
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
"Ketika engkau merasa ada manusia yang membencimu, maka jadikanlah Ridha Allah sebagai sebaik-baik penghibur yang membuatmu sibuk daripada memikirkan rasa benci mereka"
_Syekh Ramadhan Al-Buthi_
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Didalam mobil Hans.
Inayah bergitu sedih, saat melihat sikap Hans, yang seakan membencinya. Padahal sewaktu Hans masih berstatus tunangy Naazwa. Ia begitu ramah padanya, bahkan ia juga sering mengantarkannya saat ia mendapatkan giliran hitmat. Tapi sekarang sikapnya berubah drastis, ia begitu dingin kepadanya.
Sebenarnya sewaktu Anisah mengatakan ingin menjodohkan dirinya dan Hans. Inayah sempat menolaknya karena ia tak mau, Hans maupun Naazwa, menjadi salah paham padanya. Ia ingin menjaga perasaan mereka. Namun karena Anisah sedikit mengancam akan menikahkan dirinya pada suaminya. Membuat ia akhirnya menyetujui perjodohannya pada Hans.
"Nayah?" panggil Hans, yang saat ini Keduanya sedang dalam perjalanan ke rumah Ardiyan dan Anisah.
"Nayah!!" panggil Hans lagi, yang ternyata karena Inayah sedang melamun membuat ia tak mendengar panggilan Hans. Sehingga Hans harus memanggilnya dengan suara keras. Membuat Inayah langsung tersentak.
"I-iya Akhi? Ada apa?" sentaknya sedikit gugup.
"Aku ingin berterus terang sama kamu! Jujur aku tak ingin menikah dengan kamu. Apakah kamu akan kecewa pada saya? Dan akan mengadukan saya pada Ustadzah Nisah hm?" tanya Hans, terdengar datar. Dan tanpa menoleh sedikitpun pada Inayah. Yang terlihat ia sedikit kaget mendengar perkataan Hans, dan entah mengapa hatinya terasa begitu sakit.
"Jangan khawatir Akhi, justru itu yang Ana inginkan! Ana sebenarnya juga tidak menginginkan pernikahan ini! Hanya saja, karena ancaman kak Nisah yang ingin menikahi Ana dengan Bang Dian, makanya mau tak mau Ana menyetujui perjodohan ini. Jadi Akhy tak perlu risau, karena setelah dari rumah kak Nisa nanti, saya akan pergi menjauh dari Anda!" balas Inayah, walaupun suaranya terdengar datar. Namun masih terdengar lembut di telinga Hans.
Mendengar perkataan Inayah, Hans, tersenyum smrik, seakan meremehkan perkataan Inayah, "Heh..! Baguslah kalau begitu! Jadi aku nggak perlu repot-repot mencari alasan pada pak Ardiyan! Tapi kamu tidak perlu khawatir, saya akan memberikan kamu Kompensasi untuk..." kata Hans. Namun langsung dipotong oleh Inayah.
__ADS_1
"Tidak perlu Akhy! Ana tidak butuh kompensasi Anda, jadi sebaiknya jangan simpan sendiri untuk kehidupan Anda!" pungkas Inayah, yang kebetulan mobil yang dikemudikan Hans, telah berhenti tepat didepan mansionnya Ardiyan. Sehingga memudahkan Inayah untuk mengakhiri, percakapan mereka. Bahkan ia langsung turun tanpa ingin berkata-kata lagi, dan langsung bergegas memasuki mansionnya Ardiyan, tanpa ingin menunggu Hans.
"Cih! Main pergi saja dia! Tanpa basa-basi! Bukankah dia seorang Ustadzah? Tapi kenapa tak beretika seperti itu?" gumam Hans, dengan tatapan yang masih memandang kepergian Inayah, "Ah! Bodo amat dah! Ngapain juga mikirin Wanita yang nggak jelas itu!" lanjutnya lagi, seraya ia turun dari mobilnya. Setelah itu ia pun menuju pintu masuk Mansionnya Ardiyan juga.
Sesampainya di dalam, Hans, sedikit kaget. Karena ternyata ruang tamunya Ardiyan dengan para sahabatnya Ardiyan, maupun para sahabatnya sendiri, "Hah? Bukankah ini hanya acara khitbah? Mengapa pak Ardiyan mengundang banyak orang sih? Kayak acara nikahan aja sih!" batin Hans, yang terlihat ia seperti tak menyukai suasana tersebut.
"Hans? Kamu sudah datang? Duduklah disini Hans," ujar Ardiyan, saat melihat kedatangan Hans.
"Baik Pak!" balas Hans, terlihat sedikit enggan, saat mendekati Ardiyan. Namun karena ia adalah bosnya mau tak mau akhirnya ia pun menuruti perintah Bosnya itu. Setelah ia telah duduk disampingnya Ardiyan.
"Pak? Inikan hanya acara khitbah! Mengapa Anda mengundang banyak orang sih? Udah kayak acara nikahan saja sih?" bisik Hans, sedikit berbisik pada Ardiyan.
"Lah kan emang iya ini acara nikahan! Kenapa kamu seperti tidak tahu begitu?" balas Ardiyan, yang ikut berbisik pada Hans. Mendengar jawaban dari Ardiyan, mata Hans kaget.
"Apa!! Anda jangan bercanda Pak!" kata Hans masih dengan wajah terlihat tidak percaya.
"Tapi pak! Tadi saya disuruh untuk menjemput Inayah. Istri Anda bilang mau mengadakan acara khitbah saja pak," jelas Hans.
"Aah, berarti istriku saja salah menyampaikannya Hans. Sudahlah Hans, janga protes lagi! Karena aku melakukan ini, agar kamu segera menikah! Jadi sesuatu yang baik tidak boleh ditunda-tunda lagi, kamu paham Hans?" balas Ardiyan terdengar tegas.
"Tapi Pak! Ini terlalu mendadak untuk saya, rasanya saya belum siap Pak!" protes Hans, yang sepertinya ia benar-benar tidak ingin menikah.
"Hans, jangan khawatir, aku menikahkan kalian, tidak mengharuskan kamu, langsung memerankan statusmu menjadi suaminya. Jadi selama acara walimah urs belum dilaksanakan kalian bebas, mau kalian tinggal bersama, atau terpisah terlebih dahulu! Oh iya kalau kalian mau tinggal bersama, aku sudah menyiapkan rumah untuk kalian. Kamu ingatkan tiga hari yang lalu saat kita melihat rumah yang kamu bilang bagus. Nah rumah itu aku hadiahkan untuk kalian berdua Hans," jelas Ardiyan lagi. Namun tetap saja Hans masih terlihat tidak senang.
"Pak maksud Saya..." bantah Hans lagi, Namun perkataannya langsung dipotong oleh seorang pria paruh baya yang memakai baju Koko dan berpeci hitam.
"Ardiyan? Apakah sudah bisa kita mulai saja acara akadnya, soalnya hari semakin larut, jadi alangkah baiknya kita menyegerakan ijab qobulnya," tanya Pria tersebut pada Ardiyan.
__ADS_1
"Lanjutkan saja Bang Fahmi, semakin cepat dilaksanakan akan lebih baik!" kata Ardiyan terdengar tegas.
"Apa! Tapi Pak saya..." protes Hans lagi. Namun lagi-lagi perkataannya langsung dipotong oleh Ardiyan.
"Ingat Hans, kalau pernikahan ini gagal lagi! Makanya, aku tinggal menyiapkan tiket keberangkatan kamu ke Afrika Selatan! Dan itu artinya, Adik kamu yang sedang di USA akan menjadi gelandangan! Jadi berpikirlah dengan baik! Kamu paham!" ancam Ardiyan, masih bersuara berbisik. Namun tatapan matanya terlihat begitu tajam. Membuat Hans langsung bergidik.
"Baiklah Pak! Saya sudah siap!" kata Hans, terlihat pasrah, karena ia tahu betul tabiat Bosnya. Walaupun ia sering bercanda, akan tetapi ancamannya tak bisa dianggap enteng. Maka dari itu ia tak bisa mengelak lagi.
"Bagus! Sekarang segera Lakukanlah Ijab qobulnya, karena semua yang ada disini sudah menantikanmu!" kata Ardiyan lagi, masih terdengar tegas.
"Baik Pak!" balas Hans lagi terdengar datar.
"Oke Bang Fahmi, segera laksanakan saja. Karena Hans telah siap," lanjut Ardiyan pada pria berpeci tersebut, yang ternyata dia adalah Fahmi Abang kandungnya Anisah.
"Baiklah kalau begitu, karena wali mempelai wanitanya sudah meninggal, maka walinya kita ganti menjadi wali hakim. Untuk itu Hans jabatlah tangan saya sekarang.
"Baik Pak!" balas Hans, lalu ia pun mengikuti instruksi Fahmi dan ia pun menjabat tangan Fahmi. Dan Fahmi pun langsung memulainya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saudara Fremhans Al Ghifari bin Sulaiman Hardi?" panggil Fahmi.
"Saya Pak!" sahut Hans dengan tegas.
"Saya Nikahkan dan Kawinkan engkau dengan saudari Inayah Ravika Putri binti Suprapto Jukhdi, dengan mas kawin berupa, alat sholat serta cincin berlian dibayar tunai!" tegas Fahmi sambil menghentakkan tangannya.
Hans pun langsung menyahut dengan lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Inayah Ravika Putri binti Suprato dengan mas kawin tersebut tunai!" sambut Hans yang hanya dengan satu tarikan nafas dan dengan suara yang terdengar lantangnya ia mengijab Inayah.
"Bagaimana para saksi? Apakah Sah?!"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...