
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Menjadi orang baik pun pasti ada yang membenci, maka fokuslah pada apa yang membuatmu menjadi lebih baik dihadapan Allah tanpa harus mendapatkan predikat baik dari manusia
Dan benar, sebaik-baik kita pasti selalu ada yang tidak suka, ada saja yang memandang sebelah mata dan menganggap kebaikan yang kita lakukan sebagai topeng saja.
Tetapi tak mengapa, biarlah menjadi urusan dia dengan Allah. Tak perlu menyibukkan diri untuk membuktikan bahwa kita ini baik, tak perlu. Fokuslah menjadi baik di hadapan Allah dan jadikanlah penilaian Allah diatas segalanya."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Di Ruangan Rapat.
Nampak para kepala bagian telah hadir di ruangan rapat dan telah duduk di tempatnya masing-masing, tepat di belakang meja lumayan besar dan panjang. Hanya tinggal satu kursi yang letaknya diujung meja itu saja yang masih terlihat kosong. Dan sudah pasti itu kursi pemimpin mereka, yang belum juga muncul batang hidungnya. Membuat para bawahannya semakin resah.
"Ada apa dengan Pak Rio ya? Mengapa beliau belum juga datang?" tanya seorang pria, yang nampak heran, karena setahunya, Bosnya itu, tidak pernah telat, kalau sudah memberi perintah akan rapat.
"Aku juga heran Pak Bram, kok tumben Bos kita itu telat. Padahal sudah lewat setengah jam, dari jadwal yang beliau perintahkan," sambung pria yang kebetulan duduk disebelah Pria yang dipanggil Bram itu.
"Yaa namanya juga Bos! Lo kayak nggak tahu Aja sih Mam? Eh, Imam, dimana-mana Bos itu bebas lagi, mau datang, mau enggak, itu mah suka-suka dialah. Namanya juga perusahaan milik sendiri, iyakan Bram?" celetuk seorang pria, yang duduknya berseberangan dengan Pria yang dipanggil Imam tersebut.
"Eh, berhati-hati dalam bicara Pak Sandi! Kalau didengar Bos bisa jadi perkara," tegur Bram, pada pria yang namanya Sandi itu.
"Aah, maaf Pak Bram, saya salah!" kata Pria yang dipanggil Sandi tersebut. Namun diacuhkan oleh Bram, ia malah justru mengalihkan pandangannya pada sekertaris Rio, yang kebetulan berada di sana juga.
__ADS_1
"Din, bukankah tadi kamu mengatakan jam sepuluh tepat harus berada di ruang rapat? Tapi mengapa Pak Rio belum datang?" tanya Bram pada Dina.
"Maaf Pak Bram, tadi Bu Naazwa istrinya Pak Rio datang, jadi mungkin agak telat beliau datangnya, pak," balas Dina, membuat Pria yang bernama Sandi tersenyum mengejek.
"Heh.. kita tadi begitu terburu-buru menyiapkan segala, karena mendapatkan perinta akan rapat secara mendadak. Tapi sampainya disini kita harus menunggu karena Bosnya lagi indehoyan sama istrinya. hehehe.. lucu sekali ya?" ujar Sandi, membuat para teman-teman kerja kaget mendengar perkataannya. Namun tak satupun yang berani menanggapinya. Bahkan wajah mereka menjadi tegang seketika. Karena ternyata dibelakang Sandi, ada seseorang yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
"Benarkah itu lucu Pak Sandi? Kalau Boleh saya tahu bagian mananya yang lucu menurut Pak Sandi?"
Mendengar pertanyaan tersebut, spontan mata sandi terbelalak karena terkejut. Namun ia tak berani menoleh ke belakang karena ia sudah begitu hafal dengan pemilik suara tersebut. Yang sudah pasti pemiliknya adalah Rio.
"Ma-maaf Bos! Saya tadi hanya bercanda! Jadi tolong jangan pecat saya Bos," katanya dengan suara yang terdengar bergetar. Nampak sekali ia begitu begitu ketakutan, kalau-kalau Bosnya langsung memecatnya.
"Apakah dimata Anda Saya orang yang sekejam itu Pak Sandi? Hanya karena bercanda, saya memecat Anda?" tanya Rioz seraya ia melangkah menuju ke kursi yang berada diujung meja panjang tersebut. Dan setibanya disana ia pun langsung duduk. Namun tatapan matanya masih mengarah ke Sandi.
"Ti-tidak kok Pak! Anda tidak seperti itu!" balas Sandi terlihat gugup.
Dua jam kemudian, rapat pun selesai dengan hasil yang memuaskan, karena sudah pasti itu dikarenakan saat ini Bos mereka dalam keadaan sedang senang. Karena sudah mendapatkan energi positif dari istri cantiknya. Dan sebelum Rio keluar dari ruang Rapat, ia kembali menatap Sandi, membuat Sandi kembali berkeringat menandakan ia sedang takut.
"Pak Sandi!"
"I-iya Pak?" katanya kembali gugup.
"Tolong hubungi Pak Anto, dan Katakan padanya, besok beliau boleh kembali bekerja!" ujar Rio, seraya ia bangkit dari duduknya.
"Pak Anto? Oh..ba-baik Pak!" balas Sandi terlihat sedikit terkejut saat mendengar Nama pak Anto disebut Rio. Bahkan wajah sedikit memucat, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
__ADS_1
"Bagus Saya menunggu kabar Anda!" kata Rio, yang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan tersebut. Namun saat ia mendekati kursi Sandi, Rio mendekati telinga Sandi, "Pak Wajah Anda, nampak suram, jadi saya saranin sebaiknya Anda sering-seringlah indehoyan pada Istri Anda, agar pikiran Anda menjadi rileks," bisiknya, membuat mata Sandi membulat mendengarnya.
Sedangkan Rio, malah tersenyum, bahkan ia juga mengedipkan sebelah matanya, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Sandi yang terlihat masih terdiam terpaku ditempat duduknya untuk beberapa saat.
"Anda baik-baik saja Pak Sandi?" tanya Bram, yang ternyata ia masih berada di ruangan tersebut.
Mendengar pertanyaan Bram, spontan Sandi terkejut dan ia pun langsung berdiri dari duduknya, " Akh! Iya Pak Bram, saya baik kok! Kalau begitu saya permisi duluan. Kata Sandi yang terlihat ia meninggalkan ruangan rapat itu dengan tergesa-gesa.
"Aneh! Ada apa dengan Pak Sandi? Mengapa dia seperti itu ya? Mencurigakan banget sih!" gumam Bram, yang terlihat masih menatap kepergian Sandi, "Aah.. sudahlah sebaiknya aku kembali ke ruang kerjaku," gumamnya lagi, lalu ia pun ikut meninggalkan ruangan rapat tersebut.
...🍃🍃🍃...
Sementara disisi lain.
Rio, yang masih terlihat sedang berjalan menuju ke ruangannya, dengan Gilang yang berada di belakangnya. Tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Gilang yang berada tepat di belakangnya. Seketika menabrak punggungnya Rio.
"Aakh! Kenapa Anda tiba-tiba berhenti Pak?" tanya Gilang sambil melangkah mundur.
"Aah, kenapa kamu berjalan terlalu dekat sih?!Aah.. sudahkah, tidak usah di bahas! Oh iya Lang, Aku merasa ada yang janggal pada Pak Sandi! Jadi Aku minta kamu selidikin dia! Kamu paham?" ujar Rio, yang ternyata ia mencurigai Sandi juga.
Melihat kecurigaan Rio Akhirnya Gilang buka suara, "Sebenarnya Saya juga merasa, curiga Bos. Dan Saya melihat ada yang aneh antara Pak Anto dan Pak Sandi, saya merasa mereka ada masalah Pak," balas Gilang yang merasa curiga juga terhadap Sandi.
"Hmm.. Kalau begitu secepatnya kamu cari tahu! Dan segera laporkan kalau ada hal yang mencurigakan, Paham!" kata Rio terdengar tegas.
"Paham Pak! Kalau begitu saya permisi!" pamit Gilang dan dianggukan oleh Rio. Setelah Gilang pergi.
__ADS_1
"Aah, iya.. Naazwakan masih diruang istirahatku! Hmm..tambuah cie nggak papakan?" gumam Rio, seraya tersenyum seringai.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...