
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).
Sesungguhnya berbagai ujian dari Allah yang membuat kita semakin lebih dekat dan cinta dengan-Nya itu jauh lebih baik daripada nikmat yang membuat kita lalai dari-Nya...
Hakikatnya berbagai ujian yang kita alami merupakan sapaan lembut dan pertolongan Allah untuk menarik perhatian hamba-Nya agar hanya kembali kepada-Nya. Dan bersyukurlah dengan hadirnya berbagai ujian, sebab di balik setiap peristiwa terselip banyak anugerah dan hikmah.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Keterkejutan Naazwa, karena mendengar suara anak kecil, membuat ia dengan spontan mendorong tubuh Rio. Namun karena posisinya yang sedang berada di pangkuan Rio. Dorongan tersebut, malah membuatnya terjatuh kebawah. Untungnya dibawah terdapat ambal berbulu yang lumayan tebal. Sehingga rasa sakit di bokongnya tidak begitu parah.
"Aduuh!" keluh Naazwa, membuat Rio terlihat cemas.
"Sayang kamu nggak papakan? Mana yang sakit?" tanya Rio, seraya ia membantu Naazwa bangkit dari lantai.
"Mymah! Sakit banget ya? Ini gara-gara Daddy!" kata si kecil Yumna, yang terlihat wajahnya terlihat marah pada sang Ayah.
"Kok Daddy? Itukan gara-gara kamu! Masuk tanpa mengetuk pintu! Itu namanya tidak sopan tahu!" sanggah Rio, yang terlihat ia sebenarnya sangat kesal pada Yumna. Karena ia datang di saat hasratnya sedang memuncak.
"Bibei! Kok marah lagi sih? Yumnakan masih kecil, seharusnya mengajarinya dengan kelembutan dong," tegur Naazwa, memberikan pengertian pada suaminya.
__ADS_1
"Aah, sudahlah! Aku mau mandi saja!" kata Rio, yang terlihat jelas ia begitu frustasi. Karena hasratnya tidak terpenuhi, makanya ia lebih memilih ke kamar mandi, untuk meredakan hasratnya itu.
"Maaf Umna Mymah! Gara-gara Umna Daddy jadi marah," ucap Yumna setelah Rio, masuk ke kamar mandi.
"Tidak apa-apa Sayang, lagian Ayah nggak marah kok. Itu tadi, Ayah hanya kaget, makanya seperti itu. Ya sudah lupakan saja ya? Oh iya ada apa Yumna mencari Mymah hm?" tanya Naazwa, yang terlihat ia berusaha mengalihkan Pembicaraannya. Agar secepatnya Yumna melupakan kejadian yang ia lihat tadi.
"Oh iya Umna lupa! Mymah, tadi disekolah Bu guru, menyuruh Umna, menghafal sholawatan Umna nggak tahu, harus hafal sholawat apa, Mymah," kata Yumna, dengan wajah yang terlihat amat seriusnya. Membuat ia malah terlihat imut dimata Naazwa.
"Hmm... baiklah! Mymah akan mengajarkan Yumna sholawatan, tapi dengan syarat Yumna harus membayarnya dengan peluk dan ciuman dulu sama Mymah, baru deh Mymah akan ajarkan," kata Naazwa, seraya ia merentangkan kedua tangannya, agar sang gadis kecil datang kepelukannya.
"Oke! Siapa takut! Malahan Umna sangat senang, muach..Muac! Sayang Mymah!" balas Yumna, yang langsung memeluk serta menciumi wajah Naazwa.
"Muach...muach,..! Sayang putri Mymah juga! Ya sudah kita, belajar ditaman saja, yuk,'" ajak Naazwa, seraya menggandeng tangan Yumna, lalu mereka pun beranjak dari kamar tidurnya.
Setelah Yumna dan Naazwa pergi, tak berapa lama Rio keluar dari kamar mandinya. Wajahnya masih terlihat ada kekesalan, "Kemana mereka? Aah sudahlah biarkan saja!" gumamnya seraya ia duduk, dengan tubuh masih memakai handuk kimono putihnya. Lalu ia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kepala yang ia sadarkan juga di pucuk sofa sehingga wajahnya mendongak ke langit-langit kamar.
"Hah! Masa iya gue harus mandi lagi sih! Tidak bisa! Pokoknya gue harus manggil Naazwa!" gumam Rio, yang kemudian ia langsung bangkit dari duduknya, lalu dengan langkah cepat ia menuju ke pintu kamar, dan di saat ia sudah menyentuh handle pintu,
"Eh! Masa iya gue keluar dengan keadaan seperti ini sih? Mana si entong sudah mendesak ingin keluar dari handuk gue lagi! Aaaakh! Sompret Lo tong! Nyusahin gue aja! Ya sudah gue mandin Lo lagi dah!" teriak Rio, yang mulai frustasi lagi. Lalu dengan langkah cepat ia kembali ke kamar mandinya.
...******...
Sementara disisi lain.
__ADS_1
Setelah mendapatkan informasi dari Naazwa. Hans yang ingin secepatnya menemukan istrinya, ia pun langsung berangkat menuju daerah ST dengan beberapa anak buahnya. Hans sengaja membawa mereka, karena ia berpikir, lebih banyak yang mencari, maka akan lebih mudah untuk menemukannya. Ditambah lagi, ia harus melakukan perjalanan yang membutuhkan waktu tiga jam yang artinya ia akan sampai di waktu malam. Makanya ia berpikir dalam pencarian Inayah ini tidak bisa dilakukan hanya seorang diri saja.
Karena daerah yang akan dia datangi masih asing, jadi ia tidak mau mengambil resiko sendirian. Makanya lebih baik bila dibantu oleh para anak buahnya. Mobil Hans dan mobil anak buahnya berjalan saling beriringan dengan cepat, bila orang awam yang melihatnya, maka mereka pasti berpikir kedua mobil itu sedang melakukan balapan liar. Karena memang kecepatan ke dua mobil itu, sangat luar biasa.
Sehingga perjalanan yang seharusnya memakan waktu tiga jam untuk perjalanan biasa. Bisa ditempuh hanya dua jam bagi mereka. Dan kini mereka sudah memasuki daerah ST. Namun karena memang Hans belum mengenal tempat itu. Akhirnya ia pun memilih, menemui kepala desa setempat, yang tadi ia sempat bertanya pada salah satu warga desa tersebut. Dan kini ia sudah berada di rumah kepala desa daerah ST.
"Assalammu'alaikum Pak," sapa Hans, pada kedes yang kebetulan sedang duduk di depan teras rumahnya.
"Wa'alaikumus salam Ada yang bisa saya bantu Pak? Sepertinya Anda datang dari jauh ya?" tanya Kades tersebut, yang wajahnya terlihat penasaran.
"Benar Pak! Saya baru datang dari kota M. Saya datang kedesa ini mau mencari istri saya Pak, bernama Inayah, dia selalu memakai cadar. Apakah ada salah satu warga Anda yang baru datang dari kota M Pak?" balas Hans, tanpa jeda. Karena ia tak ingin berbasa-basi lagi. Agar secepatnya ia dapat menemukan Inayah.
"Ooh Nak Vika ya? Dia tinggal dirumah neneknya, disebelah sana Pak, dekat perkebunan teh," ujar kades, membuat Hans bernafas lega, karena info yang dia dapatkan dari Naazwa, tepat.
"Tapi benarkah Anda suaminya Pak?" tanya Kade tersebut, yang sepertinya ia sedikit curiga dengan Hans.
"Benar pak saya suaminya, hanya saja dihari pernikahan kami dia pergi begitu saja, tanpa pamit pada saya, tapi kalau pak kades tidak percaya ini saya bawa buktinya. Tapi masih seperti ini Pak, karena dia belum menandatanganinya. Tapi secara hukum agama, kami sudah sah pak!" kaya Hans, seraya menunjuk sebuah lembaran kertas pada pak kades itu.
"Ooh, kalau mari saya Antar pak,"
"Tidak usah Pak! Terima kasih atas tawarannya, tapi saya bisa sendiri. Kalau begitu saya permisi pai dan sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum" balas Hans, dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban salamnya dari kades tersebut. Lalu ia pun langsung melaju mobilnya menuju ketempat yang ditujukan oleh kades tersebut.
Karena hari memang sudah gelap, membuat Hans kaget saat melihat rumah yang terlihat begitu kecil dan hanya diterangi lentera saja.
__ADS_1
"Hah? Seperti inikah rumah yang dia tinggalin?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...