gumam Hans, "Hmm.. sepertinya mereka bodyguard yang aku suruh menjaga Inayah! Ah sudahlah biarkan saja Inayah menyangka mereka orang jahat! Jadi ini kesempatan aku bisa membawanya ke villa DT. Tapi sebelum coba aku pancing dia mau nggak kembali ke kota," batin Hans seraya ia tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita kembali ke kota saja ya Nayah? Kamu maukan?" tanya Hans dengan lembut.
"Tidak! Nayah tidak mau ke kota Bang! Lebih baik Nayah tinggal dirumahnya paman Bibi Nayah dari pihak Abi, untuk sementara ini. Walaupun dia cerewet tapi dia baik kok," balas Inayah, seraya ia melepaskan pelukannya. Membuat Hans nampak kecewa.
"Ya sudah kalau begitu kita villa temanku saja ya? Jangan kerumah Bibi kamu, takut merepotkan mereka," kata Hans seraya ia mengambil tas ransel milik Inayah, yang tadi sempat ia jatuhkan.
"Villa teman Bang Hans? Apakah itu tidak merepotkan mereka Bang?" tanya Inayah, yang terlihat ada keragu-raguan pada raut wajahnya.
"Tidak! Karena mereka tidak tinggal disana. Ya sudah sekarang kamu naiklah," kata Hans seraya ia membuka pintu mobil bagian depannya. Dan karena masih ada rasa takut akan penjahat, akhiirnya Inayah pun menaiki mobilnya Hans.
Setelah Inayah masuk mobil, Hans pun langsung memasuki mobilnya dan duduk di belakang kemudinya. Setelah semuanya siap ia pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju daerah DT yang jaraknya hanya tinggal satu jam bila dari daerah ST. Ditambah lagi saat diperjalanan suasana begitu hening, nambah Hans menjadi fokus dalam mengemudinya. Sehingga tak sampai satu jam, mobil Hans sudah terparkir di sebuah villa dengan pemandangan yang begitu indah. Karena villa tersebut berdiri tepat didepan Danau T.
"Kita sudah sampai, turunlah Inayah," ujar Hans, mengejutkan Inayah, yang ternyata ia sedang terpesona dengan suasana DT, yang terlihat begitu indah.
"Aah! I-iya Bang," sentaknya, lalu ia pun langsung turun. Sedangkan Hans mengambil barang-barang mereka, yang ia letakkan di bagasi mobil.
"Ayo Nayah kita masuk!" ajak Hans, yang mulai jalan terlebih dahulu dengan membawa kedua tas miliknya dan milik Inayah.
"Iya Bang," balas Inayah, dan ia pun mengikuti langkah Hans dari belakang, "Kok Villa ini tetap bersih bang? Apakah didalam ada orangnya?" tanya Inayah, saat ia melihat sekeliling villa yang nampak bersih.
"Tidak ada! Hanya saja setiap dua hari sekali, istri penjaga villa ini selalu membersihkannya. Dan kebetulan mereka tinggal dibelakang villa," kata Hans seraya ia membuka pintu villa, "Sudah ayo masuk," ajak Hans lagi, sambil mengambil tasnya kembali yang tadi sempat ia taruh dibawah karena harus membuka pintu yang sedang terkunci.
Setelah berada didalam, ia langsung menuju ke lantai dua, dan Inayah masih mengikutinya. Hingga mereka sampai di depan pintu sebuah kamar, kembali Hans membuka pintu kamar tersebut. Dan terlihatlah isi kamar tersebut, dengan nuansa serba putih, terlihat begitu luas, serta ranjang yang begitu besar, dengan seprei berwarna putih juga. Inayah nampak terkesima melihat kamar tersebut.
"Masuklah Nayah, mengapa hanya berdiri di depan pintu gitu?" ujar Hans, membuat Inayah tersadar dari rasa kagumnya pada kamar tersebut.
__ADS_1
"Ah! Iya Bang," Inayah pun memasuki kamar tersebut dengan perlahan, ia juga terlihat masih canggung terhadap Hans, membuat Hans sadar akan itu.
"Ya sudah kamu rapikan baju-baju kita ke lemari itu ya? Aku mau keluar sebentar, untuk mencari makanan untuk kita. Kamu nggak papakan, aku tinggal sendiri di sini?" tanya Hans dengan lembut.
"Iya, nggak papa kok Bang, pergilah," balas Inayah
"Ya sudah aku tinggal ya? Nanti kalau kamu sudah selesai, mandilah, disana kamar mandinya," kata Hans lagi sambil ia menunjukkan sebuah pintu yang sudah pasti itu kamar mandi.
"Iya Bang,"
"Ya sudah aku tinggal ya? Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu"
Setelah mendapatkan jawaban salamnya, Hans pun berlalu pergi meninggalkan Inayah seorang diri dikamar, yang masih sangat asing baginya. Setelah Hans hilang dibalik pintu kamar tersebut. Inayah terlihat menghelakan nafasnya.
"Hufft.. leganya!" gumam Inayah setelah ia membuka cadarnya, "Hah! Rasanya sulit banget bernafas kalau didekat Bang Hans. Ditambah lagi detakkan jantung Ana, semakin nggak menentu membuat Ana jadi serba salah deh!" gumamnya lagi.
"Benarkah itu Nayah?" Inayah hampir terjungkal saat mendengar suara bariton tepat ditelinganya. Dan untungnya sebuah tangan langsung menangkap tubuhnya. Sehingga kini ia telah berada didalam pelukan seseorang, dan mata Inayah langsung membulat saat melihat wajahnya.
"Bang Hans? Mengapa kembali lagi?" sentak Inayah begitu terkejut. Dan sepertinya ia belum sadar kalau dirinya masih didalam pelukan suaminya sendiri.
"Dompetku ketinggalan ditas itu, jadi aku kembali lagi. Hem.. sekarang katakan, apakah benar kamu merasakan hal yang sama denganku Nayah? Apakah jantungmu berdebar juga seperti yang aku rasakan sekarang?" tanya Hans dengan tatapan yang begitu melekat pada wajah cantik Inayah. Sehingga mata Inayah ikut terpaku pada tatapan matanya Hans. Namun ia sempat menganggukkan kepalanya sedikit.
Degup jantung Hans terasa semakin kencang, saat Inayah membalas tatapannya. Apalagi saat melihat bibir mungilnya Inayah nan merah alami. Membuat ia ingin segera merasakannya.
__ADS_1
"Hmm..Nayah bolehkah aku merasakan ini?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...