
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Teruslah melangkah selama engkau berjalan dijalan kebaikan. Meski terkadang kebaikan tidak
senantiasa dihargai. Akan tetapi teruslah berjuang! Gagal itu urusan nanti, yang penting berani untuk mencoba dulu. Dan sertakan sabar didalamnya.
Dan ingatlah suatu hari nanti, Sabarmu akan terbayar, lelahmu akan hilang, sakitmu akan sembuh, kamu harus ingat, Allah tidak buta dan pasti membalas semua jerih payahmu itu. Dengan sesuatu yang indah.
So, jangan meminta kepada Allah untuk meringankan masalah kita, tetapi mintalah agar dikuatkan untuk menghadapi masalah.
Karena hanya Allah lah yang berkehendak atas semuanya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Setelah mendengar pengakuan dan cerita dari Fanza. Naazwa jadi merasa bersalah, pada quadruplets. Karena ternyata setiap quadruplets berulang tahun. Rio akan selalu membawa mereka, pergi berziarah kubur ke makam Ibu mereka. Makanya walaupun mereka tak dapat merasakan perayaan ultah. Namun mereka tetap senang, karena bagi mereka, berziarah ke makam Cindy, berasa sedang bertemu dengan Sang Ibu.
"Aah.. kasihan Fanza, sepertinya aku harus berbicara dengan bang Brian. Oh iya besokkan Sabtu, jadi sudah pasti Bang Rio liburkan? Kalau begitu harus secepatnya ngomong dengan Bang Brian," batin Naazwa, yang saat ini mereka sudah berada di dalam mobilnya lagi.
"Gilang, kita kekantor Bang Brian saja ya?" titahnya pada Gilang, yang sepertinya Naazwa tidak ingin menunda-nunda niatnya, yang ingin mengabulkan permintaan Fanza, yang ingin berziarah ke makam Cindy.
"Baik Bu!" balas Gilang dengan singkat, dan ia pun langsung mengarahkan mobil menuju ke perusahaan Rio.
"Mau ngapain kita ke perusahaan Ayah, My?" tanya Fanza dengan gaya datarnya.
"Ada deh..! Rahasia dong," balas Naazwa, sembari mengedipkan sebelah matanya lagi pada Fanza. Membuat bocah laki-laki, kembali berdecak kesal.
"CK! Hobi banget ya Mymah, main rahasia! Ya sudah lupakan saja pertanya Anza tadi!" ujar Fanza datar, seraya ia melipat kedua tangannya kebawah dadanya, sambil membuang wajahnya kearah jendela disisinya.
__ADS_1
Naazwa langsung tersenyum lucu melihat tingkah anak sambungnya itu, yang terlihat begitu mirip dengan suaminya. Sebenarnya ia begitu gemas dan ingin sekali mengusap-ngusap kembali rambutnya. Namun karena ia tahu Fanza paling anti kalau rambutnya dipegang membuat Naazwa menahan keinginannya tersebut.
"Huh..! Lihat saja nanti, kalau sudah sampai di kantor Bang Brian Ana akan melampiaskannya pada ayahnya! Siapa suruh punya anak mirip banget sama dia," batin Naazwa. yang terlihat ia masih melihat menatap wajah tampan Fanza. Dan seketika ia teringat pada perutnya, yang terlihat mulai membuncit.
"Apakah nantinya anak Ana juga akan mirip seperti ayahnya?" batin Naazwa, seraya ia mengelus perutnya yang sedikit membuncit itu. Dan disaat bersamaan.
"Kita sudah sampai Bu!" Suara Gilang menyadarkan Naazwa, dari lamunannya.
"Aah..! Iya terima kasih Gilang!" ucap Naazwa, pada Gilang ketika ia membantu membukakan pintu mobil untuknya, dan hanya dibalas Gilang hanya dengan anggukan saja, "Ayo Fanza, kita menemui Ayah kamu," lanjutnya lagi pada Fanza, Mengajaknya turun dari mobilnya.
"Nggak mau Ah Mymah! Anza tunggu disini saja!" balas Fanza yang terlihat masih duduk dengan posisi yang sama. Bahkan ia masih menatap kearah jendela disisinya, tanpa melirik sedikit pun pada Naazwa. Membuat Naazwa semakin gemas.
"Hum.. emang kamu nggak kepingin ketemu sama Ayah kamu Nak?" tanya Naazwa lagi.
"Ngapain! Lagian nanti dirumah juga bakalan ketemu!" balas Fanza, masih tak ingin melihat ibu sambungnya.
"Haiiis..! Ya sudahlah, kalau begitu Mymah masuk sendiri saja!" kata Naazwa, mulai geram, karena merasa diacuhkan oleh Fanza, "Gilang kamu temani Fanza disini ya? Saya mau menemui Bang Brian dulu," titahnya pada Gilang.
Setelah mendapatkan jawaban dari Gilang, Naazwa pun beranjak dari sana dan langsung memasuki pintu lobiy kantornya Rio. Naazwa langsung berjalan menuju ke lift dan langsung memasukinya. Perasaan kesalnya pada anak sambungnya. Membuatnya ingin sekali segera sampai keruangan Suaminya. Sehingga ketika pintu lift kembali terbuka ia pun langsung bergegas ke luar. Dan ketika ia hendak berjalan menuju ke ruangan Rio, tiba-tiba seorang wanita menyapanya.
"Selamat siang Bu Naazwa? Apakah Anda ingin menemui Pak Rio?" tanya wanita itu yang tampaknya ia adalah sekertaris Rio.
"Eh Dina? Ah iya Din, apakah Pak Rionya ada didalam?" tanya Naazwa balik.
"Ada Bu, hanya saja saat ini sedang ada tamu, diruang Pak Rio, Bu," jawab Dina dengan sopan.
"Ooh, ya sudah saya tunggu disini dulu deh," kata Naazwa, yang kemudian ia langsung duduk kursi, yang ada didepan meja sekertaris milik Dina.
"Iya Bu, silakan. Oh Anda mau minum apa Bu?" tanya Dina lagi.
__ADS_1
"Tidak usah Din. Eh tapi apakah ada minuman yang segar-segar Din?"
"Apakah jus maksudnya Bu Nazwa?" tanya Dina kembali.
"Boleh, tapi kalau bisa Jus, sirsak ya Din," balas Naazwa.
"Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar ya," ujar Dina, dan ia pun langsung pergi meninggalkan Naazwa. Dan baru saja Dina pergi, pintu ruangan Rio pun terbuka, dan tak berapa lama keluarlah dari dalam seorang pria dan wanita, yang wajah keduanya seperti sedang kesal.
"Huh! Dingin banget sih jadi orang! Walaupun tampan kalau seperti itu, gua banget dah!" ujar sang wanitanya tatkala pintu kembali tertutup.
"Jangan berkata sembarangan Bella! Nanti terdengar olehnya bisa gagal rencana kita! Pokoknya kamu harus bisa membuat Dia secepatnya jatuh cinta sama kamu, agar secepatnya juga, kita mendapatkan tanah perkebunan sawit itu! Kamu mengerti!" ujar sang Pria, yang kini keduanya hendak memasuki pintu lift.
"Lo tenang saja Ton. Lo kan tahu, kalau Bella sudah menebarkan pesonanya. Tidak akan ada pria yang tak luput dari jeratan gue! Termasuk Rio si dingin itu!" balas wanita yang benama Bella, dengan penuh percaya dirinya. Sambil keduanya masuk ke lift.
"Astaghfirullah.. wanita itu seram banget ya? Sepertinya mereka memiliki rencana jahat deh! Hmm, seenaknya saja mau menjerat Suamiku? Emangnya dia apaan? Ini tidak boleh terjadi, aku akan selalu menjaga Suamiku!" gumam Naazwa, setelah pintu lift sudah tertutup.
"Aah, sebaiknya Ana masuk deh. Kasian Fanza dimobil," gumamnya lagi. Lalu ia pun langsung bergegas masuk.
"Assalamu'alaikum, Bei?" ucap Naazwa ketika ia telah berada di dalam.
"Wa'alaikumus salam, loh katanya kamu sedang sama Fanza, mana Fanza?" tanya Rio, terlihat sedikit kaget melihat kedatangan istrinya.
"Sebelum Zwa, menjawab, boleh nggak Zwa unyel-unyel Bibei dulu?" tanya Naazwa, seraya ia mendekati suaminya, bermaksud ia mengacak-ngacak rambut Rio. Namun baru saja ia sampai, Rio sudah langsung menarik tangannya dan langsung mendudukinya diatas pangkuannya.
"Boleh! Tapi gantian ya? Da sekarang giliran Bibei dulu oke!" balas Rio seraya ia membuka cadarnya Naazwa, dan langsung mencapakkan kelantai. Dan ia pun langsung meraih bibir ranumnya Naazwa. Membuat mata Naazwa membulat sempurna.
"Uhmmm!!!" protes Naazwa sembari ia mendorong wajah Rio, sehingga tautan pun terlepas, "Bibei! Curang bange..." protesnya lagi. Namun langsung terpotong oleh bibir Rio, yang kini kembali mendarat kebibirnya.
"Ummm!!!!"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...