GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
MERASAKAN KEBAHAGIAAN.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


RIZQI MINALLAH


Janganlah mengatakan, "Jika bukan karena aku melakukan ini dan itu..." Tapi katakanlah selalu pada diri.."Jika bukan karena Allah, kita tidak akan pernah mampu untuk memiliki sesuatu apapun walau sekecil-kecil perkara ".


Bila senang, banyak yang selalu mudah melupakan semua kesenangan itu datang dari mana. Bahkan nikmat sehat, nikmat iman, dan nikmat waktu pun jarang di syukuri dengan sebaik-baiknya.


Benar usaha dari manusia, tapi penentu dan pemberi rezeki Allah mutlaklah. Jika itu dapat kita pahami, maka akan lahirlah hati yang mampu selalu bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Sesuai keinginan Rio, sore itu juga mereka berangkat ke kota JK. Membuat Naazwa terkejut ketika mobil mereka telah sampai di bandara. Apalagi ketika melihat quadruplets yang ternyata telah sampai di sana juga. Ia tak menyangka akan pergi secepat itu. Karena ia menyangka mereka akan berangkat besok sesuai permintaannya. Namun karena segalanya telah di persiapkan. Akhirnya ia pun mengikuti keinginan suaminya. Dan kini mereka telah sampai di kota JK. Dan bahkan mereka juga telah sampai di rumah Harun.


Karena walaupun mereka tinggal di kota M, rumah-rumah mereka yang berada di kota JK masih mereka pertahankan. Dan itu termasuk rumahnya dan Cindy. Namun ia tak pernah sekalipun membawa anak-anak kerumahnya dan Cindy. Bahkan rumah itu sudah ia hibahkan pada anak-anak yatim-piatu yang tak memiliki rumah. Bahkan ia juga yang mendonaturkan biaya kehidupan mereka dan juga pendidikan mereka. Ia melakukan itu demi rasa cintanya kepada Almarhum istri tercinta. Berharap pahala sedekahnya mengalir pada sang istri.


"Mymah? Mymah mau nggak lihat foto Mama Umnah?" tanya si kecil Yumna, ketika baru saja memasuki rumahnya Harun.

__ADS_1


"Mau dong Sayang," balas Naazwa, seraya ia mengusap kepalanya Yumna dengan penuh kasih.


"Kalau begitu ayo Mymah!" seru Yumna dan Yunda secara bersamaan, mereka menggandeng tangan Naazwa, dengan Yumna menarik tangan kanan, sedang Yunda menarik tangan kiri. Keduanya terlihat begitu bersemangat ingin menunjukkan sesuatu pada Naazwa. Sehingga membuat Rio sedikit khawatir, karena mereka terkesan terburu-buru, ditambah istrinya dalam keadaan hamil, otomatis menimbulkan rasa was-was dalam dirinya.


"Yumna, Yunda, jangan tarik-tarik Mymah seperti itu! Nanti Mymah jatuh, pelan-pelan saja!" teriak Rio, karena memang jarak mereka lumayan jauh. Rio yang masih berada di depan pintu, sementara Istri dan anak-anaknya sudah menaiki anak tangga. Jadi otomatis teguran Rio terdengar keras.


"Iya Ayah maaf, kami akan pelan-pelan kok," balas Yunda, dan akhirnya mengikuti perkataan Sang Ayah, kini mereka berjalan agak santai menaiki anak tangganya menuju ke sebuah kamar.


Sesampainya di dalam kamar tersebut, Naazwa melihat sebuah figura foto sepasang pengantin berukuran besar yang terpampang di dinding tepat diatas kepala tempat tidur. Naazwa mengenali Pria yang berada foto itu, yaitu foto suaminya. Namun ia bisa menebak wanita yang sedang tersenyum manis didalam foto tersebut. Yang sudah pasti, dia adalah Cindy, Ibu quadruplets.


"Maa shaa Allah, cantik sekali wajah Almarhum kak Cindy," gumam Naazwa, ia tampak terkesima melihat foto sepasang pengantin, yang keduanya tampak terlihat sedang tersenyum bahagia.


"Iya Sayang, Mamah kalian cantik banget, dan ternyata wajah cantik kalian berasal dari ibu kalian, sangat mirip sekali," kata Naazwa seraya ia memegang dagu Yumna dan Yunda.


"Mymah, tapi kami tidak pernah dipeluk Mamah. Makanya Kami tahu bagaimana rasa pelukan Mama," ujar Yunda, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.


"Hm, Mymah.. apakah pelukan Mamah kami, rasanya sama dengan pelukan Mymah?" tanya si Yumna, yang ternyata air matanya sudah jatuh ke pipinya.


Mendengar pertanyaan kedua putri sambungnya Naazwa tampak bingung, untuk menjawabnya. Karena memang ia tidak tahu. Ia bahkan tak pernah tahu sosok Cindy. Dan sudah menjadi prinsipnya ia tak ingin ada kebohongan dalam mendidik anak-anaknya. Makanya ia bingung harus memberi jawaban apa pada kedua putri sambungnya itu. Dan disaat ia sedang dilema dengan kebingungan, tiba-tiba Rio, Fanza dan Fasya masuk kedalam kamar tersebut juga.

__ADS_1


"Sama banget Sayang" kata Rio, sambil ia menatap wajah istrinya dengan singkat. Lalu ia ikut menekuk lututnya mensejajarkan tubuhnya pada kedua putrinya.


"Pelukan Mamah dan Mymah rasanya sama. Sama-sama hangat, sama-sama lembut, sama-sama baik. Dan yang utama, sama-sama menyayangi kalian dengan setulus hatinya," kata Rio lagi, yang kemudian langsung memeluk kedua putrinya. Namun tatapannya mengarah ke wajah Naazwa. Membuat Naazwa ikut terharu, mendengar perkataan Rio.


"Benarkah itu Dad?"


"Benarkah itu Yah?" tanya Yumna dan Yunda secara bersamaan.


"Iya Sayang-sayangnya Ayah, benar. Kan Ayah pernah merasakan pelukan Mamah dan Mymah. Dan itu rasanya sangat Sama," kata Rio lagi, seraya ia menghapus air mata kedua putrinya.


Mendapatkan jawaban dari sang, Yumna dan Yunda langsung membalikkan tubuhnya menghadap Naazwa, "Mymah, bolehkah kami memeluk Mymah?" tanya Yumna dan Yunda.


"Tentu dong Sayang, sini Mymah peluk," balas Naazwa, sambil merentangkan kedua tangannya. Dan otomatis Yumna dan Yunda langsung memeluk Naazwa. Dan disambut oleh Naazwa begitu hangat.


Rio yang melihat itu tersenyum haru, ia begitu bersyukur, memiliki Naazwa, yang memiliki kasih sayang yang begitu tulus pada anak-anaknya. Lalu ia menarik tangan kedua putranya dan membawanya ikut masuk ke dalam pelukan Naazwa. Lalu ia pun ikut memeluk mereka dengan posisi quadruplets berada ditengah-tengah antara pelukannya dan Naazwa.


"Terima kasih Naz," ucapnya lirih pada Naazwa, seraya ia mengecup lembut dahi istrinya. Lalu ia juga mengecup puncak kepala anak-anaknya satu persatu. Sambil ia melirik foto Cindy yang terpanjang dinding, yang seakan foto itu sedang tersenyum bahagia melihat dirinya.


"Terima kasih Acha. Terima kasih untuk segalanya. Dan kak Bian berharap kamu bisa merasakan kebahagiaan kami. Kamu yang tenang disana ya Sayang? Dan semoga suatu saat kelak kita semua akan berkumpul kembali di surganya Allah. Aamiin."

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2