
*═══❉্͜͡💚Mutiara Hikmah.💚❉্͜͡═══*
Ujian yang paling berat adalah yang terjadi pada saat kita sedang bahagia .
Mengapa?
Kerana pada saat kita bahagia, adakalanya kita lupa diri. Ada kalanya juga pada saat kita bahagia, kita lupa kepada-NYA. Dan terkadang pada saat kita bahagia, adakalanya kita menyombong diri.
Ingatlah.
Allah menguji kita dengan kesedihan dan Allah juga menguji kita dengan bahagia.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
••┈┈••✾•◆❀◆•✾••💚••✾•◆❀◆•✾••┈┈••
"Maaf Yumna, maafkan Mama,"ucap Naazwa, sambil memeluk tubuh Yumna dari belakang. Lalu ia memutarkan tubuh gadis kecil itu, untuk menghadap pada dirinya, yang saat ia sedang berdiri di atas lututnya, agar bisa mensejajarkan tubuh Yumna dengannya.
"Kamu salah paham Nak, tolong dengarkan Mama, justru karena sayangnya Mama, sama Yumna makanya Mama melakukan ini Nak, Mama nggak mau Yumna sedih nantinya Sayang, maka dari itu Mama menjauh dari kamu, biar kamu bisa melupakan Mama," jelas Naazwa, sambil mengusap air mata Yumna, yang terlihat sedang mengalir begitu deras.
"Tapi kenapa Mah? Apakah Umna sudah melakukan salah? Hiks..hiks.." tanya gadis kecil itu, dengan tatapan yang begitu menyedihkan.
"Tidak Sayang! Kamu tidak salah," kata Naazwa sembari menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa Mah? Apakah Umna tidak pantas memiliki Mama? Hiks.. hiks..hiks.." lirih Yumna yang isakannya semakin memilukan. Dan pertanyaan serta isakannya itu terasa menyayat hati Naazwa.
"Sayang, jangan berkata seperti itu. Hati Mama terasa sakit, hiks..hiks..Kamu pantas memiliki seorang Mama, hiks..tapi itu bukan Aunty Azwa, Sayang," balas Naazwa, yang kini air matanya sudah tidak bisa dibendungnya lagi.
"Tapi kenapa Mah? Hiks..hiks.." tanya Yumna yang terlihat ia belum memahami perkataan Naazwa.
"Yumna, lima hari lagi, Aunty akan menikah dengan Uncle Hans, dan itu artinya Aunty akan memiliki keluarga sendiri, anak-anak sendiri. Jadi nggak mungkinkan Aunty, bisa selalu bersama Yumna? Jadi Aunty mohon Yumna jangan biarkan diri Yumna terobsesi sama Aunty, ya?" jelas Naazwa, dengan lembut dan dengan berhati-hati sekali.
"Mah? Seandainya Uncle tidak jadi menikah dengan Mama, apakah Mama, tetap akan jadi Mama Umna?" tanya gadis kecil itu terdengar lirih.
"Insya Allah, bila Allah berkehendak,Yumna," balas Naazwa, kembali menghapus air matanya.
"Jangan insya Allah Mah, tapi Mama harus berjanji," desak Yumna, sambil memegang kedua pipinya Naazwa.
__ADS_1
"Tidak bisa Umna, Aunty tidak berani berjanji lagi," kata Naazwa, sambil meraih kedua tangan Yumna yang berada di pipinya.
Mendengar jawaban Naazwa Yumna pun menunduk wajahnya, "Umna paham, hiks..hiks..Umna juga nggak mau Mama berjanji lagi! Hiks..Janji yang dirumah sakit saja, Mama sudah mengingkari! Hiks ..hiks.. Kalau Umna tahu itu bohong! Hiks..hiks..mungkin Umna lebih memilih ikut sama Mama hiks yang melahirkan Umna saja..hiks..hiks.."
Naazwa langsung tersentak saat mendengar perkataan Yumna, seketika ia langsung memeluk Yumna, "Tidak Yumna, jangan berkata seperti itu Nak, hiks..hiks.. ! Maafkan Aunty, Yumna, Aunty benar-benar tidak berdaya! Hiks..hiks.. Aunty tidak bermaksud membohongi kamu Yumna, hiks..hiks,"
Tangis Naazwa pecah, hatinya begitu sakit, mendengar perkataan Yumna, perasaan bersalah, perasaan takut terkumpul menjadi satu didalam hatinya. Membuat nafasnya terasa sesak, kala membayangkan, perkataan Yumna yang lebih memilih ikut keibu kandungnya. Itu artinya ia takkan pernah melihat gadis kecil nan pintar itu.
"Mama, Umna lelah, Umna ingin tidur," ucap Yumna terdengar lirih.
"Baiklah kalau begitu Umna, bobo dulu dipondok Aunty ya," balas Naazwa, namun tak direspon oleh Yumna, karena ia sudah terkulai didalam pelukannya Naazwa, "Yumna?" pangginya dengan lembut.
Namun Yumna kembali tak meresponnya. Membuat Naazwa sedikit cemas, lalu ia pun segera menggedong Yumna, dan membawanya kepondok miliknya. Setelah Naazwa menghilang di balik pintu pondoknya.
Tiba-tiba seorang laki-laki muncul dari balik sebuah pohon. Matanya terlihat memerah, bahkan butiran air matanya sempat jatuh. Namun dengan cepat ia menepisnya, lalu ia pergi begitu saja, dengan langkah cepatnya.
...*****...
Sementara didalam pondok Naazwa.
"Tapi kenapa muka kamu memucat Yumna? Apakah kamu baik-baik saja Nak?" Naazwa terlihat begitu cemas melihat wajah Yumna, yang semakin lama semakin memucat.
"Apa sebaiknya Ana panggil Bang Dika saja ya? Tapi pasti saat ini Bang Dika sedang sibuk, inikan jam kerja," gumam Naazwa yang terlihat semakin resah. Atau sebaiknya Ana bawa kerumah sakit aja kali yaa?" gumamnya lagi, sembari ia menyentuh dahi Yumna.
"Astaghfirullah kamu demam Yumna! Sebaiknya Ana bawa dia kerumah sakit saja!" Naazwa pun bermaksud menggendong tubuh Yumna, kembali. Namun tangan Yumna malah meraihnya, dan meletakkannya di dadanya.
"Mama? Umna tidak apa-apa kok. Umna hanya lelah saja kok Mah," kata Yumna dengan suara terdengar lemah, namun bibirnya dihiasi senyum manisnya, pada Naazwa. Lalu dengan tatapan matanya yang begitu sendu,Yumna menatap mata Naazwa, seraya berkata, "Mama? Bolehkah Umna, bobo dipelukkan untuk terakhir kalinya?"
Mendengar perkataan si kecil, entah mengapa dada Naazwa tiba-tiba berdesir. Dan entah mengapa juga tiba-tiba ia dirundung rasa takut yang tidak biasa. Ditambah lagi perasaan yang tidak enak, membuat semakin tidak menentu.
"Apa yang kamu katakan Yumna! Tidak boleh mengatakan terakhir kali! Untuk itu tidak boleh membantah Mama! Kita harus segera kerumah sakit!" kata Nazwa, lalu ia pun langsung menggendong tubuh Yumna, dan dengan langkah cepat ia mencari pertolongan agar secepatnya ia bisa sampai kerumah sakit.
"Yumna?" Tiba-tiba seorang pria menyebut namanya dan ia pun langsung menoleh.
"Bang Hans? Bang bisa antar Ana kerumah sakit?" pintanya pada pria itu yang ternyata ia adalah Hans. Melihat sorot mata kekhawatiran Naazwa, Hans pun langsung ke mobil dan membukakan pintu mobilnya
"Masuklah Yumna," katanya. Dan tanpa berbasa-basi lagi Nazwa pun langsung naik. Dan tak berapa lama Hans pun ikut naik dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Oh iya selagi menunggu Author update kembali, yuk kepoin Novel terbarunya nan keren milik Author
...*═══❉্͜͡💚 SKYSAL 💚❉্͜͡═══*...
Biar pada penasaran Author kasih Cuplikannya Yee cus Cekidot 😉.
Judul : Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
Penulis :SkySal
Cuplikan bab....
"Kau ... sangat indah, Zeda Humaira. Aku bahkan tidak bisa menemukan kata-kata yang pantas untuk menggambarkan keindahanmu." Aira langsung tersipu malu mendengar pujian suaminya itu, pria pertama yang menatap wajahnya dan memujinya dengan begitu mesra.
"Bolehkah jika sekali lagi aku mengecup keningmu sebagai ungkapan cintaku?"
"Apa kau ... mencintaiku?" Tanya Aira dengan kening yang sedikit berkerut.
"Tentu, kita menikah memang karena di jodohkan, tapi aku menikahimu, mengucapkan akad atas namamu, karena aku mencintaimu. Aku tidak tahu kenapa dan bagaimana, tapi di sini...." Arsyad membawa tangan Aira ke dadanya, dimana jantungnya berdetak sangat cepat. "Ada cinta untukmu."
"Cintamu adalah anugerah yang luar biasa untukku, Mas Arsyad," jawab Aira lirih.
"Aku hanya berharap, juga ada cinta untukku di hatimu, Aira."
Arsyad mendekatkan wajahnya ke wajah Aira kemudian ia mengecup kening Aira dengan begitu lembut sementara Aira hanya bisa memejamkan mata, menikmati kecupan suaminya yang terasa begitu hangat di hatinya.
"Apa yang kau inginkan dariku dan dari pernikahan kita, Sayang?" Tanya Arsyad kemudian.
"Membawa cinta kita bertasbih, Mas Arsyad."
pasti penasarankan 🤭
Cus Akh jangan lupa mampir ya, dan jangan lupa berikan dukungannya juga oke 😉 Syukron 🥰😘🙏
__ADS_1