GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
KENANGAN MASA KECIL.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Orang yang mulia Itu, Orang yang berbuat kebaikan. Mempersembahkan yang terbaik


Menutup keburukan dan berprasangka baik.


Walaupun mereka berbuat buruk kepadanya.


Bila Ada orang berkata-kata buruk(negatif)


Terhadapmu abaikan saja. Karena Diam mu jauh lebih baik dari pada debat. Karna yang mencintai mu tidak perlu penjelasan atas apapun. Dan


Dia yang membenci mu takkan mendengar penjelasanmu serinci apapun.


Jangan terpancing untuk marah. Jangan kecewa untuk membencim. Jangan pula bersedih untuk sakit hati. Jaga jarak, usahakan untuk tidak bertemu. Fokuslah kehidupan kita saja Dan hal-hal yang positif saja.


Ingatlah orang yang selalu mempunyai pandangan buruk terhadap orang lain adalah orang yang sedang hidup dalam kebohongannya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Setelah berbagai sesi acara di ulang tahun quadruplets selesai. Para teman-teman mereka satu persatu satu mulai meninggalkan Villanya Rio. Tinggallah Anak-anak dari Lima sekawan, karena orang tua mereka ternyata ikut hadir. Dan bahkan mereka mengadakan acara tambahan, yaitu acara bakar-bakar yang ternyata sudah direncanakan oleh Ardiyan dan para sahabatnya. Sehingga mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya.


Kini, mereka semua sudah berkumpul dihalaman belakang villa Rio. Canda tawa anak-anak mereka ikut menyemarakkan suasananya, yang terlihat mereka sedang bermain ayunan yang terikat disebuah pohon besar yang tumbuh dipinggiran sebuah danau buatan.

__ADS_1


Sementara para orang tua, wanitanya sedang sibuk membikin bumbu untuk ikan, ayam, dan daging yang mau dipanggang. Sementara para lelaki menyiapkan arang untuk pembakaran. Sembari menunggu bumbu sedang dipersiapkan, mereka memilih membakar jagung dahulu yang ternyata juga sudah dipersiapkan.


"Asap kesana emak elo jual kue..asap kesana Bapak elo makan jagung tuh," kata Dimas, saat asap kearahnya. Dan sambil mengipas jagung yang sedang dibakar.


"Apa Lo kate? Emangnya gue Bapaknya Asep apa? Yang ada Lo tuh yang cocok jadi bapaknya asap! Karena Lo kan yang bikin Asap jadi banyak!" protes Andi, yang terlihat nggak terima saat Dimas, menudingnya sebagai Bapaknya asap.


"Ah lu Bodoh dipiara, kambing dipiara bisa gemuk! Padahal gue tadikan cuma teringat masa kecil doang. Soalnya dulu saat gue dirumah nenek gue, anak-anak disana-sana suka ngomong gitu saat nenek gue bakar sampah Bro. Makanya tadi saat gue lihat asap, teringat hal itu," jelas Dimas, dengan tatapan yang sepertinya ia sedang menerawang, karena teringat masa kecilnya.


"Eh, emangnya Lo pernah menjadi anak kecil ya, Dim?" tanya Dika, dengan memasang wajah keterkejutannya.


"Aah, Dasar IQ Jongkok lu! Dimana-mana, setiap orang dewasa itu pernah merasakan jadi anak kecillah! Terkecuali lu tuh! Karena lahirnya beda planet jadi nggak pernahkan lu merasakan masa kecil lu?" balas Dimas


"Enak aja Lo ngomong! Gue pernah jugalah merasakan jadi Anak kecil! Tapi kalau diingat-ingat, masa kecil gue sangat menyedihkan, mungkin nggak seperti masa kecil kalian, yang memang berasal dari keluarga kaya," balas Dika, sesaat wajahnya sedikit berubah, karena mungkin ia teringat kenangan masa kecilnya.


"Emangnya ada apa dimasa kecil lo Dik?" tanya Rio, yang sepertinya hanya dia yang belum mengetahui masa kecil Dika. Karena sudah pasti kawan Dika yang lainnya sudah pernah tahu Karena memang mereka berteman saling terbuka, dan saling mendukung satu sama lainnya.


"Kenapa harus malu? Terkadang kenangan masa kecil justru membuat kita jadi terpicu ingin menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak Kitakan?" ujar Rio terdengar bijak.


"Aah, benar tuh Brian, karena gue juga seperti itu, gue selalu ingin menjadi seorang Ayah yang selalu ingin memberikan terbaik untuk anak gue. Karena gue nggak mau Anak-anak gue memiliki kenangan yang sama dimasa kecil mereka, Karena masa kecil gue yang hidup serba kekurangan, membuat gue menjadi seorang pemulung, untuk mengejar cita-cita gue! Aah kalau ingat itu, gue rasanya ingin menangis," ujar Dika yang terlihat matanya mulai berkaca-kaca.


"Sudahlah Dik, jangan dikenang lagi! Inikan hari bahagia, seharusnya kita mengobrol tentang masa depan aja, betul nggak, Guys?" timpal Wira, yang sepertinya ia tak ingin melihat sahabatnya itu sedih kembali.


"Setuju! Dari pada bersedih gimana kalau kita nyanyi aja! Ndi, mana gitar Lo, bukankah tadi Lo membawanya?" tanya Dimas, yang nampak ia juga ingin mengalihkan pembicaraan antara Rio dan Dika.


"Oh, dimana ya tadi gue naronya?" balas Andi, sambil matanya seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


"Noh gitar lu! Lagi dipegang Anak Lo!" ujar Ardiyan, seraya ia mengarahkan hari telunjuknya ke arah anak-anak yang sedang bermain.


"Oh iya, bentar gue Ambil," kata Andi, dan ia pun beranjak dari duduknya, lalu ia pun menghampiri anaknya, dan tak berapa lama ia kembali lagi dengan membawa sebuah gitar.


"Sini gue yang mainkan gitarnya," ujar Dimas, saat Andi, sudah kembali ditempat mereka duduk. Karena memang rumput dibelakang rumah Rio, begitu indah dan bersih, membuat mereka semua hanya duduk diatas rumput saja.


Setelah gitar sudah berada di tangan Dimas, ia pun mulai memetik gitar tersebut, "Apakah kalian punya request lagu?" tanyanya setelah ia mencoba gitar tersebut.


"Biar semakin seru, nyanyi lagu Mama Yo Quiero aja bro," celetuk Andi.


"Oke! Mainkan!" Dimas pun mulai memainkan gitarnya dengan musik bernada lagu, yang pernah dipopulerkan oleh warkop.


"Mamayukero mamayukero, mama yukero mama


Hati beta hati beta, hati beta ingin kenal dia. " suara Dimas, mengawali lagu tersebut.


"Mama mama mamayukero, mamayukero mamayukero mama. Hati beta hati beta, hati beta ingin kenal dia," sambut mereka secara bersamaan, sambil mereka bertepuk tangan mengikuti nada lagu. Sementara Andi, menyatukan kedua sendok makan, lalu satu sendok yang lain ia masukkan ketengah-tengah kedua sendok tersebut. Sehingga terdengar seperti suara kerecekan.


Mama mama mamayukero (mama)mamayukero (mama) mamayukero mama. Hati beta, hati beta


hati beta ingin menjodohkan anak gue sama Yumna!" suara Dimas kembali, sambil ia mengedipkan matanya pada Rio. Disaat bersamaan.


"Apa lu kata? Yumna itu calon menantu gue tau!" ujar seorang pria, yang sepertinya baru saja datang. Dan dengan spontan semuanya menoleh kesumber suara.


"Daffin?" ucap Rio.

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2