GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
BERTEMU INAYAH.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Bersyukurlah untuk sesuatu yang sudah ada dan bersabarlah untuk sesuatu yang belum ada


Gagal itu biasa tapi bagaimana cara untuk kita terus mau mencoba tanpa ada kata putus asa.


So, Jalani dan Syukuri apa yg telah menjadi takdirmu hari ini. Karna tak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan atas kehendak-Nya."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Naazwa benar-benar begitu terkejut saat ia mengikuti arah mata Rio, dan melihat sesuatu yang menonjol di bagian area bawah Rio. Ia betul-betul tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sehingga ia tampak bingung, apalagi saat melihat wajah panik suaminya, yang terlihat tidak berdaya. Yang membuatnya semakin bingung, ia tak tahu harus berbuat apa, Karena memang ia belum berpengalaman. Yaa karena ia melakukan itu baru sekali. Jadi ia benar-benar tidak tahu cara membantu suaminya.


"Naaz? Kenapa diam? Kamu harus bertanggung jawab loh Naaz! Karena dia tidak akan tidur, sebelum dia mendapat yang dia inginkan," ujar Rio, menyadarkan Naazwa dari lamunannya.


"Baiklah, Zwa tanggung jawab! Tapi apa yang harus Zwa lakukan Bei?" tanya Naazwa, terlihat begitu lugu, membuat Rio, tersenyum penuh kemenangan, selah mendengar pertanyaan istri lugunya itu.


" Naz? Yang harus kamu lakukan adalah, kamu yang harus memimpin pertempuran kita, kali ini, Sayang," kata Rio, dengan suara yang terdengar sudah mulai berat. Seraya tangan kirinya meraih pinggang Naazwa, lalu dengan tangan kiri itu, ia pun menarik tubuh Naazwa kedalam pangkuannya.


Mata Naazwa membulat sempurna,amat kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya. Ditambah lagi saat ia sudah berada dipangkuannya Rio, ia dapat merasakan sesuatu yang mengeras disana. Seketika Naazwa merasakan hal yang aneh pada tubuhnya, seakan tubuhnya ikut merespon, hasratnya Rio.


"Bei? Zwa nggak tah..." Naazwa ingin mengungkapkan ketidaktahuannya. Namun, mulutnya langsung dibungkam oleh bibir Rio. Pada awalnya mata Naazwa membulat tatkala sang suami menyerangnya tanpa memberi aba-aba padanya.

__ADS_1


Namun karena permainan bibir Rio yang begitu lihai, membuat ia akhirnya ikut terhanyut. Bahkan tanpa sadar, tangannya telah melingkar dengan sempurna di leher suaminya. Sedangkan Rio, yang mendapatkan respon dari istrinya. Tangan kirinya pun tak mau tinggal diam. ia mulai membuka kain penutup tubuh sang istri, yang terlihat masih terlena dengan permainan bibir. Hingga ia tersadar, saat tangan kiri Rio sudah mulai memberikan sentuhan pada kedua bukit kembarnya, yang membuat ia mengeluarkan suara yang masih terdengar aneh baginya.


"Uhm..Bei..? Zwa.. takut..ukh.." ucap Naazwa dengan dibarengi suara lenguhannya. Mendengar perkataan Istrinya Rio, pun memahaminya. Karena mungkin saat ini Naazwa sedang teringat ketika ia melakukan hubungannya yang pertama kalinya. Sehingga rasa sakit yang ia rasakan masih sangat membekas didirinya.


"Tenanglah Sayang, cup..ini tidak akan sesakit yang pertama, hmm...jadi nikmatilah Sayang humm..." balas Rio, Sambil ia menikmati, keindahan kedua bukit kembarnya Naazwa, yang terasa seperti makanan baginya,


"Sayang bantu Bibei..hum..dia sudah ingin ke sarangnya ukh.." lanjut Rio, yang sepertinya hasratnya sudah semakin meningkat. Sehingga rasanya ingin segera membuka kain penutup bagian bawahnya. Namun karena kondisinya yang belum normal, membuat ia kesulitan untuk membukanya. Dan akhirnya Naazwa membantunya, akan tetapi justru membuat Naazwa langsung menciut, bahkan ia malu sendiri melihat suaminya yang kini terlihat polos.


"Ayolah Sayang.. Lakukanlah..pimpinlah pertempuran ini, karena suamimu ini sudah tidak tahan lagi.." kata Rio dengan tatapannya yang sudah dipenuhi gairahnya. Membuat Naazwa semakin malu, mendapatkan tatapan yang belum terbiasa baginya.


"Bie, Zwa sedikit malu, bolehkah lampunya dimatikan?" kata Naazwa, seraya ia menutup bagian dadanya dengan selimutnya. Rio memahaminya, dan ia pun membiarkan Naazwa memastikan lampunya. Dan dalam redupnya kamar walaupun masih ada cahaya sore yang samar-samar masuk, tapi tetap saja Author nggak mau ngintip lagi. Jadi maaf Yee..


...*****...


Sementara di sisi lain.


"Assalamu'alaikum Umi," salam pria itu pada wanita yang sedang menyiram bunga.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu. Eeh Nak Hans? Apa kabar Nak?" balas wanita yang dipanggil Umi, oleh Pria yang ternyata Hans.


"Alhamdulillah baik Umi. Umi sendiri gimana kabarnya?" tanya Hans seraya ia meraih tangan Umi Syahidah tentunya, dan mengecup tanganya.


"Alhamdulillah, Umi juga baik kok Nak," balas Umi Syahidah, dengan lembut, "Oh iya, kamu pasti mau jemput Inayah ya?" tanyanya lagi. Membuat kaget mendengarnya, yang ternyata Umi Syahidah sudah mengetahui maksud kedatangannya.

__ADS_1


"Eh Iya Umi! Tapi ngomong-ngomong Umi kok bisa tahu sih?" tanya Hans terlihat penasaran.


"Ya tahu dong Nak, tadi Anisah yang memberitahukan Umi, agar Umi bisa ngasih tahu Inayah soalnya," balas Syahidaha lagi.


"Oooh.." kata Hans yang hanya ber ooh ria saja.


"Ya sudah sana pergi. Tuh Inayah sudah menunggu kamu sejak tadi," kata Umi Syahidah lagi, seraya ia mengarah kesebuah gubuk kecil, tempat biasa para santriwati berkumpul bersenda gurau.


"Ooh iya, baiklah Umi, kalau begitu Hans Pamit ya Umi," balas Hans kembali ia menyalami tangan Umi Syahidah, "Assalamu'alaikum" lanjutnya lagi.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu,"


Setelah mendapatkan jawaban dari Salamnya, Hans pun langsung menghampiri Inayah yang sedang duduk di gubuk tersebut. Namun ia langsung berdiri tatkala Hans menghampirinya.


"Assalamu'alaikum," kata Hans terdengar datar.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Inayah, seraya ia menundukkan wajahnya.


"Kenapa? Apakah wajahku terlihat seram hingga kamu tak ingin melihatku hm?" tanya Hans, terdengar begitu dingin.


"Ti-tidak kok Akhi, Sa-saya...." balas Inayah terlihat gugup.


"Aakh sudahlah! Ayo kita pergi sekarang!" kata Hans, terdengar ketus. Dan ia pun langsung berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah.. apakah Bang Hans membenci Ana, yaa Allah kuatkan Ana."


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2