
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Bahagia itu adalah hak setiap orang, dan juga yang seringkali di cari selama manusia masih hidup di bumi ini. Bahkan kebahagiaan seringkali di capai dengan segala cara dan dimaknai dengan hal-hal duniawi, salah satunya dengan materi dan status sosial.
Bagi seorang muslim standar kebahagiaan tentunya yang selaras dengan keridhoan Allah, makin disyukuri makin ditambah nikmatnya. Ukuran kebahagiaan pun tak selalu dengan perolehan materi duniawi.
Bahagia itu adalah hak, namun yang perlu diingat jangan sampai kita meraih kebahagiaan tapi ada hak-hak orang lain yang kita singkirkan, jangan sampai pula kita berbahagia diatas penderitaan orang lain.
Dalam hadits Rasulullah Saw mengecam orang yang menampakkan sikap asy-syamaatah:
لَاتظهرِ الشَّماتَةَ لأخيك فيرحمُه اللهُ ويبتليكَ
“Janganlah kau tunjukkan kebahagiaan atas penderitaan yang menimpa saudaramu. (Jika kau lakukan itu) Allah akan mengasihinya dan akan memberikan musibah kepadamu.”
(HR. At-Tirmidzi)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••
Keesokan harinya.
Tampak Hans dan Inayah sudah bersiap-siap untuk berangkat pergi ke Hotel. Walaupun Hans sudah mendapatkan penjelasan dari istrinya. Namun tetap saja ia masih ada ke engganan, di dalam dirinya. Dan itu sangat terlihat jelas, dari wajahnya, yang tampak tidak senang.
"Wajah Abang kok cemberut lagi sih?" tanya Inayah, ketika ia melihat Hans sedang duduk menunggu dirinya didepan teras rumah mereka.
__ADS_1
Mendengar suara istrinya yang baru saja muncul dari dalam, Hans tampak sedikit terkejut. "Eh! Nggak papa kok Sayang. Hanya saja, Abang kok merasa males banget ya, mau pergi ke hotel? Apa sebaiknya kita tidak usah pergi aja ya?" balas Hans, apa adanya.
"Iiiis, Abang jangan begitu akh! Nayah tahu Abang tidak suka tempat itu. Dan jujur Nayah juga tidak suka kok Bang, tapi karena semua sudah dipersiapkan oleh Pak Brian. Jadi kita harus menghargai beliau dong, maka dari itu, ayo kita berangkat sekarang Bang," ujar Inayah dengan lembut, seraya ia menarik tangan Suaminya agar ia mau bangkit dari duduknya.
"Haiiis..baiklah Sayang! Ya sudah ayo kita berangkat," Hans pun akhirnya menyerah dan dengan pasrah akhirnya ia bangkit dan mengikuti langkah istrinya menuju ke mobil mereka.
Setelah keduanya masuk, Hans pun langsung mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil mereka tak banyak bicara, karena sepertinya keduanya sedang terhanyut dalam pemikiran mereka masing-masing. Hingga tanpa terasa, mobil Hans akhirnya memasuki area perparkiran hotel. Setelah mobil terparkir Hans tak langsung turun dari mobilnya.
"Kok malah diam Bang? Apakah kita hanya akan diam di dalam mobil sajakah?" tegur Inayah, sedikit bingung dengan sikap suaminya itu.
Mendengar pertanyaan Istrinya Hans pun menghembuskan nafas beratnya, Ia terlihat begitu serba salah. Disatu sisi ia tidak ingin mengecewakan istrinya. Disisi lainnya ia begitu berat untuk memenuhi keinginan Rio. Karena didalam pemikirannya Hans, Rio melakukan itu, seperti hendak pamer padanya. Karena waktu ia mempersiapkan pernikahannya pada Naazwa, terbilang sangat sederhana. Dan bahkan mereka mengadakan acara walimah'urs hanya di pondok pesantren An-Nur saja.
"Sebenarnya ada apa sih Bang? Kok dari tadi cuma menghela nafas aja?" tanya Inayah lagi. Ia benar-benar tampak bingung melihat sikap Suaminya itu.
"Silahkan turun pengantinku," ujar Hans, seraya ia mengulurkan tangannya pada Inayah. Dan langsung disambut oleh Inayah. Dengan mata yang terlihat menyipit, pertanda kalau ia sedang tersenyum sambil menatap wajah suaminya. Setelah itu keduanya langsung berjalan, menuju pintu lobiy hotel. Dan baru saja mereka hendak memasuki pintu lobiy tiba-tiba, muncul dari dalam dua orang wanita bercadar.
"Ya ampun, ini pengantinnya jam segini baru datang sih? Ya sudah ayo ikut kami!" kata Salah satu wanita bercadar tersebut. Lalu keduanya langsung menarik tangan Inayah, dan langsung membawanya pergi. Sementara Hans terpelongo saat istrinya dibawa oleh kedua wanita bercadar tersebut. Saat mereka menghilang di balik pintu lift, Hans baru tersadar.
"Eh! Mereka mau membawa Inayah kemana tuh? Hai tunggu!!" teriak Hans, seraya ia bermaksud mengejar Istrinya. Namun tiba-tiba saja kedua tangannya ditahan oleh dua orang.
"Eeeeh...! Mau kemana Lo? Ayo cepat ikut kami!"
Melihat tangannya ditahan Hans Langsung menoleh ke samping kanan dan kirinya, "Pak Dimas? Pak Dika?!" sentak Hans ketika ia melihat wajah dari orang yang menahannya, "Eh eh, saya mau dibawa kemana Pak?" tanyanya ketika Dimas dan Dika yang tanpa basa-basi langsung. menarik dirinya.
"Jangan banyak tanya! Ikut kami saja!" bentak Dimas, sambil memberikan tatapan tajam pada Hans. Membuat Hans, tidak bisa berkutik lagi dan hanya mengikuti langkah mereka saja. Sesampainya disebuah ruangan kecil, tampak Ardiyan sudah berasa disana dengan seorang pria yang terlihat asing di mata Hans.
__ADS_1
"Ini pengantinnya Joy! Cepat permak dia!" Kata Dimas, seraya ia memaksa duduk Hans, didepan meja rias. Dan pria yang dipanggil Joy, itu pun langsung menghampiri mereka. Hans mengerutkan keningnya, saat melihat wajah Joy yang terlihat begitu sangar. Namun seketika wajahnya langsung berubah ketika sudah berada di dekat Dimas
"Ugh..tipe Eyke, banget sih yey. Eyke, sangat suka lekong yang kaya beginian loh Mas, Dimas. Yey tahu banget ya selera Eyke!" ujar Joy, dengan gaya ngondeknya. Seraya ia mengangkat dagunya Hans. Membuat Hans langsung bergidik melihatnya.
"Hiiiikh... Apaan sih pak? Kenapa saya dibawa ke sini sih? Dan kenapa ada pria jadi-jadian sih disini?" ucap Hans, seraya ia hendak bangkit. Namun seketika Joy langsung mendorongnya sehingga ia kembali lagi terduduk.
"Eeeeh..! Yey, mau kemana sih? Diam disini! Karena Eyke belum siap menyulap Yey!" kata Joy, seraya ia mengelus wajanya Hans.
"Jangan sentuh Gue! PERGI Lo sana! Nazis gue disentuh banci kaleng kayak Lo!" bentak Hans, seraya ia mendorong tubuh Joy.
"Aakh..! Mas Dimas..Mas Dika..? Tolongin Eyke!" kata Joy terdengar manja.
"Hiiiiih..!! Dih Nazis gue dengarnya! Mimpi apa gue bisa ketemu banci kaleng, kaya beginian? Jijik banget gue lihat lo!" celetuk Dika. seraya ia bergidik.
"Tau nih! Nazis gue dengarnya! Awas aja Lo gitu lagi!" ancam Dimas, seraya ia mengepalkan tangannya lalu ia menunjukkannya pada Joy.
"Iiiis, beraninya main ancam deh! Ya udah, ini pengantin mau dikerjain nggak sih? Eyke kualahan nih!" kata Joy. Membuat Dimas mau pun Dika seperti paham, lalu keduanya langsung memegang kedua tangannya Hans.
"Eh, apa-apaan nih! Lepaskan gue Pak!" teriaknya Seraya berontak.
"Sssth.. Honey Eyke, sudah jinak kok, jadi diamlah, Karena Eyke Ingin membuat yeey, menjadi pria tertampan di jagat raya ini," kata Joy, seraya menoel pucuk hidungnya Hans.
"Aaaakh...! Sialan Lo banci kaleng! Jangan sentuh Gueee!!"
...••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••...
__ADS_1