
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
BERSYUKUR DAN QANA'AH ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN
"Saya menjumpai bahwa orang yang paling banyak berduka adalah mereka yang ditimpa penyakit dengki. Dan yang paling tenang kehidupannya adalah mereka yang dianugerahi sifat qana’ah." (Ihya ‘Uluum ad-Diin)
Menjadi bahagia itu mudah, kuncinya adalah banyak bersyukur. Yang menjadikan manusia itu slalu rumit dan tak bahagia dalam menjalani hidup, sungguh datangnya dari diri manusia sendiri. Terlalu besar keinginannya, tak mampu menahan egonya, selalu saja merasa tak puas untuk hal duniawinya.
Bukan karena takdir ataupun ujian yg ALLAH berikan. Tapi karena terlalu ketidaktahuan kita dalam menyadari rasa syukurlah jalan satu-satunya untuk memperoleh kebahagiaan. Wallahu a'lam.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Ardiyan begitu panik ketika melihat Hans, sudah tak sadarkan diri. Lalu dengan dibantu oleh Asisten baru, ia pun membawa Hans, kerumah sakit terdekat. Dan kini Hans sudah berada freediruang UGD untuk melakukan pemeriksaan. Sementara Ardiyan dan Asitennya, terlihat sedang menunggu di depan ruang UGD tersebut.
Dan dua puluh menit kemudian, dokter yang tadi menangani Hans, tampak keluar dari ruangan tersebut.
Ardiyan yang melihatnya langsung menghampiri dokter tersebut, dengan wajah yang terlihat masih ada kekhawatirannya. Karena setahunya, selama mengenal Hans, Ardiyan tak pernah melihat Hans yang seperti itu. Bisa dikatakan Hans tidak pernah sakit. Terkecuali ketika ia terkenak tembakan dulu saat hendak menyelamatkan, Lisa istrinya Dimas.
"Gimana keadaan teman saya Dok?" tanya Ardiyan, ketika ia telah berada di hadapan dokter tersebut.
"Begini Pak, keadaan teman Anda kurang baik, Dia terkena gejala dehidrasi dan harus segera mendapatkan perawatan dan saat ini Dia sudah di infus Pak," jelas Dokter Pria yang dipanggil Dokter tersebut.
"Dehidrasi? Kok bisa? Kalau boleh tahu, apa penyebab teman Saya terkena gejala Dehidrasi itu Dok?" tanya Ardiyan tampak begitu penasaran.
"Penyebabnya, karena, banyak keluarnya cairan di tubuhnya dan itu sangat membahayakan pak. Dehidrasi juga disebabkan oleh penyakit, keringat berlebih, atau kurangnya asupan. Penyebab umumnya, Dehidrasi juga dapat disebabkan oleh hal-hal di luar penyakit. Contohnya meliputi hawa panas, aktivitas berlebihan, konsumsi cairan tidak mencukupi, keringat berlebihan, atau efek samping obat," jelas sang Dokter lagi panjang lebar.
__ADS_1
"Kalau teman Anda sepertinya, banyak mengeluarkan cairan, Namun asupannya sangat kurang. Dan sepertinya, teman Anda tidak makan sema sekali, makanya dia tidak memiliki tenaga sama sekali pak, " kata Dokter itu lagi, membuat Ardiyan terkejut mendengarnya.
"Apa! Kok bisa ya? Setahu saya teman Saya itu, tidak pernah ketinggalan kalau makan, bahkan ia selalu tepat waktu," balas Ardiyan, karena sepertinya ia tak percaya dengan perkataan sang Dokter tersebut.
"Saya tidak tahu itu pak! Tapi kenyataannya memang seperti itu! Baiklah kalau tidak ada yang ingin dipertanyakan lagi, boleh saya permisi?" ujar Dokter itu lagi.
"Ooh.. iya Dok, silahkan! Tapi sebelumnya boleh saya melihat teman saya itu Dok?" tanya Ardiyan.
"Silahkan Pak," balas Sang Dokter, lalu ia pun langsung pergi meninggalkan Ardiyan. Sedangkan Ardiyan langsung bergegas menuju ke kamar rawatnya Hans. Setibanya disana ternyata ia melihat Hans telah sadarkan diri. Namun masih terlihat begitu lemah.
"Hans? Alhamdulillah akhirnya Kamu sadar juga Hans?" kata Ardiyan terlihat ada perasaan lega, setelah melihat asistennya sudah membuka matanya kembali. "Bagaimana keadaan kamu sekarang Hans? Apakah ada yang tidak enak?" tanyanya lagi, setelah ia duduk di kursi yang berada disamping tempat tidurnya Hans.
"Alhamdulillah, saya sudah lebih baik Pak! Maaf, karena saya, sudah merepotkan Anda Pak," balas Hans terdengar jelas kalau ia masih dalam keadaan yang sangat lemah.
"Aah, lupakanlah! Tapi sebenarnya lo kenapa sih Hans? Kenapa tiba-tiba dokter mengatakan kalau terkena gejala dehidrasi? Dan apa benar Lo nggak makan-makan Hans?" tanya Ardiyan lagi, tampak ia begitu penasaran.
Ardiyan mengerenyit mendengar perkataannya Hans, "Ada yang Aneh? Maksud kamu apa Hans?" tanyanya terlihat penasaran.
"Pak, dari kemarin saya kesulitan minum air putih. Dan setiap saya memaksakan diri untuk meminumnya, perut saya langsung mual dan bahkan air yang saya minum langsung keluar lagi Pak, Ugh.. Hoeek...hah.. membayangkannya saja saya Ukgh..mual pak hoeek.." keluh Hans, yang terlihat ia kembali ingin muntah. Ardiyan melihat itu kembali cemas.
"Sakit apa sebenarnya Hans? Apa separah itu? Hanya teringat air putih saja dia merasa mual? Gue jadi cemas deh. Apa sebaiknya gue bawa dia kembali ke kota M ya? Biar Dika, secepatnya tahu sakit apa yang sudah di deritanya," batin Ardiyan, seraya ia memijat tengkuknya Hans.
"Jadi apa yang harus Lo minum Hans? Dokter bilang Lo kurang asupan, makanya Lo seperti ini?" tanya Ardiyan, mulai iba melihat Hans, yang terlihat begitu lemah.
"Saya tidak ingin minum Pak!" balas Hans yang terlihat matanya, seakan ingin terpejam saking lemahnya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau minum, tapi kamu harus makan bubur ini ya? Oh iya, kata Dokter kamu juga nggak makan-makan ya?" tanya Ardiyan seraya ia mengambil semangkuk bubur diatas meja yang letaknya di sebelah tempat tidurnya Hans.
__ADS_1
"Iya Pak, gimana saya Mau makan pak? Melihat makanan saja saya langsung mual, seperti tadi diwarung makan.. Ugh.. hoeek... Hoeek.. Hoeek..ukh.." balas Hans dan kembali ia muntah-muntah tatkala ia teringat pada makanan yang dipesan Ardiyan tadi. Untungnya di sisi ranjangnya Hans ada sebuah ember yang tadi di ambil Ardiyan. Sehingga tak mengharuskan Hans bolak balik ke kamar mandi.
Mendengar perkataan Hans, serta melihat keadaan Hans sekarang Ardiyan pun teringat pada dirinya sendiri, karena ia pernah mengalami hal tersebut, "Hans, apakah saat ini Inayah sedang hamil?" tanya Ardiyan to the poin.
"Saya tidak tahu Pak! Tapi waktu saya pergi dia tidak hami kok Pak," balas Hans, tampak ia bingung mendengar pertanyaannya Ardiyan.
"Kalau begitu tunggu sebentar, gue telpon Anisah dulu," kata Ardiyan seraya ia mengambil benda pipihnya, lalu ia pun langsung menghubungi istrinya.
"Halo Assalamu'alaikum By? Sudah sampai ya By" tanya Anisah ketika sambungan telah terhubung.
"Wa'alaikumus salam, iya Sayang. Alhamdulillah Ubby udah sampai dengan selamat kok," balas Ardiyan terdengar lembut. "Oh iya Sayang, Ubby mau minta tolong nih, kamu pergilah ke tempatnya Inayah, dan ajaklah dia kerumah sakit ya?" lanjut Ardiyan lagi.
"Baiklah, in shaa Allah nanti Nisah kerumahnya Nayah. Tapi ngomong-ngomong, emangnya ada apa By?" tanya Anisah balik, terdengar ia sedang penasaran.
"Hans, saat ini sedang dirawat di rumah sakit Sayang, dia muntah-muntah Mulu. Apalagi saat lihat makanan. Nah itu membuat Ubby teringat ketika kamu hamil Sayang. Karena Ubby jugakan seperti itu, makanya Ubby curiga, mungkinkah Hans seperti ini, karena Inayah hamil juga?" jelas Ardiyan.
"Oooh.. ya sudah kalau begitu Nisah, perginya sekarang saja ke rumah nayahnya. Bey By, Assalamu'alaikum," balas Anisah dan sambungan seketika terputus, sebelum Ardiyan membalasnya.
"Haiis.. istri ku, ini kalau sudah menyangkut Inayah, jadi suka semaunya ya? Sampai-sampai dia rela dimadu! Huh, untungnya gue cinta! Kalau tidak...Akh sudahlah! Emang nasib Gue kali, punya bini lebih cinta sama teman ketimbang suaminya!" gumam Ardiyan, seraya ia kembali menghampiri Hans, yang terlihat kini ia sedang memejamkan matanya.
"Eh, Hans...Hans..? Lo tidur apa mati?"
...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉
__ADS_1
Biar pada semangat ngasih dukungannya 😁😁