
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Kita lelah? Semua orang mengalami juga.
Sedang takut, khawatir, gundah gulana, atau terserang penyakit? Percaya kita tidak sendiri..
Banyak manusia lain merasakan hal serupa. Jadi jangan anggap ini ujian limited edition. Namun berharaplah ia sebagai penggugur dosa.0
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukai..
Melainkan akan Allah hapus dengannya dosa kesalahan.. (HR. Al-Bukhari: 5642, Muslim: 2573)
Yang jadi masalah bukan apa musibah yang menyapa, namun bagaimana kita menyikapinya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Setelah menempuh perjalanan satu jam, dengan kecepatan tinggi. Akhirnya rombongan Ardiyan dan Rio, pun memasuki kawasan titik dimana, signal hp, yang menghubungkan Rio, berasal. Setelah menyakini dari pengamatan salah satu anak buahnya Dimas. Kalau tempat itu memang tempat persembunyian Anton berserta anak buahnya. Akhirnya Dimas dan Bob mulai bergerak mendekati markas Anton tersebut. Begitu juga dengan Andi dan Wira.
Setelah semua teman-temannya berada diposisinya masing-masing. Kini giliran Ardiyan dan Rio, mereka berdua berjalan mendekati gerbang. Yang tampaknya sedang ramai, itu terlihat dari beberapa mobil yang terlihat sedang berjejer di belakang sebuah mobil Jip putih. Namun itu tak menggetarkan hati Ardiyan maupun Rio, mereka terlihat terus mendekati gerbang tersebut.
__ADS_1
"BRAAAM!! KELUAR LO!" teriak Ardiyan, ketika mereka sudah berada tepat didepan gerbang. Mendengar teriakkan Ardiyan, dengan spontan para anak buahnya Bram pun bermunculan dengan membawa senjata masing-masing dan mengarahkannya ke Ardiyan maupun Rio. Dan tak berapa lama muncullah dua Pria, yang satu memakai jas putih dan yang satunya lagi memakai jas hitam. Tampak juga kedua Pria tersebut terkejut ketika melihat Ardiyan.
"Ardiyan Pramana?!" sentak Pria berjas putih. Tampak sekali ia begitu terkejut melihat kedatangan Ardiyan.
"Iya Ini gue! Kenapa Bram? Lo kaget melihat gue hm?" ujar Ardiyan, terlihat begitu tenang.
"Gue memang terkejut, karena melihat Lo datang sama dia! Dan asal Lo tahu, Dia adalah musuh gue! Jadi gue harap Lo tidak ikut campur urusan gue sama Dia!" balas Bram, yang sepertinya ia tidak tahu, kalau salah satu anak buahnya telah menculik Anaknya Ardiyan.
"Tidak ikut campur?" kata Ardiyan mengulangi perkataannya Bram, lalu ia pun tersenyum sinis pada Bram, "Heh..Lo nggak mau gue ikut campur? Oke nggak ikut campur urusan Lo! Tapi itu kalau Lo tidak menculik anak gue juga! Tapi karena Lo duluan yang mengusik gue! Hmm..Lo tahukan gimana gue?" hardik Ardiyan, membuat Bram, terkejut mendengar kata-katanya.
"Apa? Menculik anak Lo? Kapan gue menculik anak Lo! Kalau menculik anak dia baru Iya! Karena dia sudah membuat adik gue dipenjara! Jadi kalau dia mau Anaknya kembali, Dia harus membebaskan Adik gue dulu!" balas Bram, menyangkal kalau dirinya tidak menculik anaknya Ardiyan.
"Benarkah tidak menculik anak gue? Coba Lo tanyakan pada anak buah Lo! Berapa anak yang telah dia culik!" kata Ardiyan, yang tampaknya ia mengabaikan perkataan Bram prihal adiknya. Tampak sekali Ardiyan memang tak memperdulikan itu. Makanya mereka tidak membawa Bella, sebagai syarat untuk pertukaran Anak-anak mereka.
"Dua Anak sih! Tapi setahu gue, anaknya Pak Rio, itu kembar dan kebetulan saat diculik mereka sedang bersama, jadi sudah pasti, kalau keduanya adalah anak Pak Rio," jelas Anton, yang tampaknya ia juga ragu karena sampai detik ini ia sebenarnya belum melihat kedua anak perempuan yang telah diculik anak buahnya.
Melihat ada keraguan pada Anton, Ardiyan kembali tersenyum seringai, "Heh...lucu sekali ya anak buah Lo! Bahkan dia tidak bisa membedakan wajah anak yang kembar atau tidak!" kata Ardiyan, tampak sekali ia sudah mulai kesal.
"Dasar Bodoh! Jadi Lo belum melihat Anak-anak itu hah?!" bentak Bram pada Anton.
"Iya, gue belum melihatnya, karena saat gue datang, ternyata keduanya sudah kabur!" jelas Anton, yang tanpa sadar ia jadi keceplosan. Sehingga terdengar oleh Ardiyan, maupun Rio.
"Apa Lo bilang tadi? Anak-anak kami kabur? Cepat katakan! Dimana anak gue hah?" Bentak Rio, yang akhirnya ia buka suara. Karena mendengar perkataan Anton, membuat pikiranya menjadi kalut, saat membayangkan anaknya yang masih kecil itu, harus berjalan tanpa tahu arah pulang, belum lagi dengan pemikirannya saat membayangkan bila mereka mendapatkan bahaya dijalan.
"Mana gue tahu! Yang jelas dia dibawa kabur oleh anak buah gue, yang sudah mengkhianati gue!" jelas Anton, terlihat santai.
__ADS_1
Melihat itu, membuat Rio, semakin kesal, "Brengsek Lo yaa!" teriak Rio, begitu geram. Sehingga ia ingin menghampiri Anton, dan ingin meninjunya. Namun langsung ditahan oleh Ardiyan.
"Tenanglah Brian! Jangan terpancing emosi," kata Ardiyan, sambil menahan pundaknya Ardiyan. Setelah di lihatnya Rio, lebih tenang, Ardiyan pun menekan Earphonenya yang sejak tadi menempel di telinganya, "Wir, Lo dengarkan tadi? Jadi gue minta Lo dan Andi, carilah mereka!" katanya lagi pada Wira, yang saat ini masih dipersembunyiannya.
"Oke Ar, gue mengerti! Kalau begitu kami bergerak sekarang!" balas Wira disembarang.
"Oke laksanakan! Dan berhati-hatilah!" kata Ardiyan lagi, lalu ia pun kembali mentap kearah Bram lagi.
"Lalu bagaimana? Apa Lo ingin tetap berurusan sama gue Bram? Atau Lo ingin mengakhirinya, hm?" tanya Ardiyan, yang sebenarnya ia tak suka melakukan kekerasan lagi. Karena baginya, damai itu indah. itulah moto hidupnya setelah ia memahami ilmu agama.
"Tidak! Karena urusan gue sama dia belum selesai! Jadi gue udah suka mengakhirinya sebelum dia membebaskan Adik gue!" balas Bram, sambil menatap dingin ke arah Rio.
"Heh..Adik yang seperti itu Lo belain! Lo tahu kenapa teman gue memenjarakan dia? Pasti Lo nggak tahukan? Baiklah gue akan kasih tahu Lo penyebab teman gue menjebloskan adik Lo kepenjara!" kata Ardiyan, tangannya menengadahkan kearah Rio, "Brian mana hp Lo!" katanya lagi pada Brian.
"Ini Ar!" balas Rio, sambil ia menyerahkan benda pipihnya pada Ardiyan. Dan langsung diambil oleh Ardiyan, dan ia pun langsung mencari sesuatu, setelah dapat ia pun langsung mengirim sesuatu lewat pesan. Dan tak berapa lama terdengar bunyi tanda pesan dari hpnya Bram. Dan seketika Bram pun membuka pesan tersebut dan terlihatlah olehnya sebuah adegan yang dilakukan oleh adiknya sendiri, ketika di kantor Rio. Dan seketika wajah Bram langsung berubah.
"Huh! Dasar wanita j*l*Ng! Bikin malu saja!
...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉
Dear Readers ♥️
Alhamdulillah, Ramanda, sangat menyukai akhir Giveaway di novel terbaru Ramanda. karenanya Author juga ingin mengadakan syukuran buat novel ini. Yaitu Ramanda juga ingin memberikan sedikit rezekinya. Untuk 4 top fans teratas. Karena sudah ada yang mencapai gold, jadi syarat untuk mendapatkan pulsa gratis, Author akan memberikannya pada top fans Diamond. Dan dimulai dari hari ini, sampai tanggal 5 November. Untuk itu yuk semangat untuk terus dukung author ya, 😉 Syukron 🥰🙏.
__ADS_1