GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
DIA ISTRIKU.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


Dear Readers, Hidup ini terlalu singkat untuk kita melupakan apa itu saling menghargai dan mensyukuri. Terlalu singkat untuk mendendam dan menyimpan kebencian. Rugi rasanya didalam kehidupan kita hanya melakukan hal-hal yang membuat kita akan menyesal dikemudian hari.


Maka untuk itu, selagi masih ada waktu dan kesempatan. Yuk, Perbaiki diri dan bersihkan hati saling menghargai, memaafkan dan berbagi.


Karena Kita tidak pernah tahu kapan kita akan pergi. Maka jadikanlah hidup kita semakin lebih baik dan lebih berarti lagi.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Didaerah ST.


Semenjak melihat Inayah yang ketakutan ketika melihat kamar. Hans pun berinisiatif untuk menjaga jarak dari Inayah. Karena entah sejak kapan, ia tak bisa mengendalikan dirinya bila sudah berada didekat Istrinya. Makanya ia lebih memilih menjaga jarak dari istrinya, agar tak menyakiti Inayah lagi.


Akan tetapi ternyata perlakuan Hans, yang menjaga jarak itu malah membuat Inayah sedih. Pasalnya, Hans jadi jarang mengobrol dengannya lagi. Ditambah lagi kini Hans sudah mulai, melaksanakan tugas yang diberikan Ardiyan untuk mengelola perkebunan tehnya. Membuat mereka semakin jarang mengobrol, terkecuali malam dan pagi saja. Seperti saat ini, terlihat mereka sedang menikmati sarapan bersama.


"Hmm..apakah hari ini Abang akan pergi lagi?" tanya Inayah, di sela-sela sarapannya.


"Iya Sayang, Akukan pergi untuk bekerja, kan kamu tahu sendiri Nayah? Sudah hampir satu bulan aku tidak bekerjakan? Sementara kebutuhan kita semakin banyak, makanya sekarang aku harus giat bekerja untuk kamu dan masa depan kita Nayah," balas Hans, memberi pengertian pada Haniah.


"Emangnya nggak papa Abang kerja di perkebunan teh? Nanti kalau Abang hitam gimana?" tanya Inayah, yang sebenarnya ia tidak tega, saat melihat Hans, ketika hari begitu panas ia masih berada ditengah-tengah perkebunan teh. Padahal ia tahu, kalau biasanya bekerja di kantornya Ardiyan, yang sudah pasti ia akan berada di ruangan ber-AC.

__ADS_1


"Yaa mau bagaimana lagi sayang? Kan kamu tahu sedikit kalau didaerah sini pekerjaan amat sulit, dan yang ada cuma perkebunan teh. Jadi mau tidak mau, ya harus dinikmatikan? Yang pentingkan, Aku bisa menafkahi kamu, Sayang," balas Hans, yang sebenarnya ia berkata seperti itu, karena ia berharap Inayah menjadi iba, lalu ia sendirilah yang akan mengajaknya untuk kembali ke kota M.


Mendengar perkataan Hans, Inayah pun terdiam. Karena sudah pasti yang dikatakan suaminya benar adanya. Melihat kediamannya Inayah, Hans pun bangkit dari duduknya,


"Sudah jangan terlalu dipikirkan Sayang, Aku nggak papa kok, mau pekerjaan apapun, yang penting aku bisa menafkahi kamu. Jadi jangan berpikirkan lagi ya?" kata Hans, seraya ia mendekati Inayah, "Ya sudah Aku kerja dulu? Assalamu'alaikum," lanjut Hans lagi, seraya ia mengecup puncak kepala Inayah dengan kasih sayang.


"Hu'um, wa'alaikumus salam," jawab Inayah terdengar lirih. Setelah mendapatkan jawaban dari istrinya Hans pun langsung meninggalkan Inayah, yang terlihat ia masih belum beranjak dari tempat duduknya. Namun matanya masih tertuju pada punggung suaminya dengan tatapan Ibanya, hingga sang suami menghilang dibalik pintu rumahnya.


"Hmm.. apakah Ana terlalu kejam pada Suami Ana? Padahal bang Hans, selalu mengalah pada Ana, dia juga tak pernah mengungkit lagi, prihal pekerjaannya yang dikota. Karena ana tak pernah mau diajaknya. Dan sekarang Ana dengan kejamnya membatasi hasratnya. Jahat sekali sih Ana! Padahal Bang Hans baik banget sama Ana! Ana tahu kalau saat ini ia menjaga jarak, agar tidak ketakutan lagi, tapikan maksud Ana tidak seperti itu! Hah, Ana harus bagaimana?" batin Inayah, yang terlihat bingung.


"Huh! Tidak bisa begini! Kalau seperti ini, lama-kelamaan cinta bang Hans akan memudar pada Ana, pokoknya Ana harus perbaiki semuanya! Baiklah pertama-tama, Ana harus menemui Bang Hans dan meminta maaf. Tapi sebelum pergi sebaiknya Ana bereskan ini dulu" gumam Inayah, seraya ia bangkit dari duduknya. Lalu ia pun membereskan meja bekas mereka sarapan tadi.


Setelah semuanya beres semuanya, Inayah pun langsung memakai hijab dan juga cadarnya. Setelah dilihatnya telah rapi, ia pun bergegas keluar dari rumahnya. Dan berniat mencari Hans, yang sudah pasti ia berada diperkebunan teh. Inayah kini sudah menelusuri jalan setapak diarea perkebunan teh, sambil matanya mencari sosok Hans.


"Huh! Ini nggak bisa dibiarkan!" gumam Inayah, yang kemudian ia sedikit mempercepat langkahnya. Namun karena posisi Hans berada diperkebunan dataran tinggi, membuat Inayah harus berjalan berhati-hati sekali. Ditambah lagi jalan tanjakannya terlihat licin, akibat hujan yang mengguyur tadi malam. Membuat ia semakin sulit mempercepat langkahnya.


"Astaghfirullah, kenapa licin banget sih?" gerutu Inayah, seraya ia melangkah sangat berhati-hati sekali, "Apa sebaiknya aku buka sendal saja ya?" gumamnya lagi, dengan tatapan masih mengarah kewanita tersebut yang ternyata masih menatap Suaminya.


"Huh! Nggak sopan sekali sih wanita itu! Nggak tahu apa kalau Pria yang sedang dia lihat suaminya orang! Aah pokoknya aku harus cepat kesana!" gumam Inayah, lagi sambil ia membuka sandalnya, berharap akan semakin mudah ia berjalan. Dengan tatapan yang masih mengarah ke Suaminya, Inayah pun melangkahkan kakinya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan. Ia malah terpeleset dan..


"Kyaaaaak!!!" jerit Inayah, Dan seketika tubuhnya terbanting, bahkan langsung meluncur ke bawah.


Mendengar jeritan Inayah yang begitu kecang, dengan spontan, Hans dan para Ibu-ibu pemetik teh langsung menoleh ke sumber jeritan tersebut. Dan betapa terkejutnya Hans, ketika ia melihat wanita bercadar terkapar di tanah.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Nayah!" pekik Hans, dan ia pun langsung berlari menuruni jalan yang sedikit terjal dan licin itu, diikuti oleh para ibu-ibu yang sepertinya penasaran pada wanita bercadar tersebut.


Setibanya mereka dibawah, Hans langsung membuka cadar Istrinya, lalu ia pun menepuk-nepuk pipi Inayah, yang sepertinya ia telah pingsan, "Nayah? Nayah! Bangun Nayah!" panggil Hans, namun tak ada respon dari Istrinya.


"Maaf Bang Hans, siapa perempuan ini?" tanya gadis muda, yang menjadi sumber kekesalannya Inayah, hingga ia mendapatkan musibah.


"Iya Nak Hans siapa wanita cantik ini? Sepertinya Nak Hans sangat mengenalnya ya?" tanya salah satu ibu-ibu pemetik teh.


"Dia Istriku, Bu!" balas Hans terdengar tegas, membuat gadis muda itu, terlihat begitu terkejut.


"Istri?" gumamnya dengan wajah terlihat sedih.


"Oh iya Bu? Apakah didaerah sini ada rumah sakit terdekat?" tanya Hans terlihat panik.


"Disini mah rumah sakit jauh Den. Tapi kalau puskesmas, dekat Den, disana dekat rumah pak kades," balas ibu pemetik teh lagi.


"Terima kasih Bu! Kalau begitu saya permisi!" ucap Hans, dan ia pun langsung menggendong Inayah dan pergi begitu saja meninggalkan para pemetik teh.


"Kamu pasti kecewa ya Ndok? Karena ternyata Nak Hans sudah punya istri," tanya seorang Ibu pada gadis muda tersebut.


"Yang sabar ya Ranti, ternyata dia juga bukan jodoh kamu," ujar ibu yang lainnya, "ya sudah ayo kita kembali bekerja," ajak Ibu itu lagi, lalu mereka pun mulai bergerak naik keatas lagi tinggallah wanita yang bernama Ranti, yang terlihat ia masih memandang jalanan kosong tempat Hans lewati tadi


"Hiks.. kenapa sih? Kenapa setiap aku mulai cinta pada seseorang pasti, akan begini jadinya. Tidak! Aku tidak akan menyerah, aku harus merebut Bang Hans!" gumam Ranti sembari menepis air matanya.

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2