
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Untukmu . . . .
Yang jika marah memilih banyak diam daripada berbicara. Yang jika emosi, memilih menyendiri daripada melontarkan maki. Yang jika disakiti memilih menjauh daripada membenci. Yang jika berselisih, memilih introspeksi diri daripada menyalahkan. Yang jika bersalah, segera membenahi dan tidak mengulangi. Yang jika mendengar suatu berita, bertabayyun terlebih dahulu sebelum percaya. Yang jika ditimpahi musibah bertambah dekat dengan Tuhannya.
Dan yang menjadi lebih baik dari sebelumnya ketika diberi nasehat dan mengingatnya.
Siapapun Kamu, Sehat-sehat ya?
Karena pribadi seperti kamu sangat dibutuhkan untuk menebar energi positif nya. Kamu seolah setetes air ditengah padang yang tandus, dan pepohonan yang rindang dibawah matahari yang terik. Percayalah kamu bukan hanya teristimewa dimata makhluk-Nya sahaja. Bahkan kamu teristimewa juga bagi Sang Penciptaannya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Masih di kota JK.
Satu hari telah terlewati, setelah mereka berziarah ke makam Cindy. Daffin Sempat mengajak keluarga Rio ke mansionnya. Namun itu hanya sebentar. Karena Rio langsung membawa keluarganya, ke villa milik Cindy yang berada di daerah KA. Rio sengaja membawa mereka, kesana. Karena kebetulan Villa milik Cindy, berada di dekat pantai. Jadi Rio berharap mereka akan senang bermain di pantai.
"Kita sebenarnya mau kemana sih Bei? Kok nggak sampai-sampai sih?" keluh Naazwa, saat mereka masih dalam perjalanan. Ia juga tampak sudah bosen berada di dalam mobilnya. Untungnya quadruplets sudah tertidur, jadi mereka tidak merasa kebosanan seperti Naazwa.
"Kenapa Sayang, kamu sudah bosen ya?" tanya Rio dengan lembut.
"Ya habis nggak sampai-sampai sih, Zwa dah bosen tau! Sampai tempat duduknya sudah terasa panas," keluh Naazwa lagi. Mendengar keluh dari istrinya Rio pun tak sampai hati melihatnya. Apalagi saat ini istrinya sedang hamil makanya Ia jadi sedikit khawatir.
"Gilang kalau kamu melihat restoran terdekat kita berhenti dulu saja disana ya?" ujar Rio, pada Giliang yang saat ini sedang fokus pada menyetirnya.
"Baik Pak!" katanya dan tak berapa lama mobil mereka pun berhenti di sebuah rumah makan, "Maaf pak, kayaknya daerah sini nggak restoran adanya rumah makan kecil ini aja Pak," kata Gilang, yang terlihat ia belum mematikan mesin mobilnya, karena takut Rio, tak suka dengan rumah makan kecil tersebut.
__ADS_1
"Nggak papa Gilang disini saja," kata Naazwa, yang terlihat ia sudah bersiap ingin turun.
"Ya sudah kalau begitu, kita istirahat disini saja Gilang," sambung Rio, "Tunggu Sayang," kata Rio lagi pada Naazwa, yang terlihat sudah membuka pintu mobilnya. Melihat itu Rio pun langsung bergegas turun dan langsung merangkul pinggang istrinya.
"Zwa bisa sendiri kok Bei, malu akh seperti ini tuh, sampai di lihatin sama yang ada di rumah makan itu," protes Naazwa, yang terlihat risih karena dilihati oleh pengunjung warung makan tersebut. Karena Rio, merangkul pinggangnya jadi terlihat mesra di mata mereka.
"Sudah kamu jangan perdulikan mereka. Lagian mana mungkin Bibei, membiarkan kamu berjalan sendiri dengan kaki yang membengkak begitu," balas Rio, masih keukeh ingin memapah istrinya itu, "Kenapa malah diam disini? Nggak jadi istirahatnya? Atau mau Bibei gendong aja hm?" katanya lagi, karena Naazwa masih tetap ditempatnya saja.
"Iya iya jadi kok, dan Zwa bisa jalan sendiri!" balas Naazwa yang akhirnya ia pun melangkahkan kakinya dan membiarkan suaminya tetap merangkulnya. Karena itu lebih baik daripada ia harus digendong oleh suaminya yang super nekat itu.
Setibanya mereka di dalam rumah makan tersebut, Rio pun langsung membawa istrinya ke tempat duduk, yang terlihat nyaman untuknya, "Apakah ada yang kamu inginkan Sayang?" tanya Rio, setelah mereka duduk disalah satu meja disudut rumah makan tersebut.
"Zwa nggak ingin apa-apa kok Bei, Zwa cuma bosen saja tadi dimobil," balas Naazwa apa adanya.
"Ya sudah kalau begitu kita pesan minuman saja ya, nggak enak sama pemilik rumah makan ini soalnya," kata Rio, dan langsung di balas anggukan saja oleh Naazwa. Setelah mendapatkan balasan dari istrinya, Rio pun memesan minuman untuk mereka dan ia juga memesan beberapa makam ringannya juga pada pemilik rumah makan tersebut.
"Sebenarnya kita mau kemana Bei?" tanya Naazwa, setelah Rio menyelesaikan pesanannya.
Mendengar perkataan Suaminya dengan spontan Naazwa langsung bangkit dari duduknya, lalu ia pun menarik tangan Suaminya, "Kalau begitu, Ayo Bei, cepat! Kita kembali ke mobil," ajaknya, membuat Rio, tercengang melihatnya.
"Hah..? Tapi bukankah kamu tadi bilang..." balas Rio, namun langsung dipotong oleh Naazwa.
"Sudah.. nggak ada waktu lagi untuk membahasnya! Ayo cepatan!" ajak Naazwa sambil menarik tangan suaminya.
"Tapi Sayang, Kitakan sudah memesan meminuman. Nggak enak dong sama ibu pemilik rumah makan ini," balas Rio mengingatkan istrinya.
"Ya tinggal di bayar saja Bei, kok repot sih! Yang penting kitakan nggak pergi begitu sajakan?" ujar Naazwa, membuat Rio tak bisa berkata-kata lagi. Dan akhirnya ia pun mengikuti keinginan istrinya itu. Dan ia pun memberikan lembar uang berwarna merah pada sang Ibu pemilik rumah makan tersebut. Dan setelah itu ia pun menyusul Istrinya yang ternyata sudah lebih dulu naik ke mobil, ketika ia sedang melakukan pembayaran.
"Gilaaang! Ayo cepat kita berangkat!" teriak Naazwa, karena ternyata Gilang sedang duduk di kedai kopi tepat disebelah rumah makan yang ia datangi.
__ADS_1
"Haah? Cepat sekali Bu? Kopi saya saja belum diminum," balas Gilang terlihat bingung melihat istri Bosnya itu.
"Udaah, nanti minum kopinya di villa saja! Nanti Ana yang akan membuatkan kopi spesial buat kamu!" seru Naazwa.
Rio langsung mengerenyit ketika mendengar perkataan Naazwa, "Apa? Kamu mau buat kopi spesial buat Gilang? Hmm.. tampaknya sudah mulai berani kamu membuat minuman untuk laki-laki lain hm?" katanya dengan wajah yang terlihat dingin.
"Eh, apaan sih Bei? Orang cuma bikin kopi saja kok di masalahin sih? Lagian Gilangkan Asisten kamukan?" balas Naazwa dengan santai.
"Tetap saja dia seorang laki-laki! Jadi kamu nggak boleh membuatkan dia Kopi, paham!" ujar Rio terdengar tegas, "Gilang cepat jalankan mobilnya!" titahnya pada Gilang, dengan suara bernada tinggi.
"Bibei! Kamu kok kasar begitu sih sama Gilang?" tegur Naazwa. Namun tak direspon oleh Rio, ia malah mendengus kesal seraya ia membuang pandangannya. Membuat Naazwa heran melihatnya.
"Kamu kenapa sih Bibei? Kok jadi marah sama Zwa? Atau jangan-jangan Bibei sedang cemburu yaa?" tanya Naazwa, seraya ia mendekati wajahnya ke wajah Suaminya.
"Dih! Siapa juga yang cemburu! Gue amat gue cemburu sama Gilang!" kata Rio, tanpa ingin melihat wajah istrinya.
"Iyakah nggak cemburu?" tanya Naazwa lagi, yang terlihat wajahnya semakin mendekati Rio, karena ingin melihat tampang suaminya. Yang terlihat wajahnya masih besengut. Naazwa pun tersenyum melihatnya.
"Uluh..uluh..uluh..tayangnya Zwa, lagi cembulu ya?" kata Naazwa seraya ia memegang kedua pipinya Rio.
"Haiis..kamu yaa, sempat-sempatnya menggoda Bibei! Lihat saja nanti, akan Bibei buat kamu tak bisa turun dari tempat tidur!"
⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉
Oh iya selagi menunggu Author update, yuk mampir ke karyanya Author ♥️ IRAMA KIRANA ♥️ in shaa Allah ceritanya keren loh,
__ADS_1
Dan jangan lupa sampaiian salam Ramanda pada Author Irma ye 😉 juga jangan lupa berikan dukungannya oke guys, Syukron 🙏😉