
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
" 𝖳𝖾𝗋𝗄𝖺𝖽𝖺𝗇𝗀, 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝖻𝖺𝗂𝗄 𝗄𝗂𝗍𝖺, 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗋𝗂 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗁𝖺𝖽𝖺𝗉 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝖻𝖺𝗂𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗁. 𝖸𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝗄𝗂𝗍𝖺 𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗅𝖺𝗁 𝗄𝗂𝗍𝖺 𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉-𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉𝗄𝖺𝗇.
𝗜𝗻𝗴𝗮𝘁𝗹𝗮𝗵! 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗹𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗶𝗸-𝗯𝗮𝗶𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮.
𝖲𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖺𝗍𝖺 𝗝𝗮𝗹𝗮𝗹𝘂𝗱𝗶𝗻 𝗥𝘂𝗺𝗶 ;"𝐀𝐧𝐝𝐚𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐢 𝐫𝐞𝐧𝐜𝐚𝐧𝐚-𝐫𝐞𝐧𝐜𝐚𝐧𝐚 𝐢𝐧𝐝𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐛𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫-𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫-𝐍𝐲𝐚, 𝐦𝐚𝐤𝐚 𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐭𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐞𝐧𝐭𝐢 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐓𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Pondok pesantren An-Nur.
Seperti biasanya setelah mengantar quadruplets kesekolah. Naazwa pun langsung meluncur ke pondok pesantren An-Nur. Karena ia masih memiliki tanggung jawab, untuk mengajarkan para santriwati untuk berkuda serta memanah. Yang jadwalnya hanya dua kali dalam satu Minggu. Biasanya sebelum ia menikah, ia juga akan membantu para Ustadzah saat para santriwati dalam program tahfidz.
Akan tetapi setelah menikah, Naazwa lebih memilih banyak dirumah karena ia ingin menikmati menjadi seorang istri dan Ibu, untuk anak-anak sambungnya. Padahal Rio, tak pernah melarangnya apabila Naazwa, masih ingin mengajar di pondok. Bahkan selalu mendukung apa bila istrinya lebih memilih meneruskan pengabdiannya di pondok pesantren An-Nur. Namun tetap saja Naazwa akan datang ke pondok hanya ketika waktu jadwal programnya saja. Dan kini ia sudah berada di tengah-tengah para santriwatinya.
" kakak-kakak santri untuk hari ini kita memasuki program memanah saja yah!, untuk program berkuda di lain waktu saja yah !."
"Na'am ustadzah ....."sahut santriwati serentak.
Setelah santri watinya menjawab Naazwa pun mengambil posisi untuk mempraktekkan cara memanah pada santri wati namun ketika ia ingin menembakkan panah nya tiba-tiba saja tubuh nya terjatuh ke tanah dan ia tidak sadarkan diri.
seketika semua santri wati pun terkejut melihat Ustadzah mereka yang tiba-tiba saja terjatuh dan tidak sadarkan diri,dengan sepontan semua santri wati pun berteriak.
"Ustadzah...!!" kata mereka secara serentak. Seraya mereka menghampiri Naazwa. Lalu salah satu dari mereka pun langsung mengangkat kepalanya Naazwa, dan meletakkannya di pangkuannya.
"Ty, Wardah tolong panggilkan Ustadzah Nisah ya?" kata santriwati yang sedang memangku kepala Naazwa.
__ADS_1
"Na'am uty Haniin" jawab santri wati yang bernama Wardah.Dan ia pun langsung bergegas pergi untuk mencari Anisa . Dengan berlari kecil Wardah pergi menuju pondok utama sesampainya di depan pintu ia pun di kejutkan oleh Anisa yang ingin keluar dari ruangan.
"Astaghfirullah...!!"Ucap mereka bersamaan dengan nada agak sedikit keras.
"Wardahh!!...,kamu kenapa sih Wardah tergesa-gesa!, tidak baik dalam urusan yang tergesa-gesa.sudah tidak mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum masuk." tegur Anisa yang terkejut karna bertabrakan dan melihat Warda datang dengan tergesa- gesa.
"Aduh maaf Ustadzah maaf,maaf sekali Ustadzah itu anuu....itu...anuu...disana...itu...ustadzah anuu...maaf Ustadzah..."jawab Wardah dengan nafas yang tidak beraturan karna berlari dan panik.
"Istighfar Wardah pelan-pelan, tarik nafas ,keluarkan dengan perlahan."potong Anisa karna melihat Wardah yang tidak beraturan dalam berbicara.Dan membantu nya untuk mengendalikan nafas Wardah.
"astaghfirullah...haa...huuu..., Alhamdulillah Ustadzah.maaf sebelumnya ustadzah tidak menjaga adab sedari tadi, karna itu Ustadzah Yumna pingsan di lapangan memanah saat ingin mengajarkan kami." jawab Wardah dengan tenang karna arahan dari Anisa.
"Haa... astaghfirullah! Yumna pingsan?! Dimana sekarang beliau Wardah?" kejut Anisa dan bertanya keberadaan Naazwa pingsan.
"Itu Ustadzah di lapangan belakang pondok." jawab Wardah apa adanya.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita ke sana!" ajak Anisa. Lalu mereka pun bergegas pergi menuju lapangan yang berada di belakang pondok.
Tanpa berpikir lagi Anisa langsung memanggil santri untuk bersamaan mengangkat tubuh Naazwa ke ruangan pondok. "Haniin, Wardah bantuin Ustadzah untuk mengangkat Ustadzah Yumna ayo cepat!" titah Anisa pada para santrinya.
"Na'am Ustadzah!" balas keduanya. Lalu dengan dibantu dua orang lagi. Akhirnya Anisah berhasil membawa tubuh Naazwa, dan membawanya kepondok tempat Naazwa tempat istirahatnya saat ia masih tinggal disana.
Setibanya di pondok milik Naazwa, "Pelan-pelan yah kakak-kakak masuknya, jangan lupa juga baca do'a sebelum masuk." titah Anisa.
" Yah Ustadzah, in syaa Allah," jawab merek
Dengan perlahan mereka memasuki pondok tersebut. Dan dengan perlahan-lahan juga mereka menaruh tubuh Naazwa ke tempat tidurnya. Setelah itu Anisa duduk di samping Naazwa seraya memberikan minyak kayu putih kehidungnya Naazwa.
"Ya Allah Naazwa, sebenarnya Anti kenapa? Seharusnya kalau Anti tidak enak badan itu jangan memaksakan diri dalam beraktivitas " kata Anisa terlihat masih cemas. Sambil mengoleskan kayu putih ke kening dan hidung Naazwa. Dan tak berapa lama, Naazwa pun mulai tersadar.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya Anti sadar juga," kata Anisah mulai merasa lega. Lalu Anisah pun memberikan segelas air putih hangat pada Naazwa.
"Terima kasih Uty Nisah," ucap Naazwa dengan suara yang terdengar masih lemah.
"Sebenarnya Anti kenapa sih? Dan ana perhatikan beberapa hari ini Anti terlihat Aneh, sebenarnya ada apa Yumna?" tanya Anisah terdengar lembut.
"Maaf Ukhty, Ana juga nggak tahu, beberapa hari ini, Ana juga merasakan aneh pada diri Ana. Tapi Ana tidak tahu apa penyebabnya," balas Naazwa berkata apa adanya. Karena memang ia juga merasakan keanehan pada dirinya. Mendengar perkataan Naazwa, tiba-tiba Anisah teringat sesuatu.
"Hmm..Afwan Yumna, apakah datang bulan Anti lancar?" tanya Anisah terlihat berhati-hati sekali. Dan Seketika Naazwa pun mengingat jadwal biasanya ia datang bulan.
"Eh, sepertinya bulan ini Ana belum datang bulan Uty, dan tanggalnya, sudah terlewat jauh dari biasanya Itu," balas Naazwa apa adanya.
"Maa shaa Allah, sepertinya akan datang keluarga baru nih," kata Anisah terlihat senang.
"Eh, maksudnya Ty Nisah apa?" tanya Naazwa terlihat bingung.
"Maksudnya, sepertinya kamu hamil Yumna, untuk memastikannya, yuk kita kerumah sakit, untuk memperiksakan kebenarannya," ajak Anisah, terlihat senang sehingga ia terlihat begitu bersemangat. Namun tidak bagi Naazwa, ada keragu-raguan pada raut wajahnya.
"Benarkah Ana hamil? Hm.. apakah reaksi Bang Brian, kalau mengetahui Ana hamil? Apakah beliau akan senang? Apakah traumanya sudah benar-benar hilang?" batin Naazwa, yang entah mengapa ia malah menjadi cemas.
Melihat, raut wajah Naazwa terlihat berbeda, membuat Anisah menjadi penasaran, "Ada apa Yumna? Kenapa Anti terlihat tidak senang begitu?" Atau Anti, ingin perginya bersama suami Anti ya?" tanya Anisah, terlihat agak bingung dengan tingkahnya Naazwa.
"Tidak Uty! Kalau bisa beliau jangan tahu dulu!" balas Naazwa dengan spontan, dan raut wajahnya terlihat cemas. Membuat Anisah semakin penasaran.
"Ada apa Yumna? Kenapa kamu ingin menutupi, kabar baik ini pada suami kamu? Ingat itu tidak baik Yumna, karena Suami kamu itu berhak tahu!" tegur Anisah mengingatkan Naazwa.
"Aah, i-iya Ty, in shaa Allah Ana akan kasih tahu kok Ty, cuma.. secara perlahan," kata Naazwa, yang sepertinya ia tidak ingin Anisah tahu, kalau sebenarnya suaminya masih trauma akibat istrinya yang meninggal pasca melahirkan.
"Ya sudah terserah Anti saja, yang penting Anti harus segera memberitahukannya, oke?"
__ADS_1
"Na'am Ty, in syaa Allah,"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...