GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
PEMILIK TULANG RUSUK.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


JANGAN MENIKAH karena hanya jatuh cinta ,,,


Nanti hatimu akan terluka saat ia tak lagi MEMPESONA...


JANGAN MENIKAH karena bagus rupanya.


Karena kamu kecewa saat ia tua dan tak semenawan saat dia masih muda.


JANGAN MENIKAH karena hartanya.


Nanti hidupmu menderita disaat dia BANGKRUT tak punya apa-apa.


JANGAN MENIKAH karena rangkaian kata-kata.


Kelak hatimu kecewa saat dia tak ROMANTIS seperti dulu.


🍃🍃TETAPI🍃🍃


MENIKAHLAH dengan seseorang yang dapat menyenjukan mata hatimu.


MENIKAHLAH dengan seseorang yang siap menerima segala kekuranganmu dan senantiasa bersyukur menerima sedikit kelebihanmu.


BANGUNLAH rumah tangga bersama dia yang siap menggapai RIDHONYA dan yakin SYURGA semakin dekat saat bersamanya.

__ADS_1


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


"Kamu! Kamu!; Kamu! Berani sekali kamu memprovokasiku ya! Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi!" ujar Rio, dan benar saja, tanpa sungkan lagi, ia pun langsung meraih bibir ranumnya Naazwa. Bahkan ia sedikit mendorong tubuh Naazwa. Sehingga keduanya terjerembab ditempat tidur. Dengan posisi Naazwa berasa dibawah tubuhnya Rio.


Pada awalnya, ciuman Rio sedikit kasar, karena ia begitu gemas pada Naazwa. Namun lama kelamaan, ciuman itu menjadi lembut. Membuat Naazwa, ikut menikmatinya. Bahkan ia mampu mengimbangi permainan bibir suaminya. Membuat Hasrat birahi Rio, yang telah lama mati, kini bangkit kembali. Sehingga ia tak mampu untuk menahan lagi. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia pun menatap lekat wajah istrinya, setelah ia melepaskan tautannya.


"Naaz? Bolehkah aku memiliki kamu seutuhnya? Aku janji akan melakukannya dengan lembut," pinta Rio, dengan suara yang terdengar berat, seperti sedang menahan sesuatu.


Mendengar permintaan suaminya, Naazwa pun tersenyum lembut, sembari ia memegang kedua pipi Rio, "Lakukanlah Bang, I'm yours" bisiknya, Rio, pun tersenyum senang mendengar bisikannya.


Rio pun semakin bersemangat, dan langsung mengecup lembut dahi istrinya. Setelah ia melakukan ritual doa bersihgama. Dan tak lupa juga ia mengecupi seluruh wajah Nazwa, sampai akhirnya, ia menyatukan kembali bibirnya pada bibir Naazwa, seraya tangannya, melepaskan satu persatu, kain yang melekat ditubuh sang istri.


Rio, yang mendengar suara lenguhan tersebut langsung tersenyum tipis. Karena baginya suara tersebut terdengar indah ditelinganya. Sehingga ia semakin ingin mendengarnya kembali. Dan kini dari jalan setapak tersebut, ia mulai menelusuri area bukit kembar yang terlihat begitu indah dimata Rio. Bahkan, ia mulai bermain disana, menciumi, meremasnya, meninggalkan jejaknya, bahkan menghisapnya bak memakan permen Kojek yang terasa manis baginya.


Aksi perbuatan Rio tersebut, membuat Naazwa merasakan keanehan pada tubuhnya. Apalagi ini adalah hal yang pertama baginya. Sehingga ia tak memahami apa yang telah terjadi pada dirinya. Seperti tersengat aliran listrik, tubuhnya mulai bergetar, bahkan ia merasakan seperti ada sesuatu yang akan meledak didalam tubuhnya.


"Aakh..Bang Briaan, ukh.. hentikan itu!..humm..!" rancaunya, seraya ia ingin berusaha mendorong tubuh Rio, namun tangannya tak mampu mendorong tubuh kekar milik suaminya itu.


Rio, yang sudah berpengalaman dalam hal tersebut, membuat ia paham, kalau istri kecilnya itu hendak melakukan pelepasan pertamanya.


"Hum.. lepaskanlah Naaz, jangan ditahan.. karena kamu akan merasakan kenikmatan setelahnya," balas Rio, yang kemudian ia kembali memancing gairah Naazwa, agar ia segera mencapai puncaknya. Dan benar saja, tak berapa lama ia bermain kembali dipuncak bukit kembarnya, Naazwa langsung mengerang.


"Aaaakh...ah..ah..hm.."

__ADS_1


Rio yang melihatnya tersenyum penuh kemenangan. Karena ia berhasil, membuat istrinya mencapai puncaknya. Dan pada saat Naazwa masih memejamkan matanya tanda ia sedang merasakan kenikmatannya. Rio pun mengambil kesempatan itu. Dan sang pedagang pun mulai beraksi, dengan pelahan memasuki sarangnya.


Karena Rio tahu, istrinya masih perawan, ia pun melakukannya dengan secara lembut. Namun tetap saja, yang namanya selaput dara, yang memiliki lapisan yang berbeda-beda, bila tersobek sudah pasti akan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat bagi kaum wanita.


Begitu jugalah dengan Naazwa, ketika junior Rio, mulai menembus selaput daranya. Membuat ia mengarang kesakitan, hingga air matanya tak mampu terbendung lagi, "Aaakh...! Astaghfirullah sakit ya Allah...Ukh..!" pekiknya, sambil tangannya meremas lengan bagian atas Rio, syukurnya ia tak memiliki kuku yang panjang.


Melihat wajah istrinya yang sudah basah dengan keringat bercampur air mata. Membuat Rio, mempercepat ritmenya agar ia secepatnya mengakhiri permainannya. Dan tak berapa lama ia mulai mengerang tanda ia telah mencapai puncaknya. Begitu juga dengan Naazwa yang ternyata, ritme yang dilakukan Rio, mempengaruhi tubuhnya. Sehingga sekali lagi ia pun melakukan pelepasan keduanya, secara bersamaan dengan Rio. Membuat tubuh keduanya melemas.


Untuk sesaat Rio membiarkan tubuhnya tetap diatasnya Istrinya. Dengan wajah yang ia letakkan diantara leher dan dada Nazwa. Apalagi saat ini Naazwa sedang memeluknya dengan kuat. Mungkin karena ia masih menikmati pelepasan terakhirnya, atau mungkin ia sedang meredakan rasa sakitnya.


Berbeda dengan Rio, yang terlihat ia begitu puas, karena sudah bertahun-tahun ia tak merasakan kenikmatan bercinta lagi, setelah istrinya meninggal. Makanya ia hari ini ia begitu nampak bahagia, apalagi saat ia mendapatkan mahkota milik Naazwa. Membuatnya merasa ia adalah laki-laki yang amat beruntung. Rio mengangkat kepalanya, dipandanginya wajah istrinya yang penuh dengan peluh dan air matanya. Dan ia pun menghisap air matanya Naazwa, setelah itu ia mengecup lembut dahinya.


"Terima kasih Naaz," ucapnya sembari ia menatap mata hijau Naazwa dengan lekat. Karena Naazwa masih merasakan sakit, ia pun hanya membalasnya dengan memejamkan kedua matanya dengan singkat sembari ia tersenyum manis pada suaminya. Rio yang paham artinya ia pun ikut tersenyum membalas senyumannya Naazwa. Lalu dengan perlahan ia menarik juniornya yang masih berada didalam sarangnya Naazwa.


"Aaah.. Ssssh," ringis Naazwa yang mulai terasa perih.


"Sakit banget ya Naaz? Maaf, kalau..." tanya Rio dengan lembut. Namun ucapannya terpotong, karena tangan Naazwa langsung menutup mulutnya.


"Nggak kok Bang. Ini justru membuat Azwa bahagia, karena pada akhirnya, apa yang Azwa jaga selama ini, sudah diserahkan pada pemilik tulang rusuk Azwa," balas Naazwa dengan lembut. Membuat jantung Rio, berdegup amat kencang ia juga dapat merasakan getaran pada hatinya saat mendengar perkataan Naazwa.


"Terima kasih Naaz," katanya sambil ia memeluk tubuh istrinya, lalu ia juga mengecupi seluruh wajahnya. Dan sekali lagi Naazwa hanya membalasnya dengan Isyarat saja.


"Ya sudah, sekarang tidurlah Naaz, kamu pasti sangat lelahkan!" ujar Rio, sembari ia menarik selimut, lalu menutupi tubuhnya dan tubuh Nazwa. Setelah itu ia membiarkan kepala istrinya, tidur dilengannya, dan tak berapa lama, nafas Naazwa pun mulai teratur tanda ia telah terlelap. Tersenyum penuh kepuasan, saat menatap wajah cantik istrinya. "Selamat tidur Sayang, semoga bermimpi Indah," ucapnya seraya ia mengecup keningnya Naazwa, lalu ia pun ikut memejamkan matanya.


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2