GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
SALAH JODOH.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Ketika segalanya terasa berat dan ketika semua terlihat suram dan tak ada kebahagiaan percayalah setelah kau melewati segalanya kau akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara.


Jangan mengeluh!


Allah saja mempercayaimu bahwa kau mampu melewati segalanya. Maka jangan pernah menyerah dan berkata bahwa kamu tidak bisa.


Karena menyerah bukan alasan yang tepat.


Menyerah akan membuatmu berakhir sedangkan jika kau berusaha bangkit. Maka kau akan memiliki kehidupan yang tentu lebih membahagiakan.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Didalam mobil Ardiyan.


Hans terlihat sedang fokus dalam mengemudi mobilnya. Dan saat ini ia sedang menyetiri kedua majikannya, Ardiyan dan Anisah, yang baru saja menjenguk Rio. Disepanjang jalan Hans nampak diam, wajahnya juga tidak begitu bersahabat. Membuat Ardiyan mengerenyit saat melihat wajahnya yang tak biasa.


"Ada apa Hans? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah ada yang membuat kamu marah?" tanya Ardiyan yang akhirnya buka suara karena rasa penasarannya.


"Tidak ada apa-apa kok Pak! Saya baik-baik saja!" balas Hans tanpa melirik sedikit pun pada Ardiyan. Karena ia lebih memilih untuk fokus dalam menyetirnya.


"Baguslah, kalau begitu! Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," kata Ardiyan, namun tak direspon oleh Hans, ia sepertinya sedang enggan berbicara pada Bosnya itu. Suasana mobil pun menjadi hening, karena kebetulan saat itu Anisah sedang tertidur, dengan menyandar di bahunya. Membuat Ardiyan enggan mengeluarkan suaranya. Hingga akhirnya mobil terparkir didepan mansion milik milik Ardiyan.


"Sayang bangunlah, kita sudah sampai," kata Ardiyan, sembari ia menepuk pelan pipi Anisah.


"Hmm...Kita sudah sampai ya By?" tanya Anisah, dengan suara terdengar serak ciri khas orang bangun tidurnya.

__ADS_1


"Iya Sayang, kita sudah sampai. Sekarang pergilah masuk, anak-anak pasti sudah menunggu kamu," balas Ardiyan dengan lembut, sembari ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Anisah.


"Baiklah By, tapi kok Hubby tidak ikut turun?" tanya Anisah heran.


"Tidak Sayang, soalnya ada yang harus Ubby kerjakan bersama Hans," balas Ardiyan.


"Ooh.. ya sudah kalau begitu Hubby hati-hati ya?" balas Anisah dengan lembut seraya ia meraih tangan suaminya lalu ia pun mengecup tangan tersebut.


"In shaa Allah Sayang, ya sudah Ubby pergi ya Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Anisah sembari melambaikan tangannya.


"Ayo Hans kita pergi!" titah Ardiyan pada Hans, setelah Anisah mulai berjalan menuju pintu masuk mansionnya.


"Baik Bos! Tapi kemana Bos?" tanya Hans, seraya ia kembali menghidupkan mesin mobilnya.


"Coffee shop!" balas Ardiyan singkat.


"Tidak!" balas Ardiyan singkat.


"Lalu kenapa kita kesana Pak?"


"Apakah ada larangan, kalau saya ingin bersantai disana, hm?"


"Enggak juga sih! Cuma rasanya aneh saja, bos lebih suka, bersantai dengan keluarga, tapi hari ini.."


"Sudahlah Hans! Gue memang sengaja ngajak Lo, karena ada yang ingin dibicarakan! Jadi jangan protes lagi!" posong Ardiyan, membuat Hans akhirnya terdiam, dan hanya fokus kedepan. Hingga akhirnya mobil mereka terparkir, didepan Coffee shop.


Setelah mobil terparkir dengan sempurna, keduanya langsung masuk ke Coffee tersebut. Dan Ardiyan sengaja memilih tempat duduk yang terlihat nyaman untuk mereka. Setelah keduanya duduk dengan santai. Hans pun langsung memesan coffe, sedangkan Ardiyan terlihat sedang fokus dengan layar Handphonenya. Setelah pesanan telah tersaji, Ardiyan kembali menyimpan benda pipihnya kedalam saku jasnya.

__ADS_1


"Hans? Berapa umur kamu sekarang?" tanya Ardiyan yang akhirnya buka suara, seraya ia mengambil cangkir kopinya, lalu menyeruputnya dengan perlahan.


"Dua bulan lagi, umur saya memasuki tiga puluh dua pak!" jawab Hans, yang suaranya terdengar berat, seperti ada keterpaksaan saat menjawab pertanyaan Bos. Karena sepertinya Hans sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Ardiyan.


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa Anda menanyakan umur saya lagi, Pak? Apakah Bapak ingin menjodohkan saya lagi? Kalau iya, sebaiknya tolong Anda urungkan! Karena saya sudah tidak tertarik pada pernikahan Pak!" lanjut Hans terdengar begitu tegas.


Ardiyan tersenyum sinis setelah mendengar perkataan Hans, "Heh! Hebat ya, kamu bisa menebaknya? Tapi kenapa kamu tidak tertarik?Apa jangan-jangan kamu berkata seperti itu, akibat kamu gagal menikahi Yumna! Benarkan tebakanku?" tanyanya, dengan tatapan menyelidiknya pada Hans.


"Maaf Pak! Bisa tidak jangan membahas itu lagi? Karena saya sudah tidak ingin mendengar cerita itu!" balas Hans, yang sepertinya ia sedang berusaha menahan kekesalannya.


"Cih! Ternyata Lo terlalu naif ya! Ngakunya sudah ikhlas! Tapi kenyataannya bullsit! Iyakan?" Hans tak langsung menjawab, ia hanya terdiam mendengar perkataan Ardiyan. Melihat kediamannya Hans, Ardiyan tersenyum mengejek.


"Heh..lucu! Sok mau jadi pahlawan kesiangan, yang mengikhlaskan orang yang dicintainya. Tapi kenyataannya malah jadi boomerang untuk diri sendiri!" ledek Ardiyan, membuat Hans, terlihat semakin kesal, itu terlihat dari cara ia mengepalkan tangannya. Yang sepertinya ia sedang menahan Amarahnya.


"Kalau tau Lo bakalan begini! Seharusnya Lo pada saat itu, cukup memejamkan mata dan menutup telinga Lo! Jadi sudah pasti saat ini Lo sedang bersenang-senang dengannya. Benar tidak yang gue katakan?" lanjut Ardiyan lagi. Namun tetap saja Hans, hanya diam seribu bahasa. Nampak jelas kalau sebenarnya ia begitu malas menanggapi bosnya itu. Kalau saja Ardiyan bukan Bosnya, mungkin saat ini ia sudah pergi meninggalkannya.


Karena merasa diabaikan oleh Hans, Ardiyan pun menghela nafas kesal, "Huft..! Sudahlah benar yang Lo bilang, hal itu sudah tidak perlu dibahas lagi! Tapi jujur sebenarnya gue senang, karena pada akhirnya Lo tidak jadi menikah dengan Yumna," kata Ardiyan, membuat Hans kaget mendengarnya.


"Apa maksud Anda Pak? Bukankah pernikahan ini adalah bagian rencana Anda?" tanya Hans yang terlihat ia begitu penasaran.


"Sebelum aku menjawab, aku mau tanya dulu sama kamu. Menurut kamu Inayah gimana orangnya?" tanya Adiyan, membuat dahi Hans langsung berkerut.


"Inayah? Kenapa Bos bertanya tentang dia? Atau jangan-jangan yang tadi dirumah sakit bos sengaja menyuruh saya menjemputnyakan? Apa itu artinya Anda ingin menjodohkan saya lagi pada Dia ya?" tanya Hans yang bertubi-tubi, dengan nada yang terdengar mulai sedikit kesal. Akibat bosnya yang selalu ingin menjodohkannya pada wanita yang menurutnya tidak jelas.


"Iya benar sekali!" jawab Ardiyan terlihat santai.


"Huft!" Hans menghela nafas terpaksanya setelah mendengar jawaban Bosnya, "Hmm..tapi kenapa harus dia?" tanyanya lagi terdengar malas.


"Karena sebenarnya waktu itu, yang seharusnya dijodohkan dengan kamu adalah Inayah! Bukan Yumna! Hanya saja karena kesalahan dari Umi Syahidah yang salah memanggil orang, akhirnya tak bisa di perbaiki lagi, ditambah lagi waktu itu kamu langsung menyetujuinya saat melihat mata Yumna, akhirnya kami hanya bisa mengikuti takdir," jelas Ardiyan, membuat Hans terperangah mendengar penjelasannya.

__ADS_1


"Hah? Apa artinya waktu itu memang sudah salah jodoh?"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2