
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Di dalam jiwa ada rasa kusut yang tidak akan terlerai kecuali dengan hadir kepada Allah....
Di dalamnya ada rasa sunyi yang tidak akan hilang kecuali dengan mendekati Allah....
Di dalamnya ada rasa kesedihan yang tidak akan hilang kecuali dengan gembira mengenali-Nya dan benar dalam berinteraksi dengan-Nya....
Di dalamnya ada rasa keluh kesah yang tidak akan tenang kecuali dengan bersatu dan berlarian kepada-Nya. Di dalamnya ada api kekesalan yang tidak akan padam kecuali dengan rasa redha dengan suruhan dan larangan-Nya serta qadha'-Nya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••
Setelah mendapatkan perawatan dari Inayah. Hans sudah terlihat kembali sehat seperti sediakala. Bahkan hari ini ia tampak sudah bersiap hendak bekerja. Dengan dibantu oleh Inayah, yang terlihat begitu sabar mengancingkan baju kemejanya serta memasangkan dasinya ke Suaminya itu. Sedangkan Hans hanya menatap wajah cantik istrinya dengan lembut, seraya ia melingkarkan tangannya di pinggang sang Istri.
Inayah yang mendapatkan tatapan yang terlihat begitu aneh menurutnya. Membuat Ia jadi salah tingkah, "Iiikh Bang Hans! Jangan menatap Nayah seperti itu!" tegurnya dengan wajah yang terlihat bersemu malu.
"Kenapa Sayang? Emangnya nggak boleh ya seorang Suami menatap istrinya sendiri?" tanya Hans, yang terlihat ia malah semakin mendekati wajahnya ke wajah Inayah.
"Ya boleh sih, hanya saja Nayah risih tau Bang!" balas Inayah seraya ia melangkah mundur. Namun dengan sigap Hans malah menariknya kembali. Bahkan ia mempererat pelukannya.
"Eh! Iiikh..! Bang Hans lepasin! Katanya mau kerjakan? Ini sudah siang loh Bang! Kamu juga belum sarapankan?" protes Inayah, seraya ia berusaha melepaskan dirinya dari dekapannya Hans.
"Aah..iya Abang lupa, ya sudah ayo kita sarapan," ajak Hans, yang kemudian ia pun langsung menggandeng tangan istrinya. Lalu mereka pun mulai berjalan meninggalkan kamar mereka.
__ADS_1
"Bang ingat ya? Kalau makan diruang makan, kamu harus makan sendiri. Tidak boleh seperti burung lagi ya? Soalnya malu kalau Mbok Iyem tahu," kata Inayah mengingatkan Suaminya, ketika mereka sedang menuruni anak tangga.
Mendengar perkataan istrinya, Hans langsung menghentikan langkahnya, "Eh, mana bisa begitu Sayang! Kamukan tahu sendiri, Abang tidak bisa makan apapun, kalau tidak dari mulut kamu. Bahkan melihat makanan dan minuman saja Abang sudah mual Sayang," balas Hans, yang terlihat wajahnya langsung berubah, tatkala ia menyebutkan makanan dan minuman.
"Tapi Bang, masa harus seperti itu terus sih? Kan malu sama Mbok Iyem Bang! Pokoknya Nayah nggak mau seperti itu lagi!" kata Nayah, seraya ia melanjutkan langkahnya.
"Humm...ya sudah kalau kamu keberatan, nggak papa kok. Kalau begitu Abang langsung berangkat saja ya?" kata Hans, seraya ia ikut melanjutkan langkahnya sedikit cepat dari Inayah. Sehingga Inayah kini sudah berada dibelakangnya. Bahkan Hans langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Inayah. Padahal setiap ia akan pergi kerja ia pasti akan memberikan kecupan dan pelukan pada istrinya.
Melihat Hans yang pergi begitu saja, membuat Inayah tercengang, "Hah...? Apakah Bang Hans merajuk lagi?" gumamnya, sambil menatap punggung suaminya yang semakin jauh. Bahkan kini ia sudah menghilang setelah melewati pintu keluar rumahnya.
"Astaghfirullah..kenapa akhir-akhir ini Bang Hans, sensitif banget sih! Bahkan melebihi perempuan deh!" gumam Inayah, "Aah tidak bisa begini! Kalau Bang Hans, tidak makan, takutnya Beliau akan seperti waktu dia pulang dari kota A! Sebaiknya aku panggil saja deh!" lanjut Inayah lagi, yang kemudian ia pun langsung bergegas keluar bermaksud ingin memanggil suaminya. Namun sesampainya ia diluar, ternyata suaminya sudah tidak ada. Bahkan mobilnya juga sudah tak terlihat lagi.
"Hah..? Cepat banget sih Bang Hans ngilangnya? Emangnya dia tidak lapar apa, Pergi sebelum sarapan?" gumam Inayah, dengan wajah terlihat sedikit kesal, "Huh! Dasar tukang merajuk! Biar saja dia ini kok yang merasakan lapar! Ah sudahlah, lebih baik Ana makan saja!" gumam Inayah lagi, lalu ia pun langsung bergegas masuk, dengan wajah masih terlihat masih kesal.
"Loh-loh Neng...wajahnya kok ditekuk begitu sih? Ada apa Neng?" tanya Iyem, saat melihat wajah majikannya yang baru saja datang.
"Nggak papa kok berbeda sih? Oh iya, Den Hansnya mana Neng? Apa dia nggak ikut sarapan?" tanya Iyem lagi, seraya matanya, seperti mencari sesuatu.
"Nggak Mbok! Kayaknya Bang Hans merajuk lagi deh," balas Inayah apa adanya.
"Emangnya ada apa Neng? Kok Den Hans bisa merajuk?" tanya Iyem lagi, tampak penasaran.
"Itu Mbok, tadi Nayah cuma nyuruh Bang Hans, makan sendiri Mbok. Habisnya dia maunya makan disuapin seperti anak burung mulu sih Mbok," balas Inayah, membuat Iyem terlihat bingung dengan perkataannya.
"Disuapin seperti anak burung? Apakah maksudnya Eneng disuapi lewat mulut ke mulut ya?" tanya Iyem semakin penasaran.
__ADS_1
"Iya Mbok, seperti itu! Aneh bangetkan Mbok masa Bang Hans, setiap mau makan harus seperti itu sih? Kan malu dilihat orang!" balas Inayah, yang terlihat wajahnya kembali terlihat kesal.
"Yaah, Neng namanya juga orang yang ngidam. Jadi melakukan hal-hal yang Aneh mah sudah biasa bagi si Mbok Neng. Apalagi saat ini yang mengalami ngidamnyakan Den Hans, Neng, jadi wajar dong dia bertingkah seperti itu," ujar Iyem, seraya ia tersenyum lucu.
"Tapi tetap aja aneh Mbok, masa mau minum, mau makan harus di suapin seperti itu sih?" protes Inayah yang terlihat masih, belum menerima kelakuan suaminya yang aneh menurutnya.
"Ya begitulah Neng orang ngidam. Seharusnya Neng bersyukur atuh, karena yang mengalami hal itu adalah Den Hans, bukannya Neng. Waktu si Mbok ngidam, malah si Mbok yang mengalami Neng, nggak enak banget loh Neng! Nggak bisa makan nggak bisa minum, bau Nasi saja si Mbok muntah. Dan begitu Mulu sampai sembilan bulan Neng si Mbok nggak makan-makan. Dan yang anehnya setiap melihat suami, si Mbok, merasa jijik loh Neng, tapi kalau suami si mbok pergi si Mbok malah kangen banget, kadang sampai nangis. Pokoknya Neng, ngidam itu nggak enak banget Neng, sangat menderita," jelas Iyem, yang menceritakan pengalamannya saat ia dalam Pase ngidam.
"Astaghfirullah.. ternyata begitu ya Mbok. Ya Allah, Nayah jadi merasa bersalah sama Bang Hans, Mbok. Padahal Nayah yang hamil, tapi Nayah bisa makan apapun, tanpa mual sedikitpun. Sedangkan Bang Hans, melihat air putih saja dia langsung muntah Mbok," balas Inayah, yang kini wajahnya terlihat ada penyesalan.
"Nah, itu dia Neng, makanya kalau memang, Den Hans bisa makan dan minumnya lewat mulutnya Eneng kenapa harus dilarang Neng? Emangnya Eneng nggak kasihan sama Den Hans, seperti saat ini dia nggak makankan?" kata Iyem lagi, membuat Inayah semakin merasa bersalah.
"Iya ya Mbok pasti saat ini perutnya sedang kelaparan. Ya sudah Mbok, begini saja, siapkan bekal untuk Bang Hans, Biar Nayah yang akan membawanya ke kantornya nanti," kata Inayah, membuat Iyem yang mendengarnya langsung tersenyum.
"Alhamdulillah, gitu dong Neng, ya sudah biar si mbok siapkan ya?"
"Iya Mbok. Terima kasih banyak ya Mbok?"
"Iya Neng sama-sama."
...⊶⊶⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉
__ADS_1
Hanya mengingatkan lagi, biar para Readers semakin semangat 😉😁