
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Dear Readers?
"Jauhi prasangka burukmu, dan tetaplah berfikiran positif.Dan gunakanlah kesempatan terbaik untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Jadikanlah dirimu sebagai lautan yang luas. Apapun kejadian yang dialami kita harus terima dengan tawakal dan dengan iman yang tebal
Berbahagialah, jangan biarkan kesedihan menghancurkanmu. Ucapkan Alhamdulillah dalam setiap momen kehidupan yang kamu alami tetaplah ingat bahwa Allah selalu bersamamu."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Sesuai yang ditunjukkan oleh ibu pemetik teh, Hans pun membawa Inayah ke puskesmas terdekat. Rasa takut dan cemas menjadi satu, tatkala ia melihat wajah istrinya yang memucat. Saking khawatirnya ia sampai melupakan cadar istrinya yang tertinggal di lokasi ia terjatuh. Namun ia tak mungkin kembali lagi. Tetapi ia juga tak ingin istrinya kecewa, karena kelalaiannya.
Makanya ketika mobilnya sampai di depan puskesmas ia memilih tetap menggedong istrinya, walaupun para suster sudah membawakan brankar untuknya. Karena apabila digendong oleh, wajah Inayah bisa ia sembunyikan kedadanya. Dan setelah yakin tidak ada laki-laki diruang IGD, Hans langsung meletakkan tubuh Inayah ketempat tidur pemeriksaan.
"Tolong periksa istri saya Dok!" tegas Hans, terlihat begitu mencemaskan Inayah.
"Baik Pak! Tapi sebaiknya Anda keluar dulu ya Pak? Biar pemeriksaan secepatnya dilakukan,' ujar salah satu Suster dipuskesmas tersebut. Karena tak ingin mempersulit keadaan akhirnya Hans menurut perintah suster tersebut. Dan kini ia menunggu didepan pintu ruang IGD.
Sudah cukup lama Inayah mejalani pemeriksaan. Namun tak seorang pun yang keluar dari ruangan tersebut. Membuat Hans, menjadi gelisah, padahal ia sempat berpikir, luka Inayah cuma sedikit, jadi sudah pasti tidak akan lama. Namun ternyata pemikiran malah salah, karena sudah hampir satu jam lebih Inayah berada di ruang IGD.
"Haiis.. Kenapa lama sekali mereka didalam? Bukankah hanya luka kecil yang aku lihat tadi? Tapi mengapa lama sekali sih!" gerutu Hans, yang terlihat mulai gelisah. Dan disaat bersamaan, seorang gadis muda yang terlihat sedang membawa kantong plastik ditanganya, datang menghampiri Hans.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Bang Hans?" ucap wanita itu, terdengar begitu lembut.
"Wa'alaikumus salam, Eh, Ranti? Mau apa kamu kemari?" tanya Hans dengan wajah datarnya.
"Ah, itu saya ingin menjenguk istrinya Bang Hans. Oh iya bagaimana keadaannya Bang," balas Ranti, dan diakhiri dengan pertanyaan juga. Namun belum lagi, Hans menjawabnya, tiba-tiba pintu ruangan IGD terbuka dan muncullah seorang wanita berpakaian putih. Hans yang melihat itu langsung menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Hans terlihat begitu penasaran.
"Kami minta maaf Pak! Karena tidak bisa mempertahankan janin yang ada di rahim istri Anda," ujar sang Dokter, membuat Hans yang mendengarnya begitu terkejut.
"Hah! Janin? A-apakah itu artinya dia sedang hamil Dok?" tanya Hans, yang tiba-tiba saja ia menjadi gugup.
"Benar sekali Pak! Istri Anda sedang Hamil, tetapi kami tak bisa mempertahankannya Pak! Dan saya juga mau mengatakan, karna puskesmas ini peralatan belum lengkap, jadi kami tidak bisa mengeluarkan janinnya dan harus dibawa kerumah sakit besar Pak," jelas sang Dokter, membuat pikiran Hans tambah kacau. Karena rasa terkejutnya yang tadi belum hilang, malah ditambah masalah baru lagi.
"Baiklah kalau begitu! Tapi apakah saya bisa membawa istri saya dengan mengendarai mobil saya Dok? Soalnya saya lihat disini tidak ada mobil ambulance," tanya Hans lagi.
"Ya sudah kalau begitu, apakah sekarang saya sudah bisa membawa istri saya Dok?" tanya Hans, lagi.
"Silakan Pak!"
Setelah mendapatkan jawaban dari sang Dokter, Hans pun langsung memasuki ruangan IGD. Dan tak berapa lama kemudian ia kembali keluar dengan Inayah yang kini didalam gendongnya lagi. Lalu ia pun bergegas meninggalkan puskesmas kecil tersebut. Disaat ia berjalan menuju ke mobilnya, ternyata Ranti masih mengikutinya dari belakang.
"Bang Hans? Bolehkah Ranti ikut menemani isterinya Bang Hans?" tanya Ranti, saat ia melihat Hans memasuki tubuh Inayah kedalam mobilnya, dikursi belakang.
"Tidak! Karena saya akan langsung kembali ke kota!" balas Hans dengan ketus. Lalu ia pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kemudinya. Dan tak berapa mobil pun melaju meninggalkan Ranti yang masih terdiam terpaku memandang kepergian mobil Hans.
__ADS_1
"Yaaah gagal dong, mendekati Bang Hans!" gumam Ranti, terlihat sedih.
"Makanya kalau bermimpi jangan ketinggian Ranti! Kalau jatuhkan sakit!" celetuk seorang pria yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya Ranti
Mendengar celetukan pria tersebut, Ranti tersentak dan ia pun langsung menoleh ke belakang, "Eh! Bang Topan! Bikin kaget saja sih! Mau apa kamu kesini hah? Apa kamu sedang memata-mataku ya?" tanyanya, pada Pria yang dipanggil Topan tersebut. Dengan wajah yang terlihat kesal pada pria itu.
"Diih! Rugi banget aku memata-matai cewek matre seperti kamu! Jangan ge'er deh kamu! Aku kesini tuh, mau menemui Suster Dina, udah cantik baik lagi. Nggak kaya seseorang, yang sok kecantikan, matre lagi! Huh, nyesal aku pernah suka sama kamu!" pungkas Topanz, lalu ia pun berlalu pergi meninggalkan ranti begitu saja.
"Eh, sialan dasar cowok brengsek! Seenaknya saja mengata-ngatai gue! Awas saja kamu ya! Akan Aku buat kamu kembali mencintaiku dan disaat itu aku akan mencampakkan kembali!" gerutu Ranti, yang terlihat ia amat kesal pada pria yang bernama Topan tersebut.
"Aakh! Bodo akh! Sebaiknya Aku pulang saja! Semua bikin kesal hari ini!" Ranti pun melangkah pergi meninggalkan perkarangan Puskesmas dalam keadaan mulut yang masih mengedumel.
...*****...
Sementara disisi lain.
Karena istrinya harus dibawa ke rumah sakit besar. Hans pun memutuskan membawa Inayah kembali ke kota M. Dan untungnya saat ini Inayah masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sehingga itu kesempatan bagi Hans, mempercepat laju mobilnya. Namun tetap saja pikirannya masih teringat dengan perkataan sang Dokter, yang menyatakan Inayah Hamil.
"Hah! Bagaimana bisa dia hamil? Bukankah kami melakukannya belum lama ya? Kalau tidak salahkan belum ada sebulan? Masa iya sih sudah hamil saja?" gumam Hans, yang sepertinya ia tak mempercayai perkataan sang Dokter.
"Apa jangan-jangan...ah tidak!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Jangan lupa dukung author terus ya..🙏🥰
__ADS_1
jangan pelit dong untuk bonusin author dengan vote nya. biar author semakin semangat nih 🥺
dan berikan like , seta hadiahnya juga ya 😁😁 dan jangan lupa juga komentar para readers akan menjadi pemicu inspirasi author..jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 syukron 😊🙏