
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
الحُزْنُ لَا يَرُدّ الغَائِب، والخَوفُ لا يُصلِح المُستَقبَل، والقَلَق لا يُحَقِّق النَّجَاح، بَل النَّفْس السَّوِيَّة والقَلْب الرَّاضِي هُمَا جَنَاحَا السَّعَادَة
"Sedih yang berlarut tidak akan mengembalikan apa yang hilang.Takut yang berlebihan tidak memperbaiki masa depan. Rasa cemas yang berlebihan juga tidak bisa mengantarkan pada keberhasilan.
Namun, jiwa yang lurus serta hati yang Ridha-lah yang akan mampu menjadi dua sayap untuk menggapai kebahagian."🤔
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
Keesokan paginya.
Naazwa mulai menggeliat, menandakan ia akan terbangun. Karena sudah terbiasa baginya, bangun diwaktu subuh. Dan ketika matanya mulai terbuka, yang dilihatnya pertama kali adalah wajah suaminya. Pada awalnya ia kaget, melihatnya. Karena ini pertama kalinya ia tidur satu ranjang dengan Rio. Jadi wajar saja begitu kaget. Namun setelah nyawa sudah terkumpul barulah ia ingat akan percintaan mereka tadi malam.
Naazwa pun tersenyum, saat melihat wajah tampan suaminya, yang selama ini begitu sulit untuk memandangnya. Apalagi kalau Rio, sudah memasang wajah dinginnya. Maka Naazwa pun tidak akan berani melihatnya. Kini pemilik wajah dingin itu sedang berada dihadapannya.
"Maa shaa Allah, begitu sempurnanya ciptaan-Mu ya Rabb," gumam Naazwa lirih, sembari ia mulai menyentuh wajah Rio, "Maa shaa Allah, Suamiku, begitu tampan, alisnya tebal dan rapi, bulu mata panjang dan lentik, hidungnya mancung dan bibirnya..." lanjutnya lagi. Namun saat tangan menyentuh bibirnya, perkataannya langsung terhenti. Karena seketika ia teringat kala bibir itu menyentuh bibirnya. Dan disaat ia masih teringat akan manis sentuhan bibir Rio yang saat ia sentuh tiba-tiba..
"Bibirnya kenapa? Kok nggak dilanjutkan lagi?" tanya Rio, dengan suara yang terdengar serak ciri khas orang bangun tidur. Dan seketika itu juga ia pun membuka matanya. Membuat Naazwa terlonjak kaget. Yaa sebenarnya saat Naazwa menggeliat tubuhnya. Sempat mengenai dada bidang, membuat ia ikut terbangun. Namun ia enggan membuka matanya. Sehingga Naazwa berpikir kalau suaminya masih tidur.
__ADS_1
"Eh! Bang Brian?!" sentaknya, sambil menarik tangannya yang tadi masih berada bibirnya Rio.
"Kok nggak dijawab? Lanjutkan lagi dong? Emangnya bibir suami kamu ini kenapa hm?" tanya Rio, lagi terdengar lembut, seraya ia menompangkan kepalanya di telapak tangannya, dalam posisi tidur miringnya. Sehingga posisi kepalanya lebih tinggi dari kepala Naazwa, yang masih berada dibantalnya.
" Eh, ng-nggak papa kok Bang! " jawab sedikit gugup. Karena Rio menatapnya begitu lekat pada dirinya, "Udah akh, Azwa mau mandi, karena sebentar lagi waktu subuh sudah masuk!" tambahnya lagi dengan wajah yang terlihat sudah memerah karena malu. Seraya ia bangkit dari tidurnya, dengan terburu-buru sambil menarik kain selimut untuk menutupi tubuhnya yang ternyata masih polos, ia bermaksud ingin ke kamar mandi.
Namun saat Naazwa baru saja melangkah turun, ia merasakan sakit dibagian intimnya. Hingga tanpa ia memekik, karena sakit, "Awu.! Ah!" pekiknya, akan tetapi setelah ia sadar ia langsung menutup mulutnya, sambil ia melirik kearah Rio. Namun baru saja meliriknya, Naazwa malah kembali terpekik lagi,
"Kyaaaa!!" teriaknya sembari ia menutup matanya. Setelah ia melihat Rio, dengan posisi yang sama saat ia tinggalkan tadi. Namun tak sehelai benang pun yang menempel di tubuh Rio. Tubuhnya benar-benar polos, dengan pose bak seorang model tanpa busana.
"Kenapa kamu berteriak? Bukankah kamu yang menarik selimutnya tadi?" tanya Rio, seraya tersenyum lucu, melihat istrinya yang terlihat lucu saat melihat dirinya, yang saat ini masih tak bergeming dari posisinya semula. Bahkan ia sengaja berbuat seperti itu, karena ingin menggoda Naazwa.
"Eh, Maaf Azwa nggak sengaja Bang! Tapi bisakah sekarang Abang pakai celananya? Emangnya Abang nggak malu apa seperti itu?" tanya Naazwa dengan tangan sebelahnya yang masih menutupi matanya. Sedangkan tangan yang satunya lagi, untuk memegang selimut yang masih melingkar di tubuhnya, karena ia takut selimut itu akan jatuh bila tidak ia tahan.
"Lagian bukankah tadi malam kamu sudah melihatnya? Bahkan kamu juga sudah menikmatinya jugakan?" bisiknya lagi, tepat ditelinganya Naazwa, bahkan ia juga menggigit kecil pada daun telinganya, membuat Naazwa tanpa sadar mengeluarkan suara yang amat disukai Rio. Membuat hasrat Rio kembali bangkit, dan ia jadi ingin menelusuri leher jenjang milik Naazwa, yang menghasilkan suara itu muncul kembali.
"Ukhmm...!" lenguh Naazwa. Namun seketika ia langsung menutup mulutnya, saat ia mulai sadar kalau dirinya hendak melakukan kewajibannya terhadap Rabb-nya, "Astaghfirullah.. hentikan Bang! Nanti kita terlambat Sholat subuh!" katanya sembari mendorong wajah suaminya, yang sedang berada dilehernya.
"Aah, baiklah, tapi setelah sholat subuh bolehkan?" kata Rio, sembari mengedipkan sebelah matanya. Membuat mata Naazwa membulat sempurna.
"Hah? Tapi Bang, itu Azwa masih sakit," balasnya seraya menundukkan wajahnya, yang sudah memerah.
__ADS_1
Rio yang sepertinya paham akan rasa sakit istrinya, akhirnya ia mengalah, untuk menunda keinginannya, "Baiklah aku nggak maksa kok. Ya sudah ayo ku gendong ke kamar mandi," katanya, yang tanpa memberi aba-aba ia langsung menggendong tubuh Naazwa. Membuat sang pemilik tubuh terpekik akibat kaget.
"Aaaakh!" pekik Naazwa, yang dengan spontan ia langsung melingkarkan tangannya dileher Rio, "Bang turunin! Zwa bisa sendiri," lanjutnya lagi, dengan wajah yang masih memerah, entah mengapa ia merasa amat malu, karena saat ini Rio, menggendong dirinya dalam keadaan tak memakai apapun.
"Diamlah! Emangnya kamu yakin akan bisa jalan hm?" balas Rio, sembari ia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi.
"Hmm.. nggak tahu, cuma Zwa, nggak enak, lihat itunya Abang, kayak gitu," ucap Naazwa lirih, sambil menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya. Namun tangannya mengisyaratkan kebagian bawah Rio, yang ternyata, sedang togap. Seperti ingin mencari sarangnya. Rio tersenyum tipis, melihat wajah malu istrinya.
"Tenang saja, dia sudah jinak kok," bisiknya, membuat Naazwa bergidik saat, hembusan nafas Rio mengenai tengkuk dan telinganya, "Tapi kalau kamu kasihan padanya, maka servislah dia," tambah sambil menyunggingkan senyuman seringainya.
"Eh! Tidak-tidak Zwa nggak mau telat sholat!"
"Hahahaha.., ya sudah kalau begitu, sekarang mandilah," balas Rio, seraya ia meletakkan tubuh Nazwa didalam bathtub lalu ia pun mengisikan air hangat kedalamnya. "Berendamlah sebentar agar rasa sakitnya sedikit berkurang," katanya lagi, seraya mengelus kepalanya Naazwa.
"Hu'um," balas Naazwa, masih enggan melihat wajah suaminya. Sedangkan Rio, langsung membersihkan dirinya dibawah shower. Setelah itu dilanjutkan mengambil Air wudhu. Begitu juga dengan Naazwa, setelah berendam sebentar ia langsung membersihkan tubuhnya, serta berwudhu setelahnya.
Setelah keduanya selesai, mereka pun langsung menunaikan kewajibannya, terhadap sang pemilik alam semesta. Setelah selesai Rio nampak keluar dari kamar, dan menyuruh Naazwa untuk istirahat. Dan tak berapa lama ia telah kembali dengan membawa baki berisi makanan dan minuman.
"Makanlah Naz, tapi sebelum makan minumlah ini dulu," kata Rio sembari ia memberikan sepapan obat yang berwarna putih, berserta segelas air putih.
"Apa ini Bang?" tanya Naazwa, sembari ia membaca tulisan yang berada disana, "Pil KB?"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...