GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
KE ACARA AKAD.


__ADS_3

••══❉্᭄͜͡💚 Mutiara Alfaqiroh💚❉্᭄͜͡══••


"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia


...


Karna balasan dari harapan mu adalah ke kecewaan. Maka berharap lah pada Rabb mu


Mungkin bukan balasan yang sama seperti yang kau harapkan tapi balasan yang lain yang lebih baik dari pada hanya sekedar harapan mu."


══Ali Bin Abi Thalib══


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•═══════•


Keesokan harinya.

__ADS_1


Hari ini adalah hari pernikahan Naazwa dan Hans. Walaupun keluarga Rio mendapatkan undangan, namun sepertinya Rio terlihat enggan untuk datang dan itu membuat kedua putrinya nampak sedih. Membuat sang kakek yang melihatnya tak sampai hati. Akhirnya ia pun berusaha merayu Rio agar mereka dapat datang memenuhi undangan tersebut.


"Brian? Kenapa kamu selalu memberikan kesedihan terus pada putri-putri kamu sih? Emangnya kamu tidak kasihan pada mereka Nak?" tanya Harun, ketika mereka sedang berada diruang keluarga. Ia menegur anaknya, karena ia baru saja melihat anaknya itu habis memarahi kedua putrinya yang bersikeras, mengajak Ayahnya untuk menyaksikan pernikahannya Naazwa dan Hans.


Rio, mengerenyitkan dahinya, "Apa Pah? Kesedihan? Apa maksudnya Papa sih? Kapan Brian memberikan mereka kesedihan Pah?" tanyanya kembali.


"Apakah kamu tadi tidak melihat mereka Nak? Atau kamu tidak ingat hm? Mereka itu hanya ingin melihat pernikahan Ustadzah mereka, Brian. Tapi kamu malah memarahi mereka! Apakah itu masuk akal Nak? Membentak mereka seperti itu?" Harun melontarkan pertanyaan-pertanyaan secara beruntun dengan nada sedikit kesal pada Anaknya itu.


"Pah? Brian melakukan itu bukan tanpa alasan Pah! Papa tahukan? Kalau kedua anak itu menginginkan Ustadzahnya menjadi ibu mereka? Lalu apa jadinya nanti kalau Brian membiarkan mereka datang menyaksikan pernikahan itu Pah? Apakah Papa berpikir mereka akan bahagia menyaksikan itu Pah? Yang pasti itu tidak mungkin! Karena sudah pasti mereka akan lebih bersedih dari pada sekarang Pah!"


Mendengar perkataan Rio, Harun pun terdiam. Karena sebenarnya ia membenarkan perkataan Sang Anak. Namun entah mengapa, hatinya mengatakan bahwa, ia dan keluarganya harus menghadiri pernikahan.


"Baiklah Pah, kalau begitu suruh anak-anak bersiap-siap kita akan berangkat kepondok sekarang," ujar Rio yang akhirnya ia mengalah.


"Alhamdulillah, ya sudah kalau Papa akan ke kamar mereka," Tanpa ingin menunda-nunda lagi, Harun pun langsung bergegas ke kamar para Cucunya. Dan langsung disambut oleh sang Cucu dengan sorakan, setelah mendengar ajakan Sang kakek yang akan pergi ke pondok.


Quadruplets langsung bergegas bersiap-siap, setelah selesai mereka pun langsung menghampiri sang Ayah, yang terlihat sudah menunggu di mobilnya.

__ADS_1


"Kami sudah siap Yah," kata Yunda yang terlihat begitu bersemangat.


"Ya sudah masuklah," balas Rio singkat dan akhirnya, Harun maupun quadruplets pun memasuki mobil. Dan kali ini Rio lebih memilih untuk menyetirkan mobilnya sendiri. Karena hari itu hari Jum'at, jadi sudah pasti karyawan perkebunannya masih waktunya berkerja, makanya ia mengutus Gilang untuk mengawasi para pekerjanya.


Mobil Rio masih melaju dengan kecepatan sedang. Dan suasana didalam mobil terlihat tegang, entah apa yang sedang mereka pikirkan. Yang aneh Rio merasakan dirinya juga ikut tegang, dan entah mengapa jantungnya tiba-tiba juga berdegup kencang tanpa sebab.


"Ada apa dengan diriku? Mengapa jantungku tiba-tiba berdetak kencang begini? Apakah ini tertanda akan terjadi sesuatu?" batin Rio yang terlihat dirinya semakin tegang.


"Hah! Ya Allah, ada apa ini? Apakah akan terjadi sesuatu pada kedua putriku?" batin Rio lagi sambil ia melirik kearah kaca spion tengahnya*. Dan ia menatap sendu pada keduanya yang terlihat keduanya sedang menatap kosong ke arah jendela mobil samping mereka.


"Ya Allah, Hamba berjanji akan melakukan apapun yang Engkau kehendaki, asalkan Engkau memberikan kebahagiaan pada mereka. Dan hamba juga ikhlas menukarkan nyawa hamba demi kebahagiaan mereka," batin Rio lagi, ia merasa iba melihat anak-anaknya yang terlihat tak memiliki semangat itu.


Empat puluh menit berlalu, mobil Rio pun memasuki gerbang pondok, yang terlihat disana juga sudah dipadati dengan mobil yang terparkir disana. Untungnya ia masih memiliki tempat untuk mobilnya terparkir. Setelah mobil terparkir, mereka pun langsung turun.


Seperti biasanya, Yumna dan Yunda yang biasa tak sabaran sudah lebih dulu turun, dan bahkan mereka sudah berlari masuk menuju ke tempat yang akan berlangsungnya ke acara akad. Yaitu dimesjid tempat mereka pernah memohon kepada Rabbnya disana. Setibanya mereka disana, ternyata mesjid sudah dipenuhi oleh para Undangan yang ingin menyaksikan acara ijab qobulnya Hans dan Naazwa.


"Apakah kita terlambat Kak Unda?"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2