
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
"Lihat dengan Hati, maknailah dengan nyata!Manusia hanya sebutir DEBU pada MEGAHNYA SEMESTA. Namun didalam nya terdapat HATI &JIWA. Yang bisa memuat DUNIA & segala ISINYA. Yang pada akhirnya akan menjadi API atau CAHAYA..?"
"Jangan benarkan KEBURUKAN dalam hal BIASA namun biasakan KEBAIKAN dalam hal BENAR."
(Habib Achmad Al atthos )
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Seperti yang direncanakan oleh Yumna dan Yunda. Akhirnya mereka kini telah berada di pondok pesantren. Sementara itu Rio yang semenjak pulang dari kota JK. Ia sengaja selalu pulang kerja pada saat anak-anaknya telah tidur. Agar ia tak berjumpa dengan Naazwa. Dan ternyata setiap ia pulang kerja, sebenarnya ia selalu melihat anak-anaknya yang telah tertidur.
Seperti saat ini Rio diam-diam memasuki kamar Fanza dan Fasya. Dan terlihat keduanya nampak tidur begitu lelap dan ia pun membenarkan selimut mereka setelah itu ia memberikan kecupan lembut di dahi keduanya.
"Selamat tidur jago-jagoan Ayah, semoga kalian bermimpi indah," bisiknya pada Fanza dan Fasya.
Setelah itu ia pun keluar dari kamar para putranya. Lalu ia pun melangkah menuju kamar Yumna dan Yunda, yang kebetulan bersebelahan dengan kamar para putranya. Saat pintu telah terbuka, Rio nampak sedikit tersentak, karena melihat kamar kedua Putrinya ternyata kosong.
__ADS_1
"Eh! Kemana Yumna dan Yunda? Mengapa mereka tidak ada?" gumamnya sambil mengerutkan keningnya. "Apa mereka tidur bersama Nazwa ya? Ah coba deh ku lihat," Rio pun segera bergegas menuju kamarnya.
Sesampainya Rio didepan kamar, ia nampak terlihat ragu-ragu untuk membuka kamar tersebut, "Apakah dia sudah tidur? Kalau belum bagaimana?" gumamnya, "Ah, bodo amat kalau belum tidur! Guekan cuma ingin lihat anak-anak gue!" gumamnya yang kemudian, dengan perlahan ia pun memutar hendel pintu kamarnya. Dan terpampanglah kamarnya yang nampak megah namun terlihat kosong. Karena tak ada satu orangpun di sana.
"Kemana mereka?" gumam Rio, terlihat sedikit panik, sambil mencari keberadaan Naazwa, "Dia juga tidak ada! Kemana dia membawa anak-anakku?" gumamnya lagi, lalu ia pun bergegas keluar dari kamar tersebut. Dan langsung pergi ke kamar Ayahnya.
Setibanya ia didepan kamar Harun, Rio langsung mengetuk pintu kamar sang Ayah. Dan tak berapa lama Harun pun membuka pintu kamarnya, "Ada apa sih Nak? Malam-malam begini mengetuk pintu? Ganggu Papa tidur saja!" tanya Harun, dengan suara ciri khas orang bangun tidurnya.
"Pah? Yumna dan Yunda tidak ada dikamarnya! Dan Dia juga tidak ada dikamarnya juga! Kemana mereka Pah?" tanya Rio terlihat begitu penasaran.
"Dia? Dia siapa Nak?" tanya Harun kembali. Sebenarnya ia tahu maksud pertanyaan Rio. Namun ia sengaja memancing Rio, agar menyebutkan siapa dia yang dia maksud.
"Istri? Emangnya kamu punya istri Nak?" sindir Harun, seperti orang tak percaya.
"Eh, mengapa Papa ngomong begitu sih?" tanya Rio, terlihat polos.
"Ya karena setahu Papa kamu tidak punya Istrikan? Memangnya siapa Istri kamu Brian?" tanya Harun, dengan tatapan sinisnya.
"Papa kenapa sih? Pertanyaannya kok aneh begitu sih? Bukankah Papa tahu! Kalau Naazwa istrinya Brian," jawab Rio, dengan tatapan yang herannya.
__ADS_1
"Aah, masa sih? Setahu Papa diakan hanya baby sister untuk anak-anak kamu sajakan? Mengapa kamu bilang dia istri? Memangnya kamu sudah memenuhi kewajiban kamu sebagai suaminya Nak?" sindir Harun lagi. Membuat Rio terdiam sesaat. Terlihat jelas ia tak bisa menjawab pertanyaan sang Ayah. Karena memang kenyataannya ia tak pernah memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.
"Huh! Kalau nggak bisa menjawab! Jangan pernah mengaku-ngaku kalau Naazwa itu istri kamu! Aah, sudah sana kembali ke kantor kamu saja! Jangan ganggu Papa tidur lagi!" ujar Harun, Lalu ia kembali masuk kedalam kamarnya. Dan bermaksud menutup pintu kamarnya kembali. Namun tangan Rio langsung menahan pintu tersebut.
"Pah, sebentar! Katakan pada Brian kemana mereka pergi Pah?" desak Rio, berharap sang ayah mau memberitahukan keberadaan anak-anaknya.
"Papa nggak tahu! Cuma tadi Hans menjemput mereka, setelah itu Papa nggak tahu lagi!" balas Harun dengan datar.
"Apa! Mau apa dia menjemput Istri dan anak-anakku Pah?" tanya Rio lagi dengan wajah terlihat tidak senang.
"Mana Papa tahu! Mungkin dia sudah sadar kali, kalau dia telah salah, harus mengikhlaskan calon istrinya pada orang yang tak punya tanggung jawabnya! Jadi wajarkan kalau ia ingin mengambilnya lagi!" balas Harun ngasal, karena sebenarnya ia sudah sangat geram dengan sikap Rio yang tidak memperdulikan Naazwa.
"Eh, mana bisa begitu Pah! Seenaknya saja dia mau mengambil istriku! Lagian tanpa surat cerai, dia tidak bisa menikahinya!" ujar Rio yang nampak ia sudah tersulut api cemburu.
"Ya sudah kalau begitu cepat kamu ceraikan dia. Biar dia tak tersiksa batin karena menjadi istri kamu, yang hanya kau jadikan dia sebagai Baby sister kamu saja!" balas Harun memancing Rio agar ia sadar akan kesalahannya.
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi! Karena dia akan tetap menjadi milikku!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1