
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
❣️•BERBISIKLAH DALAM SUJUDMU•❣️
Allah tau, ada perih Yang kau sembunyikan.
Ada kata Duka Yang tak bisa kau ungkapkan.
Ada kesedihan Yang tak seorangpun bisa melihatnya darimu. Sejenak tunduklah kepala mu. Kau hanya perlu berbisiki dalam sujudmu.
"Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Rabb_Nya Azza Wa Jalla ialah ketika ia sedang bersujud, karena itu perbanyaklah BerDo'a"
( HR. MUSLIM )
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Satu bulan kemudian.
Satu bulan sudah Naazwa, berada divillanya Rio dengan statuskan istri dan juga ibu bagi quadruplets. Sebagai ibu, Naazwa bisa dikatakan lulus. Karena ia begitu sabar mengurus anak-anaknya. Ia juga amat menyayangi mereka selayaknya anak kandungnya sendiri. Namun status sebagai istri, masih ia pertanyakan, didalam Hatinya.
Pasalnya semenjak hari dimana Rio, melihat wajahnya untuk pertama kalinya. Semenjak itu juga Nazwa tak pernah bertemu lagi dengan suaminya, sekalipun. Naazwa sebenarnya tahu kalau suaminya, sedang menghindar darinya. Dan itu membuat ia amat sedih. Tapi syukurnya quadruplets selalu menghiburnya. Hingga ia bisa melupakan kesedihannya.
"Mymah? Apakah Mymah sedang bersedih?" tanya Yumna, saat mereka sedang berada di taman belakang Villa.
"Sedih? Kata siapa Mymah sedih?" tanya Naazwa kembali.
"Ya kata kami dong Mymah. Habis kami lihat wajah Mymah murung sih," jawab Yunda, sembari ia membuka cadarnya Naazwa, yang kebetulan disana memang tidak ada laki-laki.
"Tidak, kok sayang, Mymah tidak sedih kok," balas Naazwa seraya tersenyum manis pada kedua putri sambungnya. Sembari ia mengelus kepala keduanya.
"Benarkah Mymah?" tanya Yumna, untuk, memastikannya lagi.
__ADS_1
"Iya loh sayang, Mymah nggak sedih. Lagian apa yang membuat Mymah sedih coba? Sedangkan Mymah selalu ditemani oleh tuan putri yang cantik-cantik ini, iyakan Sayang?" balas Naazwa dengan lembut, sembari ia menoel pucuk hidung Yumna dan Yunda.
"Hmm..Unda merasa, Mymah sedih karena Ayah selalu mengabaikan Mymah," ujar Yunda, terlihat berhati-hati. Membuat Naazwa terdiam sesaat.
"Benarkah itu Mymah? Benarkah Daddy mengabaikan Mymah? Umna juga merasa, Daddy, tidak pernah lagi berkumpul dengan kami, iyakan kak Unda?" sambung Yumna, dengan wajah yang terlihat, antara sedih dan kesal.
"Benar Dek! Ayah juga tak pernah makan bareng lagi dengan kita," timpal Yunda juga.
"Huh! Daddy jahat, Umna nggak mau ngomong lagi sama Daddy!" sungut Yumna terlihat sangat kesal.
"Eeeh.. tidak boleh berkata begitu Sayang. Mungkin Ayah kalian sedang sibuk, makanya belum berkesempatan untuk bertemu kalian. Jadi kalian harus bersabar ya?" ujar Naazwa memberikan pengertian pada Yumna dan Yunda.
"Humm... baiklah Mymah," balas keduanya, namun wajah mereka, masih dirundung kekesalan.
"Nah gitu dong. Itu baru anak Sholehahnya Mymah. Oh iya apakah kalian mau Mymah ajarkan bersholawat lagi Nak?" tanya Naazwa mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mau Mymah! Tapi Umna mau ke kamar mandi dulu ya," balas Yumna, sambil memegang bagian bawahnya, menandakan ia ingin buang air kecil.
Naazwa tersenyum, melihat wajah Yumna, yang terlihat seperti sedang menahan sesuatu, "Pergilah Nak, jangan ditunda-tunda," katanya,
...*****...
Sementara itu disisi.
Yumna masih menarik tangan Yunda memasuki villa. Bahkan setelah berada didalam Villa, ia masih menarik tangan Sang kakak, menuju ke kamar mereka.
"Dek Umna, kenapa masih tarik-tarik sih? Dan kenapa kita malah kekamar sih? Kak dibawah juga ada kamar mandi Dek?" tanya Yunda, terlihat heran pada adiknya yang masih terus menariknya. Bahkan Yumna membawa sang Kakak, ke balkon kamar mereka.
"Iiis.. kok malah kesini sih Dek? Mau ngapain kita kesini sih?" tanyanya lagi, dengan wajah yang terlihat mulai kesal pada sang Adik.
"Kak Unda, lihatlah disana!" kata Yumna, sambil ia menunjukkan jari telunjuknya mengarah ke taman belakang tempat mereka tadi sempat mengobrol dengan Naazwa. Dan saat ini ia sedang menunjuk Naazwa yang terlihat masih berada disana.
"Mymah? Emang ada apa?" tanya Yunda kembali yang sepertinya ia tak memahami maksud sang Adik.
__ADS_1
"Lihalah, wajah Mymah kak. Dia seperti sedang bersedihkan?" jelas Yumna, dan Yunda pun memperhatikan wajah Nazwa dengan seksama.
"Benar Dek Umna. Huh! Ini pasti gara-gara Ayah!" gerutu Yunda, terlihat kesal.
"Benar kak! Makanya kita harus membuat Ayah, mencari Mymah kak," kata Yumna seperti memberikan sebuah ide.
"Baiklah, tapi bagaimana caranya Dek?"
"Begini kak, bukankah dipondok Mymah punya pondok kecil? Nah kita pura-pura saja minta Mymah, ingin kesana dan menginap disana. Lalu buat Ayah agar menyusul kesana. Kita juga harus bekerjasama dengan kakek dan Uncle Hans, gimana kak kamu setuju tidak?" ungkap Yumna memaparkan idenya.
"Oke, setuju! Sekarang ayo kita bicarakan pada Kakek dek," kata Yunda yang sepertinya ia sudah tak sabar, ingin memberitahukan pada saat kakek.
"Baiklah ayo kak," ajak Yumna yang akhirnya mereka pun mencari sang kakek.
Setelah bertemu mereka pun menceritakan ide mereka pada sang kakek. Dan karena kebetulan Harun memang sedang kesal pada sikap Rio, yang dingin dan selalu mengabaikan istrinya. Sang kakek pun menyetujui ide dari cucu-cucunya. Dan Yumna juga minta sang kakek untuk menghubungi Hans, agar mau membantu mereka. Dengan senang hati Harun pun langsung menghubungi Hans.
Sementara Yumna dan Yunda langsung menghampiri sang Ibu yang masih berada ditaman belakang. Lalu mereka pun mengungkapkan keinginannya yang ingin bermalam di pondok Nazwa.
"Mymah, boleh tidak, Umna bermalam dipondok Mymah," ujar Yumna mengungkapkan keinginannya. Membuat Naazwa heran mendengarnya.
"Iya Mymah, Unda ingin juga kesana, Unda ingin merasakan bermalam, di pondok Mymah," sambung Yunda juga dengan antusias.
"Mengapa kalian tiba-tiba ingin kesana Nak? Lagian apa Ayah kalian mengizinkan kita kesana?" tanya Naazwa, yang sepertinya ia tak bisa mengambil keputusan sendiri. Karena ia takut kalau Rio tak menyetujuinya.
"Huh! Ngapain kita meminta izin pada Daddy, dia bahkan sudah tidak menyayangi kami lagi Mymah," sungut Yumna, terlihat kesal.
"Sssth.. tidak boleh berkata seperti itu Nak, mana ada seorang ayah yang tidak menyayangi anaknya Nak, jadi kamu tidak boleh berprasangka seperti itu ya?" ujar Naazwa menasehati anak-anaknya.
"Baiklah Mymah, tapi boleh ya kami bermalam di pondok Mymah?" pinta Yumna dengan wajah penuh pengharapan.
"Iya Mymah, Unda juga tadi sudah meminta izin kok sama Kakek, dan beliau mengizinkan kami Mymah,"
Karena melihat keduanya begitu berharap, akhirnya Naazwa tidak bisa menolak keduanya, "Baiklah kalau, ayo kita pergi, tapi sebelumnya kita pamit lagi sama kakek ya?" katanya, dan langsung disambut sorak kegirangan oleh keduanya. Dan setelah itu mereka pun beranjak meninggalkan taman untuk menemui sang kakek. Setelah berpamitan mereka pun berangkat menuju pondok.
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...