
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Dear Readers ♥️
Waktu sangatlah berharga. Betapa berharganya waktu, hingga menyia-nyiakannya adalah bentuk puncak kerugian, bahkan lebih berbahaya dari kematian.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.”
(Al-Fawaid hlm. 44)
Ketika Allah Azza wa Jalla mengaruniakan nikmat sehat dan waktu senggang kepada kita, justru kita seringkali melalaikannya. Baru terasa betapa nikmat sehat ketika kita sakit, betapa nikmat waktu senggang ketika kita sibuk dengan berbagai aktivitas yang begitu melelahkan...
Semoga Allah mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menggunakan semua waktu dalam hal baik sedemikian rupa sehingga tidak sempat melakukan hal batil untuk meraih ridha-Nya...
Aamiin Ya Rabb.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil Rio pun sampai juga di rumahnya Hans. Pada awalnya, Ardiyan bermaksud membawa Hans kerumah sakit tempat Dika bekerja. Namun Hans sudah tidak berkeinginan di rawat di rumah sakit lagi. Mau tak mau, akhirnya Ardiyan mengalah dan membiarkan Hans dirawat di rumahnya sendiri.
Setelah memastikan Hans sudah lebih baik, Ardiyan dan Rio pun langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Dan kini tinggallah Hans yang terlihat masih terbaring lemah di tempat tidurnya, dengan ditemani oleh Inayah yang sedang duduk di sisi ranjang mereka. Terlihat jelas dari raut wajahnya ada kecemasan saat melihat keadaan Suaminya itu. Sehingga tanpa sadar air matanya keluar begitu saja.
__ADS_1
Hans yang melihatnya langsung meraih tangan Istrinya, dan ia letakkan di atas dadanya, "Sayang? Kamu kok nangis sih? Kan tadi Abang sudah bilangkan? Abang baik-baik saja, jadi kamu jangan sedih lagi ya?" ujar Hans, walaupun ia masih merasa lemas. Namun ia tak ingin menunjukkan kelemahannya itu pada istrinya. Tampak jelas ia berusaha sedang menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Abang bohongkan sama Nayah? Abang tidak baik-baik saja, iyakan? Nayah tahu Bang, kalau saat ini Abang sedang mengalami sindrom simpatik, karena Nayah hamil, iyakan?" balas Inayah, dengan tatapan menyelidiknya pada Hans.
"Eh, kok kamu bisa tahu Sayang?" tanya Hans balik. Terlihat sekali ia begitu terkejut mendengar perkataan Inayah.
"Nayah tahulah, karena lihatlah, Nayah baik-baik sajakan? Padahal, seharusnya Nayah yang harus mengalami hal seperti ini, tapi kok malah Abang yang jadi seperti ini. Hiks.. hiks..maafin Nayah ya Bang, hiks.. hiks.. gara-gara Nayah, Abang..." ujar Inayah, yang akhirnya tangisnya pecah karena merasa bersalahnya.
"Sssth..jangan Nangis Sayang, ini bukan gara-gara kamu kok," potong Hans, seraya ia berusaha bangkit dari tidurnya. Dan setelah ia duduk ia pun langsung menarik tubuh istrinya, kedalam pelukannya.
"Justru Abang malah bersyukur Sayang. Karena bukan kamu yang mengalami hal ini. Jadi berhentilah menyalahi diri kamu sendiri, oke?" lanjut Hans yang kemudian ia memberikan kecupan lembut pada dahi istrinya.
"Hum.. baiklah Nayah tidak akan menyalahkan diri Nayah lagi, asalkan Abang mau makan bubur buatan Mbok Iyem. Abang maukan?" balas Inayah. Membuat Hans tak berdaya, dan akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah, tunggu sebentar ya Bang," kata Inayah, yang terlihat ia begitu senang. Sehingga tanpa sadar ia sedikit berlari, saat ingin mengambil bubur kedapur.
"Eh, hehehe, maaf Nayah lupa Bang," balas Inayah, yang saat ini ia terlihat sedang hendak membuka pintu kamarnya.
"Ya sudah, sekarang ambilah buburnya, tapi nggak pakai acara berlari ya?" kata Hans, kembali mengingatkan istrinya.
"Baiklah, tunggu sebentar ya?" balas Inayah, dan akhirnya ia pun langsung menghilang di balik pintu kamarnya.
"Aduh, gue harus gimana nih? Kalau Nayah, datang membawakan buburnya. Padahal membayangkannya saja perutku sudah mual gimana kalau saat melihat bubur tersebut? Nanti kalau aku muntah gimana? Kan kasian Nayah, pasti Dia akan kecewa" gumam Hans, tampak ada kecemasan diraut wajahnya. Dan tak berapa lama, Inayah pun datang kembali dengan baki yang di atasnya terdapat sepiring bubur dan satu gelas teh lemon.
Setelah baki itu, ia letakkan di atas meja, Inayah pun langsung mengambil, piring berisikan bubur putih tersebut. Setelah itu ia pun kembali duduk di sisi ranjang mereka. Lalu ia pun menyendokkan bubur tersebut, dan kemudian ia mulai mrnyuapi Hans. Dan belum lagi bubur tersebut sampai, ke mulutnya Hans, tiba-tiba Hans langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
"Eh, kok malah ditutup mulutnya Bang?" tanya Inayah terlihat heran.
"Maaf sayang, perut Abang langsung Ugh..hug.." balas Hans, yang terlihat ia seperti menahan rasa mualnya.
"Iikh.. Abang! Tadikan Abang, sendiri yang bilangnya mau! Kenapa sekarang nggak mau sih? Kan Kasian Mbok Iyem, udah capek-capek masakin Abang bubur! Eh malah nggak mau lagi!" tegur, Inayah, seraya ia memanyunkan bibirnya. Membuat Hans melihatnya menjadi gemas. Sehingga timbul keinginan yang aneh menurutnya.
"Baiklah, Abang mau memakannya, tapi Abang maunya, disuapinya lewat mulut kamu," kata Hans tanpa ragu sedikitpun.
"Eh, Iiikh.. itukan jorok bang! Nggak mau akh, geli tau!" protes Inayah, yang terlihat sekali ia tak suka, mendengar keinginan Suaminya itu.
"Tapi Sayang, Abang kepinginnya seperti itu. Tapi kalau kamu tidak mau, ya sudah Abang nggak mau makan!" ujar Hans, seraya ia melipatkan kedua tangannya ke dadanya, dengan wajah yang sepertinya sedang merajuk, persis bak seorang anak kecil.
Melihat hal itu, tiba-tiba Inayah, teringat akan cerita Ardiyan, yang mengatakan kalau suaminya tidak bisa makan apapun. Bahkan ia juga tidak bisa minum air putih juga. Sehingga, ia kekurangan cairan pada tubuhnya. Mengingat hal itu, akhirnya Inayah pun mengalah.
"Huh! Kayak burung dong! Tapi baiklah, kalau begitu Nayah suapin Abang, lewat mulut Nayah," kata Inayah pasrah. Lalu ia pun kembali menyendokkan buburnya dari piring yang sedang ia pegang. Lalu ia memasukkan bubur tersebut kedalam mulutnya, dan kemudian ia pun mendekati wajahnya ke wajahnya Hans. Dengan sigap Hans pun langsung menyambutnya. Seperti orang kelaparan, akhirnya Hans memakan buburnya lewat mulutnya Inayah, bak seekor induk burung, yang sedang memberi makan anaknya, seperti itulah Inayah menyuapi bubur kemulutnya Hans.
"Humm enaak lagi Sayang, Abang mau lagi," pinta Hans, dengan mata yang terlihat begitu berbinar. Melihat hal itu, Inayah yang tadinya merasa jijik, malah jadi ikut bersemangat.
"Baiklah Bang," balas Inayah, dan kembali lagi ia menyendokan buburnya dan memasukkan kedalam mulutnya. Dan sekali lagi, Hans menyambutnya dengan lahap. Begitulah seterusnya hingga bubur yang didalam piring tampak bersih.
"Alhamdulillaah, akhirnya habis juga buburnya," ucap Inayah terlihat begitu senang karena pada akhirnya Suaminya mau makan juga.
...`````````...
...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
__ADS_1
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉