GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
PENDEK DAN JELEK.


__ADS_3

*═══❉্͜͡💚Mutiara Hikmah.💚❉্͜͡═══*


Mengapa Allah memberi ujian? Sebab Allah sedang merindukan hamba-Nya. Terkadang ketika bahagia kita lupa untuk bermunajat pada-Nya. Ketika mendapat kesenangan kita lupa untuk mendekat pada-Nya


Maka dari itu Allah rindu suara tangis hamba-Nya ketika tengah mencurahkan isi hatinya. Bersyukurlah kita yang masih diperhatikan Allah melalui berbagai ujian itu. Karena itu tanda Allah mencintai hamba-Nya


Terkadang kita ini tak tahu diri, ingin hidup bahagia tapi tak mau mendekat pada Allah. Tapi ketika sedang susah kita merayu-rayu Allah. Jangan menunggu susah untuk mendekat pada-Nya. Ketika bahagia jangan pernah lupa bersyukur sedangkan ketika mendapat ujian.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•═══════•


Keesokan harinya.


Setelah, Naazwa mendapatkan jawaban dari Dika tentang hasil pemeriksaan medisnya Yumna, ia pun merasa lega. Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkannya lagi. Lalu ia pun meminta Dika, untuk memberitahu keluarganya Yumna agar mereka tak cemas. Dan Dika pun melakukan yang diminta oleh Naazwa. Dan kini Riolah yang menjaga anaknya, dan keesokan paginya.


"Daddy?"


Rio yang sedang tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang ia tumpukan dilengannya yang berada disisi ranjang anaknya langsung tersentak. Saat mendengar suara anak kecil yang amat ia kenali.


"Yumna? Kamu sudah bangun Nak?" tanya Rio, sembari mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. "Apakah ada yang sakit Sayang?" tanyanya lagi sembari ia pindah posisi duduknya, yang kini ia duduk disisi ranjang Yumna.


"Nggak ada yang sakit kok Dad," balas Yumna, dengan suara yang terdengar masih lemah.


"Alhamdulillah, kalau begitu sekarang kamu makan dulu ya Nak? Tadi Papa beli bubur ayam kesukaan Yumna loh," kata Rio, sambil ia membuka bungkusan yang berada diatas meja, lalu ia pun mengambil satu cup berisikan bubur dan langsung membukanya.


"Tapi Umna nggak lapar Daddy," balas Yumna sambil menutup mulutnya, saat Rio mulai menyuapinya.


"Sayang, kalau kamu nggak makan, kapan kamu sembuhnya? Emangnya Yumna nggak ingin cepat-cepat sekolah dan mengaji lagi ya?" rayu Rio agar anaknya mau makan.

__ADS_1


"Ya mau dong Dad! Nanti Umna jadi bodoh kalau nggak sekolah dan ngaji," balas Yumna.


"Nah, makanya, cantiknya Ayah harus makan dong. Kan biar cepat sembuh Nak," rayu Rio lagi, dan kembali ia menyodorkan sendok yang telah berisikan bubur, kemulutnya Yumna.


"Tapi Dad, mulut Umna pahit, nanti buburnya juga ikutan pahit!," kata Yumna, yang kembali ia menutup matanya.


"Ooh, kalau begitu Yumna, minum susu dulu ya, biar mulutnya tidak pahit lagi, mau ya Nak," Rio pun mengambil gelas yang berisi susu lalu ia berikan pada anaknya.


"Gimana nggak pahit lagikan Nak?" tanya Rio, setelah Yumna menenggak susunya.


"Iya nggak pahit lagi kok Dad,"


"Alhamdulillah, ya sudah sekarang makan ya Nak?" Rio kembali menyuapi bubur kemulut anaknya, dan akhirnya Yumna pun memakan buburnya.


Disela-sela makannya Yumna, "Dad, Mama Azwa mana? Kok nggak ada?" tanyanya setelah matanya melihat sekeliling ruangan rawatnya.


Sebenarnya ia tak suka mendengar Yumna menyebut Naazwa dengan sebutan Mama. Namun karena ia takut akan mempengaruhi kesehatannya apabila ia memprotesnya, akhirnya ia hanya bisa diam saja dan hanya mengikuti keinginan putrinya.


Setelah mendengar penjelasan sang ayah, mendadak raut wajah Yumna langsung berubah. Dan kini Ia terlihat sedih, "Apakah nanti, setelah Mama selesai mengajar akan kembali ke sini Dad?" tanyanya terdengar lirih.


"Ayah nggak tahu Nak, tapi.." jawab Rio, namun langsung terhenti karena ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. "Masuk!" serunya, dan tak berapa lama pintu pun terbuka.


"Assalamu'alaikum," ucap seorang wanita bercadar dan seorang pria.


"Wa'alaikumus salam," jawab Rio, terdengar datar.


"Mama!" panggil Yumna, dengan mata yang berbinar senang.


"Hai Yumna," sapa Wanita Bercadar itu yang tak lain adalah Naazwa. Ia terlihat hendak menghampiri Yumna, namun Rio duluan mendekatinya.

__ADS_1


"Bisa kita bicara sebentar diluar?" tanya Rio, dengan tatapan datarnya.


Naazwa tak langsung menjawabnya, ia malah menatap wajah pria yang sudah pasti dia adalah Hans, calon suaminya yang kini sedang berdiri disampingnya. Ia seperti meminta persetujuan darinya. Hans yang sepertinya paham, ia pun memejamkan kedua matanya dengan singkat, tanda ia memberi izin pada Naazwa.


"Baiklah Akhy," balas Naazwa, singkat. Dan tanpa bicara lagi, Rio pun berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Naazwa dari belakang. Dan mereka pun menghilang di balik pintu kamar rawat Yumna.


Sedangkan Hans, langsung menghampiri Yumna, yang terlihat senang saat melihat Ayahnya mengajak Naazwa keluar. Karena didalam pikirannya, Ayahnya akan berbaikan dengan Naazwa. Karena harapannya, mereka bisa bersatu, dan akhirnya ia akan memiliki keluarga yang lengkap.


"Halo Yumna?" sapa Hans, sembari ia duduk disisi ranjang Yumna.


"Halo, juga Uncle Hans," balas Yumna ramah.


"Apa kamu sudah sembuh Yumna?" tanya Hans, sambil menoel pucuk hidungnya Yumna.


"Sudah dong uncle," balas Yumna, terlihat sangat bersemangat.


"Uncle? Bolehkah Umna bertanya?"


"Boleh dong, Emangnya Yumna mau tanya apa?" balas Hans, sambil membenarkan anak-anak rambutnya Yumna.


"Kenapa, uncle tampan sih?" tanya Yumna, yang wajahnya terlihat imut.


"Masa sih Uncle tampan?" balas Hans, sambil memasang wajah tidak percayanya.


"Benaran Uncle! Bahkan uncle juga tinggi. Tapi kenapa Uncle memiliki calon istri yang pendek dan jelek sih?" tanya Yumna, membuat Hans kaget mendengar perkataannya.


"Hah?? Pendek dan jelek?"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2