GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
GENG HARIMAU PUTIH.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Mengemis Ampunan


Hal yang sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan bagi kita adalah :


Bahwa beramal salih itu sulit dan belum tentu diterima dan beramal maksiat itu mudah dan belum tentu diampuni


Karena itulah ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia akan memberi ampunan kepadanya, sebab kita sangat perlu ampunan Allah sebagai bentuk kasih sayang-Nya di hari perjumpaan kelak


Allah berfirman dalam QS 3:31


Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang


Tersisa tantangan besar bagi kita. Bagaimanakah cara terbaik untuk meneladani Rasulullah Muhammad, hingga kita sepenuh hati mencintai Rasulullah, hingga Allah pun mencintai kita?


___Ustadz Felix Siauw__


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Dimarkasnya Ardiyan.

__ADS_1


Sebelum pencarian Yumna dan Farah dimulai, Ardiyan terlebih dahulu mengajak para sahabat-sahabatnya itu, pergi ke markas mereka. Rio yang baru kali ini dibawa oleh mereka sedikit terkejut, saat membaca tulisan yang tertera diatasnya basecamp yang baru pertama kalinya ia lihat itu.


"Harimau Putih? Bukankah nama tersebut adalah nama salah satu geng Mafia juga? Hah..? Jangan-jangan lagikan ketua Mafia geng Harimau Putih ya Ar?" tanya Rio, terlihat terkejut dan penasaran. Mendengar pertanyaan Rio, tak langsung menjawab, karena keburu dibalas orang seseorang yang baru saja keluar dari basecamp tersebut.


"Iya benar! Beliau memang ketua Mafia geng Harimau Putih, tetapi itu sebelum beliau menikah dengan Ustadzah Anisah. Tetapi sekarang beliau datang ke geng Harimau Putih ini, kalau butuh saja! Kalau tidak, hiks..hiks.. Beliau akan melupakan kami..hiks..hiks..Lo kejam banget deh sama kami Bos.. hiks.." ujar pria, yang baru saja keluar dari basecamp.


Pada awalnya Pria yang memiliki tubuh besar itu, terlihat sangat gagah dan macho. Namun diakhiri kalimatnya, ia malah menunjukkan sesi feminimnya. Apalagi saat ia memukul dada Ardiyan, dengan gaya ngondeknya. Membuat Rio terpelongo karena heran melihat pria tersebut.


"Apaan sih Bob! Sono Lo! Nazis gue Lo sentuh! Dasar banci kaleng Lo!" bentak Ardiyan, yang memang ia tampak geli ketika pria yang dipanggil Bob itu memukul-mukul dadanya dengan ala banci.


"Idiih..si Bos! Lama tak berjumpa, kenapa jadi tambah galak yaa sih Bos?" balas Bob, kembali dengan gaya ngondeknya.


"Bisa diam nggak sih Lo Bob?! Ini bukan waktunya bercanda tau! Kami kesini mau ngambil senjata, karena anaknya Ardiyan dan Brian, diculik sama Bram tau!" bentak Andi, yang mulai kesal dengan candaannya Bob, teman mereka, yang memang diberi tanggungjawab oleh Ardiyan terhadap markas mereka.


"Gue nggak tahu! Yang jelas dia sudah mengusik gue! Jadi cepatlah siapkan semuanya! Karena kita nggak bisa berlama-lama membiarkan anak-anak itu ditahan oleh mereka!" kata Ardiyan, seraya ia memasuki basecamp tersebut. Dan di ikuti kelima temannya termasuk Rio.


"Oke Bos! Kalau begitu gue siapkan dulu segalanya dan sekalian memanggil anak-anak," balas Bob yang kemudian ia pun berlalu meninggalkan keenam sekawan tersebut.


Sementara Ardiyan dan lainnya langsung memasuki Ruangan yang didalamnya terdapat berbagai senjata berserta pelurunya. Dan juga terdapat berbagai rompi anti peluru, membuat Rio, yang melihat hal itu, langsung tercengang. Karena baru kali ini ia melihat hal itu, karena ketika ia masih menjadi Asisten Daffin, ia mendapatkan senjata dari Bosnya itu dan bahkan untuk para anak buahnya yang lain, juga Daffinlah yang memberinya. Karena setahunya membeli senjata itu tidak sembarang orang bisa membelinya.


"Woy! Kok Lo malah bengong sih! Cepat ambil salah satu rompi anti pelurunya disana! Biar secepatnya kita bergerak!" tegur Wira, karena ia melihat Rio yang hanya terdiam terpaku melihat pemandangan didalam ruangan tersebut.


"Aah! Iya, sorry Wir, gue jadi bengong lagi," sentak Rio sedikit terkejut karena Wira, menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Udah nggak papa, sekarang sebaiknya Lo ambil salah satu rompi disana, dan ambil juga senjata yang mau Lo pakai! Setelah itu, langsung gabung saja kesana ya?" kata Wira, yang terlihat ia telah memakai rompi anti pelurunya. Bahkan ditangannya sudah ada dua pistol yang hendak ia selipkan didalam saku Anti pelurunya itu.


"Oke Bro!" balas Wira dengan singkat, lalu ia pun menghampiri sebuah lemari yang didalamnya terdapat rompi anti peluru. Lalu ia pun mengambilnya dan langsung memakainya. Setelah itu ia juga menghampiri kelemari kaca yang didalamnya terdapat berbagai pistol. Ia pun jua mengambil pistol yang sudah di lengkapi dengan peredam suaranya. serta mengambil beberapa pelurunya. Setelah ia rasa cukup, Rio pun beranjak dari ruangan tersebut dan menyusul ketempat yang Wira katakan.


Setibanya di sana ia melihat Ardiyan sedang mengatur strategi dan juga membagi tugas untuk para teman-temannya, "Dik, seperti biasa tugas Lo hanya berjaga-jaga kalau-kalau diantara kita ada yang tertembak karena medis kami, Lo paham?" ujar Ardiyan pada Dika.


"Lo Wir, dan Andi, gue tugaskan Lo di garis belakang, sedangkan Dimas dan Bob kalian berada digaris depan, sedangkan gue sama Rio, yang akan mengikuti permainannya Bram. Apa kalian paham?" tanya Ardiyan terdengar tegas.


"Tunggu sebentar Ar, Lo nggak salah nempatin orang? Kenapa Dimas digaris depan, Lo kan tahu dia.." tanya Rio, yang sepertinya ia meragukan Dimas, sehingga terlihat sekali Andi langsung menahan tawanya.


"Diakan somplak gitu maksud Lo kan?" tanya Wira, to the poin. Membuat orang yang mengenal Dimas, pasti akan menahan tawanya.


"Lo tenang aja Bro! Emang sih teman gue yang ini rada Somplak! Tapi, Lo tidak perlu khawatir, karena diantara kami, dialah yang paling cekatan. Bahkan Geng Harimau Putih berasal dari orang-orang yang menjulukinya Harimau Putih. Dan itu dikarena ketangkasannya dalam bertempur tak diragukan lagi. Dari sini Lo pahamkan Bro," jelas Bob, yang sepertinya ia paham akan keraguan Rio terhadap Dimas.


"Oke gue faham! Sorry Dim, gue jadi meragukan Lo," ujar Rio pada Dimas.


"It's okay friend! Santai saja kaya dipantai," balas Dimas yang memang ia terlihat santai, karena memang ia tak pernah mempermasalahkan hal seperti itu.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita mulai bergerak sekarang!" titah Ardiyan, yang kemudian ia pun langsung berjalan keluar dari basecamp tersebut. Dan diikuti para teman-teman. Sempainya di luar mereka pun, menyantu dengan kelompok yang sudah dibagi-bagi oleh Ardiyan. Lalu mereka pun mulai memasuki mobilnya masing-masing dan tak berapa lama mobil pun mulai bergerak, satu persatu meninggalkan perkarangan basecamp dan terus bergerak menuju ke markasnya Bram.


...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...


Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉

__ADS_1


__ADS_2