GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
JANGAN MENYERAH.


__ADS_3

•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•


Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman :


“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At-Taghabun: 11)


Keberkahan seorang muslim salah satunya terletak pada hati yang tenang, ridho, tawakal atas segala hal yang terjadi dalam hidupnya..


HATI yang tenang akan bersyukur apabila menerima nikmat. Sabar bila ditimpa musibah. Rela memaafkan dan mudah meminta maaf apabila bersalah. Qanaah dengan rezeki yang ada. Tawakal apabila berusaha dan senantiasa bersangka baik dengan Allah dan manusia.


Semoga kita semua memperolehi hati yang tenang, dalam menghadapi segala ujian hidup, diberi kekuatan iman, Islam dan Ihsan serta diberkati dan dirahmati Allah ﷻ..aamiin


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


Setelah mendapat pertujuan dari Rio, Ardiyan yang sudah bertekad ingin membawa Hans kembali ke kota mereka. Dan ia pun langsung bergegas menemui Dokter, untuk meminta izin agar bisa membawa Asisten itu. Pada awalnya, sang Dokter seperti keberatan mengingat kondisi Hans, yang begitu lemah. Namun karena Ardian begitu ngotot ingin membawa Hans pulang, akhirnya sang dokter memberikan izinnya.


karena jarak antara kota A dan kota M lumayan jauh. Ardiyan dan Rio pun mempersiapkan segalanya untuk perjalanan mereka. Rio yang kebetulan membawa Gilang, memintanya, Menyetel bangku bagian belakang agar bisa membaringkan Hans, didalamnya. Dan karena kebetulan mobil Rio Mercedes-Benz V-Class memudahkan Gilang menyetel kursi-kursi itu menjadi seperti tempat tidur.



Setelah di rasa semuanya telah siap, Ardiyan pun meminta dua Suster untuk membawa Hans untuk di pindahkan ke mobilnya Rio. Setelah Hans sudah dibaringkan di dalam mobil. Mereka pun sudah bersiap untuk berangkat, dengan posisi Rio dan Gilang didepan, sementara Ardiyan menemani Hans dibelakang.


"Ar, apa Lo yakin, ini tidak akan apa-apa?" tanya Rio, terlihat ragu. Karena mengingat Hans yang terlihat begitu lemah.


"Bismillah aja, insya Allah nggak papa kok. Ya sudah ayo kita berangkat saja," balas Ardiyan, yang sebenarnya ia juga merasa khawatir. Namun, ia tepis, karena ia yakin, Hans pasti akan lebih baik, bila berada didekat istrinya.


"Baiklah kalau begitu, bismillah semoga tidak akan ada apa-apa. Ayo Gilang kita berangkat," kata Rio.

__ADS_1


"Baiklah! Bismillah," balas Gilang, dan ia pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan mereka tak banyak bicara, apalagi Ardiyan, yang begitu Fokus memperhatikan Hans, yang belum juga membuka matanya, sedari ia dalam rumah sakit. Sehingga ia tak tahu kalau saat ini ia sudah dibawa oleh Ardiyan dan Rio.


...•••••...


Dua jam telah terlewati.


Karena suasana mobil, begitu hening membuat Rio maupun Ardiyan, tampak ketiduran. Dan keduanya terlihat begitu nyenyak. Sehingga mereka tidak tahu saat tubuh Hans tiba-tiba kejang-kejang. Untungnya Gilang sempat melirik ke kaca spion tengahnya. Sehingga ia langsung tahu, dan seketika ia menghentikan mobilnya, secara mendadak membuat Rio langsung tersentak dan akhirnya terbangun.


"Ada apa Gilang?!" tanyanya, dengan suara ciri khas bangun tidurnya.


"Itu Pak! Bang Hans kejang-kejang Pak!" balas Gilang. Dan dengan sepontan Rio pun langsung menoleh kebelakang.


"Astaghfirullah! Ar bangun Ar! Ardiyan bangunlah! Cepat lihat Hans!" teriak Rio, dan seketika Ardiyan pun langsung bangun, dan langsung melihat Hans.


"Hans! Astaghfirullah.. seluruh badan kamu dingin, kamu kenapa Hans! Bangun Hans!" teriak Ardiyan seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya Hans. Namun, tak direspon sama sekali oleh Hans,


"Hans! Please Hans bangun Hans! Lo jangan bikin gue takut Hans! Cepat bangun Hans! Please jangan begini!" teriak Ardiyan, yang terlihat sekali ia begitu panik melihat keadaan Hans.


"Baik Pak!" balas Gilang, Ia mengikuti Rio melompati kursinya juga. Dan kini ia juga sudah duduk dibelakang. Bahkan ia langsung meraih kakinya Hans. Dan ia pun mulai memijatnya. Tampak Gilang lebih fokus pada titik saraf tertentu pada tubuh Hans, terutama pada kaki dan tangannya.


"Alhamdulillah, tubuhnya sudah mulai hangat kok Ar," kata Rio, saat ia memegang tangannya Hans.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu!" kata Ardiyan, terlihat sedikit lega. Dan tak berapa Hans pun membuka matanya. Membuat Ardian begitu senang melihatnya.


"Alhamdulillah, akhirnya lo membuka mata juga Hans! Begitu dong! Lo tuh harus semangat, ingat Lo punya Inayah Hans! Apalagi saat ini Inayah sedang mengandung anak Lo! Jadi Lo harus kuat, lawan penyakit Lo ini Hans! Jangan menyerah gitu dong! Bikin gue takut aja Lo!" kata Ardiyan, antara senang dan kesal jadi satu.


"Ma-af Pak! Sa-ya ju-ga nggak ing-in beg-ini!" balas Hans masih sedikit lemah.


"Gue tahu kok! Tapi Hans Lo tetap harus kuat, ini ujian buat Lo! Sepertinya Allah sedang sayang pada mu Hans, jadi gue harap Lo harus lebih bersabar, in shaa Allah ini semuanya akan segera berlalu," ujar Ardiyan, yang kini penuturannya sudah terdengar lebih lembut.

__ADS_1


"Lo bayangkan saja! Bagaimana perasaan lo jika diberitahu, bahwa Allah sangat menyayangimu. Bahkan Dia lebih menyayangi Lo lebih dari ibumu sendiri? Bukankah hal ini bisa melapangkan dadamu dan membahagiakan hati lo? Allah itu sangat sayang pada hamba-Nya, itu yang dikatakan di dalam Hadis.


Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Allah sangat menyayangi kita, lebih daripada ibu kita sendiri. Bayangkan saja, kita bermaksiat dalam keadaan tidak tahu malu kepada Allah, Allah terus menyembunyikan aib-aib kita. Kita juga sering melupakan Allah dalam hidup kita. Namun Allah tidak pernah sedetik pun melupakan kita.


Adakah yang kita minta kepada Allah, dan tidak Dia dengarkan? Adakah yang mengetuk pintu Allah, dan tidak Dia bukakan? Adakah yang meminta pertolongan, dan tidak Dia tolong?


Dialah yang merawat, bahkan saat kita terlelap.


Dialah yang menjaga, sejak fajar sampai akhir malam. Dialah yang terus memberi nikmat sehat, meski kita jarang mensyukurinya. Dialah yang menurunkan rezeki, meski kita kerap melakukan maksiat. Dialah yang menghadirkan cinta dalam hidup kita, meski kita tak menyadarinya.


 Siapakah yang lebih mengetahui diri kita selain Allah? Siapakah yang lebih pemurah selain Allah?


Siapakah yang lebih penyayang selain Allah?


Siapakah yang lebih pengampun selain Allah?


Siapakah yang lebih menginginkan kebaikan untuk diri kita selain Allah?


Tidak adakan? Hanya Allah, Hans! Jadi mohonlah pada Allah agar Lo bisa melewati ujian ini Hans," ujar Ardiyan, karena ia melihat ada kepuasan diraut wajahnya Hans.


Hans yang mendengarnya, merasa malu, karena hampir saja ia menyerah. Karena ia merasa tak sanggup lagi untuk menahan rasa sakit pada tubuhnya, "Te-ri-ma ka-sih Pak," balas Hans masih terdengar lemah.


"Sama-sama Hans! Sekarang sebaiknya kamu istirahat lagi ya? Mudah-mudahan saat kita sampai kamu sudah lebih baik lagi," kata Ardiyan lagi. Dan kata-katanya langsung disambut oleh Rio dan Gilang.


"Aamiin!" ucap Rio dan


...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...

__ADS_1


Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉


__ADS_2