
*═══❉্͜͡💚Mutiara Hikmah.💚❉্͜͡═══*
Tidak ada yang sulit bagi kita selagi tangan masih menengadahkan keatas,,
Yakinlah Allah akan mengabulkan setiap do'a kita
“ Tidak ada sesuatu yang lebih besar di sisi Allah Ta'ala selain do'a. "
(HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, Ahmad 2/362. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan ).
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•═══════•
"Hah?? Pendek dan jelek?" Hans terpelongo mendengar perkataan gadis kecil yang berada dihadapannya. Walaupun sempat sedikit kaget, namun ia tak sedikitpun tersinggung. Malalhan ia tersenyum lucu, melihat Yumna. Karena ia tahu maksud dari perkataannya, yang sepertinya ia sedang memiliki sebuah rencana dan Hans pun semakin penasaran dengan Rencananya itu.
"Masa sih Aunty Azwa, jelek dan pendek?" tanya Hans sambil meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagunya. Seolah ia sedang berpikir dan membayangkan
"Ho'oh loh Uncle! Makanya Aunty Azwa tidak cocok sama Uncle yang tampan dan gagah ini! Lihatlah Wajah Uncle tampan, tubuh uncle tinggi, masa harus disejajarkan sama yang pendek sih? Nggak cocok tahu uncle!" kata Yumna, yang terlihat ia begitu antusias, saat melihat Hans memberikan responnya.
"Hmm.. Emangnya menurut Yumna, Uncle cocoknya sama siapa dong?" tanya Hans, memasang wajah polosnya.
"Humm...sama siapa yaa?" Yumna, seperti sedang berpikir, dan ia juga meniru gaya Hans, yang meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagunya. Membuat Hans, semakin gemas melihatnya yang terlihat imut dan lucu.
"Siapa hayoo?" desak Hans, sambil ia merubah posenya yang kini ia melipatkan kedua tangannya didadanya, dan tetap memasang wajah penasarannya.
__ADS_1
Sedangkan Yumna masih nampak sedang berpikir keras, "Humm...Aha...Umna tahu sekarang uncle cocok sama siapa!" ucapnya secara tiba-tiba, membuat Hans, sempat tersentak. Karena ia mengangkat jari telunjuknya, dan mendekati wajahnya, sehingga Hans hampir saja terjungkal ke belakang.
"Hah! Bikin kaget saja kamu Yumna! Sekarang katakan, Uncle cocok sama siapa?" tanya Hans, sambil ia pindah duduk yang kini ia lebih memilih duduk di kursi yang berada di samping pembaringannya Yumna.
"Kok Uncle pindah? Kenapa uncle?" tanya Yumna, dengan memasang wajah polosnya.
"Nggak kenapa-napa Yumna, cuma rasanya disini lebih nyaman saja," balas Hans, yang sebenarnya ia pindah untuk menghindari ke agresifan Yumna, yang terkadang suka melakukan hal-hal yang mengejutkan Hans. "Ya sudah sekarang katalah yang tadi, Uncle cocok sama siapa?" lanjutnya, lagi, mengulangi pertanyaannya.
"Baiklah, akan Yumna katakan! Uncle Hanskan tampan, gagah dan tinggikan? Nah berarti pasangan Uncle, harus sepadan dong? Jadi Uncle itu cocoknya sama Ustadzah Khanza," jelas Yumna, begitu antusias, sehingga matanya terlihat begitu berbinar.
Hans, mengerenyit, saat Yumna, menyebutkan kandidat, yang cocok untuknya, "Apa?! Ustadzah Khanza? Kenapa harus dia Yumna?" tanyanya, penasaran.
"Uncle nggak tahu ya?" Hans langsung menggelengkan kepalanya, ketika Yumna, melontarkan pertanyaannya.
"Humm, masa Uncle nggak tahu! Ustadzah Khanza itu orangnya cantik, putih, baik, dan yang paling penting, dia tinggi, Uncle! Pas banget sama Uncle yang juga tinggi dan tampan!"
"Kok Uncle malah ketawa sih?! Uncle nggak dengarin Umna ya?" protes Yumna, terlihat kesal. Sembari ia melipatkan kedua tangannya kedada.
"Maaf, maaf Yumna! Uncle dengar kok," balas Hans, yang terlihat ia sedang berusaha menahan tawanya kembali.
"Terus, Uncle setuju nggak sama Ustadzah Khanza?" tanya Yumna, dengan nada yang terdengar masih kesal.
"Humm.. gimana yaa?" Hans terlihat mengikuti gaya Yumna ketika ia berpikir tadi.
"Ayoo, dong Uncle! Atau Uncle mau sama Ustadzah Inayah? Dia cantik juga kok, putih juga, baik dan tinggi juga loh?" ujar Yumna, yang terlihat begitu bersemangat, saat ia menyebutkan nama kandidat yang lainnya untuk Hans.
__ADS_1
"Haaah?" Hans malah terpelongo setelah mendengar perkataan Yumna. Ia tak menyangka Yumna, yang terlihat amat kecil, namun berpikiran dewasa.
"Kok, malah melongo sih Uncle? Nggak mau juga ya sama Ustadzah Inayah? Kalau begitu bagaimana dengan Ustadzah Hafsah? Dia sama kok. Cantik, putih, tinggi, juga baik dan lembut lagi! Nggak seperti Aunty Azwa yang pendek, kulitnya coklat, terus matanya aneh, masa matanya hijau? Kan Anehkan uncle?" kata Yumna yang terlihat masih berusaha membuat Hans, untuk ilfil pada Naazwa.
"Humm..benar juga yaa?" balas Hans, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, membuat Yumna, tersenyum tipis saat mendengar Hans, yang membenarkan perkataannya, " Aneh tapi nyata, tapi uncle sangat menyukainya," lanjutnya lagi, sembari ia mengedipkan matanya pada Yumna, membuat mata Yumna membulat kesal.
"Huh! Uncle bodoh!" katanya sambil kembali melipatkan kedua tangannya. Ia nampak begitu kesal karena usahanya sia-sia.
"Eh? Kok bodoh sih Yumna?"
"Iyalah! Habis Uncle nggak cocok tahu, sama Aunty Azwa!"
"Oh iya? Baiklah, kalau Uncle sama Ustadzah kamu, terus gimana sama Aunty Azwa dong? Kan kasian kalau dia nggak punya pasangan," tanya Hans, sambil memasang wajah ibanya.
"Tenang Uncle, Umna sudah punya calon untuk Aunty. Apakah Uncle mau mendengarnya?"
"Tidak, tidak! Uncle tidak mau dengar!"
"Ayoo, dong Uncle, dengar dulu!" Yumna terlihat antusias ingin menyebutkan nama kandidat calon untuk Auntynya.
"Baiklah emangnya siapa?" tanya Hans yang akhirnya mengalah.
"Aunty Azwa cocoknya sama..." Belum sempat Yumna, menyebutkan sebuah nama. Tiba-tiba seorang wanita bercadar masuk dengan sedikit tergesa-gesa.
"Bang Hans, ayo kita pulang!" kata Wanita itu sambil menarik tangan Hans, dan mereka pun langsung beranjak dari ruangan Yumna.
__ADS_1
"Mama?!" teriak Yumna, yang terlihat sedih saat melihat kepergian mereka.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...