GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
AYAM PENYET.


__ADS_3

•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•


JANGAN MENGELUH, KARENA SEMUA TAKDIR ALLAH ADALAH BAIK 


Kadang manusia mengeluhkan nasib dirinya yang dianggap buruk. Mereka merasa menerima takdir yang tidak sesuai harapan.


Padahal di sisi Allah, semua takdir itu baik. Manusia merasakan sebagai buruk, karena tidak sesuai dengan keinginan dirinya.


Nabi saw telah bersabda,


عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ


“Aku takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya” (HR. Ahmad. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).


Syaikh Salih bin ‘Utsaimin menjelaskan, “Takdir itu tidak ada yang buruk. Yang buruk hanya pada yang ditakdirkan (yaitu: manusia atau makhluk yang merasakan jelek). Takdir jika dilihat dari perbuatan Allah, semuanya baik".


"Jadi, takdir Allah itu selamanya tidak ada yang jelek. Karena ketetapan takdir itu ada karena rahmat dan hikmah"


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••


Setelah Hans menjelaskan semuanya pada Inayah dengan disertai rayuan. Inayah akhirnya luluh juga. Apalagi disaat itu juga Hans langsung memenuhi keinginan hasratnya yang selama ini selalu di tahannya, karena Hans takut menyakiti buah hati mereka. Membuat ia akhirnya benar-benar terhanyut dalam api asmara yang diciptakan oleh suaminya. Sehingga terlupakanlah masalah-masalah yang membuat ia kesal pada suaminya.


"Aaakh..!" erang Hans dengan mata yang masih terpejam, sehabis ia melepaskan puncak kenikmatanya. Namun seketika ia teringat pada kandungan istrinya. Membuat ia langsung mencabut pedangnya yang masih bertengger di sarang milik istrinya. Setelah ia langsung memegang perutnya Inayah, sambil mengelusnya.

__ADS_1


"Sayang, apakah kamu merasakan, sakit pada perut kamu Sayang?" tanya Hans, dengan nafas yang terlihat masih terengah-engah, akibat pertempurannya tadi. Namun di raut wajahnya menggambarkan ada kecemasan saat ia mengelus perutnya Inayah.


"Nggak kok Bang! Nggak sakit sama sekali kok,* balas Inayah, yang nafasnya juga hampir sama dengan Hans. Mendengar jawaban dari istrinya, Hans langsung menghembuskan nafas leganya.


"Huuft.. Syukurlah kalau begitu. Tapi kalau kamu merasakan ada hal yang aneh, cepat bilang ya sama Abang ya Sayang?" kata Hans dengan lembut, seraya ia membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Iya, Bang Insyaa Allah," balas Inayah dengan lembut sembari ia menyunggingkan senyuman manisnya yang menggambarkan kepuasannya.


"Hmm.. tampak kamu sudah terpuaskan ya Sayang?" tanya Hans, Dan bermaksud ingin memeluknya, namun terhalang oleh perut besarnya Inayah, "Eh, sekarang kita semakin sulit berpelukan ya Sayang?" lanjut Hans yang akhirnya ia memilih mengelap dahi istrinya, yang dipenuhi oleh keringat jagungnya. Setelah itu ia pun memberikan kecupan lembut disana.


"Namanya anak kita semakin besar bang, apalagi didalamnya ada duakan? Jadi wajarlah kalau perut Nayah semakin besar," balas Inayah seraya ia memegang perut buncitnya itu.


"Iya yah! Oh iya Sayang, apa kamu akan tetap disini? Apa nggak sebaiknya kita pulang saja ya? Abang bukannya melarang kamu ingin tinggal disini sih. Hanya saja Abang khawatir kalau-kalau perut kamu mengalami kontraksi gimana hayo? Kan kalau dari sini rumah sakit jauh banget Sayang. Ingat loh kehamilan kamukan tinggal menunggu hari sajakan? Makanya hari ini kita pulang saja ya Sayang?" ujar Hans mengingatkan Inayah. Agar ia mau kembali pulang bersamanya.


"Aah..iya juga ya? Ya udah kalau begitu, kita pulang saja deh, tapi Nayah mandi dulu ya Bang?" balas Inayah. Membuat Hans langsung tersenyum penuh kemenangan.


"Eh, tidak-tidak! Tidak boleh! Soalnya kamar mandi disini sempit bang. Jadi kita gantian saja ya?" ujar Inayah, seadanya.


"Ooh.. ya sudah kalau begitu.. kamu duluan deh yang mandi," balas Hans, seraya ia kembali menghempaskan tubuhnya kebantalnya Inayah.


Sedangkan Inayah yang tubuhnya hanya berbalutkan selimut, langsung bergegas keluar dari kamarnya, dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dan Lima belas menit kemudian, ia pun kembali lagi dengan tubuh yang kini tekah berbalutkan handuk kimono berwarna pinknya, serta kepalanya juga telah terbungkuskan handuk juga. Lalu ia pun langsung menghampiri Hans, yang ternyata ia malah ketiduran.


"Bang..Bang.. bangun Bang, Nayah sudah siap mandinya nih!" panggil Inayah sambil ia mengelus-elus pipi suaminya itu.


"Uhmm... iya Sayang, ini Abang mau bangun kok," balas Hans, namun matanya masih tampak terpejam.

__ADS_1


"Mau bangun, tapi matanya kok masih terpejam sih? Ayolah Bang ini sudah sore loh," kata Inayah lagi terdengar lembut.


"Iya iya, Sayang Abang bangun," balas Hans yang akhirnya ia pun bangkit dan langsung duduk. Tetapi tetap saja matanya terlihat masih terpejam. Melihat hal itu, Inayah langsung menarik tangannya.


"Iiikh.. iya iya tapi mata masih merem juga sih? Cepat dong Bang!" protes Inayah yang kali ini suaranya terdengar tegas.


"Haiis.. iya loh Sayang, Abang mandi," katanya yang akhirnya ia turun dari tempat tidurnya, dengan mata yang masih terpejam. Sehingga ia tak sadar kalau kain yang tadi menutupi tubuhnya telah jatuh. Dan tampaklah oleh Inayah, tubuh polos suaminya yang tak sehelai benang pun yang menempel di sana. Membuat ia terpekik dan langsung menuju matanya.


"Kyaaak..! Iiikh Abang! Nggak malu banget sih jadi orang! Lihat tuh tong geong-geongnya kelihatan tau!" tegur Inayah. Seraya ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun Hans, masih bisa melihat matanya Inayah dari disela-sela jarinya. Membuat ia langsung tertawa lucu.


"Hahahaha.. Sayang.. Sayang.. gayanya menutup wajah tapi, kok matanya kelihatan sih? Dari pada cuma ngintip, lebih baikkan lihat langsung aja Sayang. Lagian, kamu juga sudah sering lihatkan? Jadi buat apa pakai di tutup segala sih? Lagian lihatlah tubuh suami kamu ini, sangat seksikan?" balas Hans, seraya ia bergaya bak seorang binaragawan. Membuat Inayah malu melihatnya.


"Iiiss.. apaan sih Bang! Bikin malu aja deh! Udah cepat sana mandi! Nanti Nayah tarik ya tuh si entongnya Abang!" tegur Inayah lagi, sedikit mengancam.


"Humm.. emangnya kamu berani?" balas Hans, sambil mencibirkan bibirnya, "Kalau kamu emang berani tariklah! Abang mau lihat, gimana cara kamu menariknya," lanjut Hans lagi, seraya ia berjalan mendekati istrinya.


"Iiikh.. Abang! Nayah atuut tau! Sana mandi!" bentak Inayah, seraya ia berlari keluar dari kamarnya membuat Hans tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha.. hahahaha.. lucu banget sih dia! Padahal tadi, saat menikmatinya sampai merem melek! Giliran suruh pegang, malah kabur! Hahahaha.." ujar Hans, yang terlihat ia masih tertawa terpingkal-pingkal karena melihat tingkah lucu istrinya. Seraya ia berjalan menuju ke kamar mandi, tanpa sehelai benang pun. Namun matanya masih menoleh ke arah belakang, untuk melihat wajah istrinya lagi. Hingga ia tak tahu, kalau pintu kamar mandinya terlewatkan. Alhasil, ia pun menabrak dinding dapur.


GUBRAAK!!!


"Aaakh!!! Entongku penyet dah nih!" teriak Hans.


Mendengar perkataan Hans, gantian Inayah yang tertawa lucu, "Hehehe.. setau Nayah, kalau Ayam penyet enak bang. Kalau entong penyet enak nggak ya? hahahaha..." balas Inayah sambil tertawa terpingkal-pingkal juga.

__ADS_1


...┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈...


Jangan lupa dukung author terus ya guys Syukron 🥰.


__ADS_2