GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
COMENG-COMENG HITAM.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Ingat ya,..Hidup ini bukan tentang Memiliki yang kau cintai, Tapi tentang Mencintai yang kau miliki. Hidup ini singkat, maka berbuatlah yang benar, berpikirlah yang benar, dan cintailah yang benar. Selama cinta ada di hati, kebahagiaan tetep bersama kita.


So, Ikuti alurnya, nikmati prosesnya, Allah tahu kapan kita harus bahagia."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Pagi didaerah ST.


Setelah melaksanakan sholat subuhnya, sempat mengobrol pada para warga yang tinggal tak berapa jauh dari dimesjid. Sehingga saat ia keluar dari mesjid, ternyata hari telah terang, dan ia pun bergegas pulang. Disepanjang perjalanan menuju ke rumah Inayah. Hans yang kebetulan bersama salah satu Anak buahnya terlihat begitu menikmati suasana yang begitu sejuk, menghirup udara yang begitu segar, mata yang dimanjakan dengan pemandangan yang indah. Karena memang disekelilingnya terhampar perkebunan teh.


"Bos kapan kita akan kembali ke kota? Bukankah kita sudah menemukan istri Anda?" tanya pria yang berjalan di samping Hans.


"Saya belum bisa memastikannya Tio, karena kalau dilihat dari sikap istri saya. Seperti akan sulit mengajaknya kembali ke kota untuk saat ini," balas Hans, karena ia teringat, ketika melihat Inayah, kedinginan, namun ia tetap bertahan selama lebih satu Minggu disana. Yang artinya, Inayah memiliki sifat keras kepala.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang Bos?" tanya Pria yang dipanggil Tio itu oleh Hans.


"Sebaiknya kamu kembali ke kota, dan sampaikan pada Pak Ardiyan kalau saya belum bisa kembali dalam beberapa hari ini! Oh iya, sebelum kamu kembali ke kota, tolong belikan beberapa setel baju untukku, lengkap sama **********. Pokoknya semua keperluanku disini, kamu mengertikan?" kata Hans, yang terlihat ia masih berjalan, dengan mata yang masih melihat kesekitar yang ia lewati.

__ADS_1


"Saya mengerti Bos! Kalau saya permisi!" pamit Tio.


"Hmm!" Setelah mendapatkan isyarat dari Hans, Tio pun beranjak meninggalkan Hans, yang terlihat masih menelusuri jalan setapak area perkebunan teh.


Disaat Hans sedang menikmati suasana pedesaan itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti, tatkala ia melihat seorang wanita bercadar, sedang memetik sayuran hijau nan segar dari sebuah kebun kecil yang terletak di belakang rumahnya. Hans tersenyum tipis, saat wanita yang amat ia kenali itu sedang menikmati memetik sayurannya. Hans pun langsung menghampirinya.


"Apa yang sedang kamu lakukan Nayah?" tanya Hans, saat jaraknya tinggal beberapa langkah saja dari Inayah, yang saat ini sedang memetik cabe rawit.


Mendengar suara bariton milik Hans, membuat Inayah nampak terkejut. Karena memang saat itu ia sedang fokus memetik cabenya. Sehingga ia tak menyadari kedatangan suaminya, "Eh! Bang Hans? Bikin kaget aja sih! Sudah nggak ngucapin salam lagi!" protesnya, yang terlihat dari sorotan matanya, pasti ia sedang cemberut kesal. Itulah yang dibayangkan oleh Hans.


Hingga tanpa sadar bibir Hans tersenyum tipis saat, ia membayangkan raut wajah istrinya yang terlihat imut tatkala sedang kesal, "Eh, hehehe, maaf Nayah, ya sudah aku ulangi lagi deh, aku balik kesana ya?" kata Hans, seraya ia melangkah menuju kepintu pagar yang terbuat dari bambu. Setelah berada diluar.


"Assalamu'alaikum istriku?" ucap Hans, seraya ia memperhatikan mata Inayah, yang terlihat sedang menyipit, menandakan ia seperti sedang tersenyum malu. Karena ia langsung menunduk wajahnya.


"Hai, Inayah bolehkah aku masuk? Aku ingin berkenalan dengan?" tanya Hans, seolah ia baru bertemu dengan Inayah.


"Eh, Apaan sih Bang? Jangan bercanda deh!" balas Inayah, terlihat ia sedang salah tingkah.


"Siapa yang bercanda? Orang aku serius kok, ingin mengenal lebih dalam lagi dan juga ingin mengajak kamu pacaran, apakah kamu bersedia Nayah?" ujar Hans, seraya ia mendekati wajahnya ke wajah Inayah yang saat ini kembali fokus kepohon cabe. Melihat wajah suaminya yang tiba-tiba menghalangi pandangannya pada pohon cabe membuat Inayah kaget.


Sehingga tubuhnya refleks mundur kebelakang, yang kebetulan dibelakangnya terdapat pohon cabe yang lainnya. Membuat ia hampir saja terjungkal. Untung saja Hans langsung menarik tangannya, dan otomatis Inayah langsung masuk kedalam pelukannya Hans. Membuat mata Inayah membulat sempurna menatap mata Hans.

__ADS_1


"Maaf Nayah, Aku kembali mengejutkanmu," kata Hans, dengan tatapan masih saling bertemu.


"Aah, ng-nggak papa Bang, Nayah masuk dulu ya, mau masak," balas Inayah, terlihat begitu gugup dan berusaha melepaskan diri dari pelukannya Hans. Setelah itu dengan langkah yang tergesa-gesa, ia pun bergegas memasuki rumah kecilnya itu.


Sedangkan Hans, langsung tertawa lucu melihat istrinya pergi dengan tingkah laku yang terlihat lucu dimatanya, "Hehehe.. ternyata dia lucu ya, bikin gemas. Eh, ada apa dengan diriku? Kenapa perasaanku jadi seperti ini ya? Aah, ini juga jantung, kenapa tiba-tiba berdetak kencang begini ya? Hmm.. sepertinya aku harus secepatnya ke spesialis jantung," gumamnya, seraya ia melangkah menuju pintu pagar tempat ia masuk tadi.


Setibanya ia didepan pintu pagar tersebut, Hans langsung menghentikan langkahnya, "Aah..iya! Bukankah Tio sedang pergi membelikan pakaian untukku? Sedangkan mobil yang satu lagi sudah aku suruh kembalikan? Lah sekarang aku harus pakai apa dong ke dokternya?" gumamnya lagi, nampak bingung, "Haiiis.. sudahlah kapan-kapan saja! Sebaiknya aku istirahat saja!"


Hans pun akhirnya memasuki rumahnya Inayah. Dan ia langsung disambut dengan aroma yang membuat perutnya, langsung meresponnya, "Humm...Sedapnya bauuu.." ucapnya dengan gaya mengikuti ekspresi wajah Ipin difilm Ipin dan Upin. Sambil mengikuti langkah kakinya, yang membawanya menuju ke dapur.


Sesampainya didapur, Hans terlihat terkejut melihat pemandangan yang tak biasa dimatanya. Karena ia melihat Inayah yang sedang memasak, masih memakai tungku yang bahan bakarnya masih memakai kayu, "Hah? Kamu memasak memakai kayu Nayah?" tanya Hans, yang terlihat ia benar-benar tak percaya, dijaman sekarang masih ada orang yang memasak menggunakan kayu. Padahal setahunya, untuk melihat kompor yang berbahan bakar minyak tanah saja, sangat langka. Karena setahu Hans, sudah hampir semua orang memakai kompor gas.


Lagi-lagi Inayah terlihat terkejut, tatkala Hans, mengeluarkan suaranya. Karena sudah pasti ia masih belum terbiasa dengan suara bariton milik suaminya itu, "Aaakh! iiis Bang Hans! Kenapa selalu bikin Nayah kaget sih?!" protes Inayah, yang ternyata ia telah membuka cadarnya. Sehingga terlihatlah wajah cantiknya oleh Hans, yang terlihat Hans, seperti terperanjat saat melihat Inayah yang sedang menatap dirinya juga. Dan tiba-tiba saja Hans tertawa terbahak-bahak, membuat Inayah heran melihatnya.


"Hahahaha... Hahahaha..."


"Ikh, apaan sih tiba-tiba ketawa nggak jelas gitu! Bang Hans aneh deh!" gerutu Inayah, yang terlihat bingung melihat tingkah suaminya.


"Hahahaha.. tunggu sebentar aku Poto dulu ya wajah kamu!" Kata Hans, yang terlihat masih tertawa. seraya ia mengambil benda pipihnya, lalu ia fotokan wajah Inayah, nih lihat wajah kamu," katanya lagi, seraya menunjuk hasil fotonya ke Inayah.


"Haah! Kenapa wajah Ana comeng-comeng hitam begitu? Iis ini akibat, kayunya tadi sulit dinyalakan!"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2