
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Seorang pemuda berkata :
"Wanita itu seperti sendal jepit, ia akan diganti dan dibuang saat ditemukan sendal lain yang lebih bagus dan pas."
Mendengar hal itu, kakek tua yang duduk disebelahnya berkata :
"Benar, wanita itu memang seperti sendal jepit, itu karena engkau menganggap dirimu sebagai kaki, sebagai ceker!! Tapi bagiku, wanita itu seperti mahkota yang kuletakkan diatas kepala, kuhormati, kurawat dan kujaga sepenuh hati, takkan pernah kuganti, itu karena aku mengganggap diriku sebagai raja."
Sesungguhnya, saat seseorang memperlakukan orang lain dengan buruk, karena memang dasarnya ia menganggap dirinya sendiri juga buruk. Dan sesungguhnya, manusia tanpa kaki masih bisa hidup, tapi tanpa kepala ia takkan lagi bernyawa.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Satu Bulan sudah, Hans dan Inayah berada di rumah baru mereka yang berada di kota. Dan Inayah juga sudah mulai betah tinggal di rumah tersebut. Namun semenjak tinggal di rumah tersebut, Hans jadi sering sekali keluar kota, karena tuntutan pekerjaan yang sudah diamanahkan oleh Ardiyan kepadanya. Karena memang saat ini Ardiyan sedang mendapatkan proyek yang lumayan besar. Makanya sayang bila tidak diabaikan begitu saja. Dan kini Hans sudah satu minggu Hans berada di kota A. Dan hari ini tampak Hans, sedang meninjau proyeknya.
"Selamat pagi Pak Hans," sapa seorang pria paruh baya, yang terlihat ia baru saja datang, dengan memakai jas hitam, serta memakai helm berwarna kuning.
"Pagi juga Pak Hendrik!" balas Hans, sembari memandang Pria yang dipanggil Hendrik secara singkat saja. Lalu ia kembali memperhatikan para perkeja yang terlihat sedang fokus menangani proyek yang sedang mereka kerjakan.
"Bagaimana perkembangan proyek ini Pak? Dan kapan kira-kira proyek ini terselesaikannya Pak?" tanya Hans lagi, tanpa melihat kearah Hendrik sedikit pun.
__ADS_1
"Perkembangan lumayan pesat Pak! Kemungkinan proyek ini selesai dalam jangka waktu dua bulan lagi Pak! Dan ini laporan yang saya terima dari mandor Cipto Pak!" balas Hendrik, sambil ia menyerahkan sebuah map pada Hans.
"Apa!! Kenapa lama sekali! Bukankah waktu perencanaan dikatakan hanya tiga bulankan? Kenapa...." protes Hans. Namun belum lagi ia menyelesaikan protesnya tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Ada apa Hans?" tanya seorang pria yang tampaknya baru datang. Dan seketika Hans pun langsung menoleh ke belakang.
"Eh! Pak Ardiyan?" sentak Hans, setelah ia melihat wajah Pria yang baru menepuk pundaknya, "Kapan nyampenya Pak?" tanya Hans, lagi yang memang ia terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan Ardiyan.
"Tadi pagi penerbangan pertama, Hans. Oh iya ada apa Hans, mengapa kamu tadi terlihat tidak senang begitu?" tanya Ardiyan, penasaran.
"Ini Pak, Anda bisa melihatnya," kata Hans, seraya menyerahkan map yang tadi ia dapatkan dari Hendrik. Setelah memberikan Map tersebut Hans langsung mundur beberapa langkah dari Ardiyan. Membuat Ardiyan langsung mengerenyitkan dahinya.
"Kenapa Lo mundur gitu? Gue bau ya, sampai-sampai Lo menutup hidung Lo pakai sapu tangan begitu?" tanya Ardiyan, sambil ia menarik baju jasnya dan bahkan ia mengangkat tangannya untuk mencium aroma ditubuhnya.
"Minyak nyong-nyong? Minyak apa itu?" tanya Ardiyan, yang sepertinya ia tidak mengetahui yang dikatakan oleh Hans.
"Itu loh Pak, minyak nyong-nyong itu, minyak yang biasa dipakai orang untuk memelet orang Pak, biasa dipakai sama banci," kata Hans, ngasal.
"Sembarang Lo! Enak aja ngatain gue pakai minyak monyong! Hei Hans, asal Lo tahu ya! Gue itu pakai minyak wangi dari Arab tau! Jadi jangan sok tahu deh, ngatain gue pakai minyak monyong lagi!" balas Ardiyan, tampak ia terlihat kesal karena Hans masih menutup hidungnya.
"Bukan minyak monyong Pak. Tapi minyak nyong-nyong pak," kata Hendrik ingin membenarkan perkataan Ardiyan.
"Bodo amat! Mau minyak nyong-nyong kek! Mau minyak monyong kek! Emang gue pikirin! Intinya gue nggak pakai itu!" ujar Ardiyan terlihat semakin kesal. Sementara Hans, yang tahu sifat Bosnya itu memilih diam saja, "Ayo ikut gue Hans!" lanjutnya lagi, seraya ia melangkahkan kakinya dengan langkah cepatnya meninggalkan Hendrik, yang tampak bingung dengan Bos, barunya itu.
__ADS_1
"Ada apa ya pak Hans? Kenapa Bos Ardiyan, jadi marah-marah begitu?" tanya Hendrik, pada Hans yang terlihat masih belum menyusul Ardiyan. Mendengar pertanyaan Hendrik, Hans hanya mengangkat kedua bahunya, tanda ia juga tidak tahu. Setelah menjawab dengan isyarat saja.. Hans, pun langsung pergi meninggalkan Hendrik begitu saja. Tampaknya ia bermaksud menyusul Ardiyan.
Sesampainya di bawah, bangunan yang belum jadi itu, Hans pun langsung menghampiri Ardiyan yang terlihat memasuki sebuah rumah makan yang berada di depan proyek yang sedang dikerjakan. Sesampainya di dalam, entah mengapa tiba-tiba, wajah Hans, terlihat mulai dipenuhi keringat jagung. Membuat Ardiyan heran melihatnya.
"Lo sebenarnya kenapa sih Hans? Lo sakit ya?" tanya Ardiyan, mulai cemas melihat perubahan wajahnya.
"Saya tidak apa-apa kok, hmm..tapi kenapa kita kesini ya Pak?" balas Hans, dan kembali bertanya. Sambil ia menduduki tubuhnya tepat dihadapannya Ardiyan.
"Gue laper! Tadi karena gue berangkat mengambil penerbangan pertama, jadi gue nggak sempat sarapan pagi, Hans. Makanya sekarang gue kelaparan," balas Ardiyan, apa adanya. Dan disaat bersamaan dua orang pelayan datang dengan membawa berbagai macam hidangan dan langsung disajikan tepat didepan meja mereka.
Melihat makanan yang begitu banyak dihadapannya, tiba-tiba saja merasa mual. Sehingga ia langsung menutup mulutnya, "Ugh.. hug..hoeek...!"' Hans pun langsung bangkit dari duduknya, dan langsung lari menuju ke toilet. Ardiyan yang melihatnya langsung tercengang.
"Ada apa dengan Hans? Kenapa dia seperti itu? Aah, kalau lihat dari wajahnya yang pucat sepertinya dia memang sakit! Sebaiknya gue lihat saja, dari pada terjadi apa-apa dengannya," gumam Ardiyan, dan ia pun langsung bangkit dari duduknya. Dan ia langsung berjalan menuju toilet menyusul Hans.
Sesampainya di toilet, Ardiyan mendengar suara Hans, yang muntah-muntah tanpa henti-hentinya. Membuat ia semakin cemas, pasalnya Hans mengunci pintu kamar mandinya. Membuat Ardiyan tak bisa apa-apa, hanya berteriak memanggil namanya dari luar saja.
"Hans..! Hans..! Lo nggak papa? Buka pintunya Hans!" teriak Ardiyan, seraya ia menggedor-gedor pintu kamar mandinya tersebut.
"Saya..Hueek. ughueek..ughueek.. hoeek! Huk..huk,.. Hoeek.." Tampaknya Hans, sangat kesulitan membalas panggilan Ardiyan. Karena ia terus-menerus muntah tanpa henti. Hingga hampir setengah jam ia berada didalam toilet. Dan akhirnya ia pun keluar dari toilet tersebut. Namun baru saja, ia melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba saja tubuhnya oleng dan untungnya ada Ardiyan, sehingga dengan sigap ia menangkap tubuh Asistennya itu.
"Haans! Lo kenapa Hans! Sial dia nggak sadarkan diri lagi!" ujar Ardiyan terlihat panik.
...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
__ADS_1
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉