GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
ANCAMAN NAAZWA.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Hati-hati dengan harta, pangkat, dan kepopuleran. Barangsiapa yang sederhana, maka sebenarnya dia adalah orang yang kaya. Barangsiapa yang ikhlas, maka dia akan dicintai oleh Allah ﷻ Barangsiapa yang rendah hatinya, maka dia adalah orang yang kuat. Ketahuilah, kepopuleran dan kemuliaan yang benar itu hanyalah di akhirat nanti, yang kekal dan abadi"


__Al Habib Umar Bin Hafidz__


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


DI perusahaan HRP grup.


Pagi itu para karyawan Rio terlihat begitu sibuk karena mereka. Mendapatkan kabar kalau pagi itu juga akan diadakan rapat dadakan. Sehingga para pemimpinan bagian masing-masing terlihat kelimpungan karena harus menyiapkan laporan secara mendadak. Dan pada akhirnya para bawahan pun ikut resah.


"Haiiis.. mengapa akhir-akhir Pak Rio bertindak semaunya sih? Biasanya nggak pernah beginikan?" keluh seorang wanita cantik, yang terlihat sedang kebingungan.


"Aah, masa sih Linda? Aku lihat pak Rio biasa-biasa saja deh," kata seorang wanita yang baru saja menyerahkan sebuah file pada wanita yang dipanggil Linda.


"Benar yang di bilang Linda, kok Din! Akhir-akhir ini Pak Rio Aneh, suka marah-marah nggak jelas," sambung salah satu karyawati yang lainnya.


"Aah memang benar tuh, yang dibilang Aya! Bukan hanya nggak jelas aja dia Din! Pak Rio juga sekarang semakin dingin malahan! Pokoknya jangan dekat-dekat deh, kalau nggak mau beku!" sambung wanita yang dipanggil Linda.


"Kok aneh sih, bukankah Dunia sekertaris Pak Riokan? Masa kok nggak ngerasain kalau Bosnya sikapnya berbeda," sambung Wanita yang di sebut Aya.


"Sebenarnya Aku juga tahu sih, ada yang janggal dengan Pak Rio. Dan dia juga suka-suka marah gitu. Bahkan kemarin Pak Anto dipecat loh, padahal ia hanya melakukan kesalahan kecil saja," balas Dina, yang sebenarnya ia tahu dengan sikap Rio yang berubah.


"Hah! Benarkah Din? Pantasan saja hari ini aku belum melihat Pak Anto," tanya Linda, terlihat sedikit terkejut.


"Ya Allah, kasihan ya Pak Anto, padahal istrinya sedang hamil loh, dan pastinya sangat membutuhkan biaya yang besarkan?" kata Aya, yang wajahnya terlihat sedang iba membayangkan teman kerjanya yang telah dipecat, disaat bersamaan.

__ADS_1


"Apakah yang kalian bicarakan itu benar?"


Mendengar pertanyaan dari suara seorang wanita, spontan ketiga karyawati tersebut menoleh kesumber suara. Dan terlihatlah seorang wanita bercadar berdiri tak berapa jauh dari mereka.


"Eh! Bu Naazwa?" ucap ketiganya dengan spontan dan secara bersamaan.


"Kenapa kalian terkejut begitu melihat Saya? Apakah Saya seperti hantu?" tanya Wanita tersebut yang ternyata Naazwa.


"Eh, tidak kok Bu, hanya saja kami nggak nyangka Anda ada disini," kata Dina terlihat canggung, "Oh iya Bu Naazwa mencari pak Rio ya?" tanyanya lagi.


"Aaah Iya, apakah Pak Rio ada diruangannya Din?" tanya Naazwa terdengar lembut.


"Ada kok Bu, hanya saja sebentar lagi, beliau mau rapat," balas Dina, dengan sopan.


"Ooh, ya sudah kalau begitu saya masuk dulu yaa?"


"Iya Bu, silahkan saja!" kata Dina, dengan tangan mengisyaratkan, untuk mempersilahkan Naazwa untuk masuk.


"Adem ya mendengar suara Bu Naazwa, beda banget dengan suara pak Rio, yang selalu bikin orang takut," celetuk Linda, setelah Naazwa memasuki ruangan Rio.


"Eh.. sudah-sudah! Sebaiknya kita fokus pada pekerjaan kita masing-masing saja! Bahaya kalau kita terlihat oleh Pak Gilang," ujar Dina. Yang akhirnya mereka bubar, lalu mengerjakan tugasnya masing-masing.


...*****...


Sementara di dalam ruangannya Rio. Nampak Naazwa langsung menghampiri Suaminya yang terlihat sedang fokus pada laptopnya. Hingga ia tak menyadari kehadiran Naazwa.


"Assalamu'alaikum Bei?" ucap Naazwa, membuat Rio terkejut. Dan ia pun langsung memandang Naazwa yang kini telah duduk tepat dihadapan mejanya kerjanya.


"Wa'alaikumus salam! Mau apa kamu ke mari Naaz?" tanya Rio dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Iiiss.. masih saja jutek! Emang nggak boleh ya datang kemari, Bei?" tanya Naazwa, dengan mata terlihat sedih.


"Aah.. bukan begitu, kamu kan sedang hamil Naaz. Seharusnya berdiam diri saja dirumahkan? Karena orang hamil itukan biasanya gampang lelah Naz," kata Rio, namun tatapannya kembali ke laptopnya.


"Huh, Alasan saja! Bilang saja terus terang kalau Bibei sudah nggak suka lagi sama Zwakan? Buktinya sekarang Bibei selalu menghindari Zwa, Iyaakan?" tanya Naazwa, dengan tatapan yang begitu penasaran.


Mendengar perkataan Naazwa, pandangan Rio langsung beralih ke wajah Naazwa, dengan kening yang terlihat berkerut, "Kamu kok berpikir seperti itu sih, Naaz? Jangan kayak Anak kecil deh! Kamukan tahu aku itu lagi sibuk! Jadi kamu pahami dong!" katanya dengan tatapan datar pada Naazwa, membuat hati Naazwa langsung sedih. Karena memang semenjak hamil ia sedikit sensitif.


"Ooh bergitu? Ya sudah kalau begitu Zwa minta maaf karena sudah mengganggu Bang Brian! Kalau begitu Zwa mau pergi saja! Dan jangan pernah mencari Zwa lagi!" ancam Naazwa, sambil menutup kembali wajahnya lalu ia bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menuju kepintu.


Mendengar ancaman Naazwa, Rio amat terkejut. Lalu dengan spontan ia pun bangkit dan langsung mengejar Naazwa, "Kamu kok berkata seperti itu sih Naaz?" katanya, seraya ia memeluk Naazwa dari belakang.


"Kenapa emangnya? Bukankah Bang Brian sudah tidak membutuhkan Ana lagikan? Jadi dari pada hati Ana merasakan sakit, lebih baikkan kalau Ana perg?" balas Naazwa, tanpa ingin menoleh ke arah suaminya, yang sebenarnya ia sedang amat merindukan kasih sayangnya.


"Siapa yang tidak membutuhkan kamu sih Naaz? Bahkan Anak-anak sangat membutuhkan kamu," balas Rio, yang terlihat masih memeluk Naazwa.


"Hanya anak-anakkan? Gampang kok Bang, kamu tinggal panggil Baby sister bisakan?" ujar Naazwa terdengar ketus.


"Naaz, jangan salah paham! Bukan hanya Anak-anak yang membutuhkan kamu. Tapi Aku juga membutuhkan kamu Naz," kata Rio, yang langsung membalikkan tubuhnya Naazwa, lalu ia langsung membuka cadar Naazwa dan tanpa memberi aba-aba, ia langsung meraih bibir Naazwa.


Pada awalnya, Naazwa tak ingin meresponnya. Namun karena ciuman yang begitu lembut diciptakan Rio, membuat ia akhirnya luluh. Hingga tanpa sadar tangan Naazwa kini sudah melingkar di lehernya suaminya. Rio yang mendapatkan respon dari istrinya, ia langsung menggendong tubuh Naazwa, dengan posisi bibir yang masih bertautan. Lalu ia pun membawanya ke sebuah kamar, tempat biasa ia beristirahat.


Sesampainya di kamar tersebut, Rio langsung membaringkan tubuh istrinya, di atas ranjang. Sesaat Rio melepaskan tautan bibirnya, lalu ia memandang dengan lekat wajah cantik istrinya.


"Maaf Naaz, Aku menghindari kamu, itu karena kehamilan kamu masih trimester pertama dan aku takut bila aku berada didekat kamu aku tidak bisa menahan hasratku. Seperti saat ini aku sudah nggak tahan Naaz," kata Rio, dengan suara yang terdengar berat, seperti sedang mencari sesuatu.


"Jangan ditahan Bei, lakulah. Tapi pelan-pelan aja ya?"


Mendengar perkataan Naazwa, Rio langsung membuka baju, dengan semangat empat Limanya. Dan setelah itu, ia pun kembali meraih bibir Naazwa. Karena keduanya memang saling merindu. Akhirnya keduanya pun terhanyut dalam samudera percintaan mereka.

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2