
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
Al-Imam Al-'Allamah Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata;
الوقت هو أغلى شيء، لكن هو أرخص شيء عندنا الآن، نمضي أوقاتاً كثيرة بغير فائدة، بل نمضي أوقاتاً كثيرة فيما يضر، ولست أتحدث عن رجل واحد، بل عن عموم المسلمين، اليوم -مع الأسف الشديد- أنهم في سهو ولهو وغفلة، ليسوا جادين في أمور دينهم
"Waktu adalah suatu yang paling mahal, namun sekarang menjadi suatu yang paling murah bagi kita. Kita habiskan banyak waktu untuk tanpa ada manfaat. Bahkan kita habiskan banyak waktu untuk suatu yang berbahaya/merugikan.
Aku tidak berbicara terkait satu orang, namun terkait keumuman kaum muslimin."
Hari ini sangat disesalkan mereka dalam kelengahan, kesia-siaan, dan kelalaian. Tidak serius dalam urusan agama mereka!!"
(Dalam Syarh Riyadhush Shalihin 1/345)
Maka hendaknya seorang hamba menggunakan waktunya pada perkara-perkara yang bermanfaat bagi akhiratnya, semisal melakukan amalan shalih serta perkara-perkara ibadah untuk bekal perjalan menuju akhirat.
Sebuah pepatah Arab yang mungkin dapat kita jadikan bahan renungan betapa pentingnya waktu itu,
اَلْوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ
“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••
Sama halnya ketika mendisiplinkan Yumna dan Yunda. Kini Naazwa melakukan hal yang sama pada Suaminya. Sehingga membuat Rio mau tak mau tak mau akhirnya ia mengikuti perkataan istrinya. Dan akhirnya ia pun kembali keluar, seperti pemintaan istrinya itu. Sesampainya di luar ia pun membuka sepatunya, lalu setelah itu ia pun kembali masuk.
"Assalamu'alaikum Istriku Sayang, Bibei pulang nih," katanya. Seraya ia menghampiri Naazwa, yang terlihat sedang tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu. Humm.. gitu dong itu baru namanya anak yang pintar," balas Naazwa yang kemudian ia langsung meraih tangan suaminya lalu langsung mengecupnya.
"Ay..? Bibei disamakan sama anak-anak?" protes Rio, karena ia merasa diperlakukan seperti anak kecil oleh Naazwa.
"Hihihi.. habis Bibei sih udah tua, tapi kelakuannya kayak Yumna dan Yunda sih?" balas Naazwa, mendengar kata tua, dahi Rio langsung berkerut.
"Humm... Emangnya Suami kamu ini terlihat tua banget ya dimata kamu, hm?" tanya Rio, sambil ia menaruh jari telunjuk dan jari jempolnya di bawah dagunya. Naazwa langsung mencibirkan bibirnya ketika ia melihat tingkah suaminya yang narsis itu.
"Idih... sok narsis banget sih Bei Udah akh Zwa mau nyiapin makanan buat anak-anak, sebentar lagi pasti mereka pada turun," kata Naazwa, seraya ia melanjutkan langkahnya menuju ke ruang makan.
"Loh, kok Bibei diabaikan sih? Sayang kamu kok nggak tanya Bibei sih? Kenapa Bibei pulang cepat?" ujar Rio, sembari ia berjalan mengikuti langkah Naazwa ke ruang makan juga.
"Baiklah Zwa tanya deh, emangnya kenapa Bibei pulang cepat hari ini?" tanya Naazwa yang wajahnya terlihat biasa saja. Bahkan ia tak memandang wajah Rio, karena ia terlihat sedang membantu, Bi Surti menata makanan diatas meja makannya.
"Huh! Kepaksa banget sih nanyanya! Sudahlah lupakan saja!" kata Rio, yang kemudian ia langsung beranjak pergi dari ruangan makan tersebut. Surti yang kebetulan ada di sana langsung kaget saat melihat majikannya yang langsung pergi dengan wajah yang terlihat sedang kesal. Ia pun jadi merasa tidak enak. Karena memang sudah menjadi tugasnya urusan didapur dan dimeja makan.
"Aduh.. Bang Brian merajuk ya Bi?" katanya dengan wajah merasa bersalahnya.
"Sepertinya begitu Neng, ya sudah sebaiknya Neng susul deh. Biar bibi saja yang menyiapkan makanan anak-anak," kata Bi Surti, mengulangi perkataannya.
"Ya sudah kalau begitu Bi, saya tinggal ya Bi," balas Naazwa, seraya ia mencuci tangannya.
"Iya Neng!"
Setelah mendapatkan jawaban dari Surti, Naazwa pun langsung beranjak dari sana. Dan langsung melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sesampainya di kamar mereka, ia melihat Rio yang sedang membuka bajunya karena sepertinya ia hendak mengganti pakaiannya. Melihat istrinya datang, ia hanya melihat Naazwa dengan sekilas saja, setelah itu ia kembali fokus, dengan kacing kemeja putihnya yang sedang ia buka
Melihat wajah Suaminya terlihat berbeda, Naazwa pun tersenyum tipis, seraya ia menghampirinya. Lalu ia pun membantu membukakan kacing-kancing kemejanya Rio, seraya ia berkata, "Bibei kok langsung pergi sih tadi? Bukankah Bibei tadi belum menjawab pertanyaan Zwakan?" tanyanya sambil mendongakkan wajahnya pada Rio. Namun tangannya masih berusaha membuka kancing kemejanya Rio.
"Kan nggak penting! Ngapain juga dijawab!" balasnya terdengar ketus. Seraya ia bermaksud membalikkan tubuhnya. Namun langsung ditahan oleh Naazwa.
__ADS_1
"Eeeh.. Bibei merajuk ya?" tanyanya sambil menahan tangannya Rio.
"Siapa juga yang merajuk! Itu mah perasaan kamu aja kali!" balas Rio, masih terdengar ketus.
"Humm.. kalau nggak merajuk, masa wajahnya kayak gitu sih? Ya udah deh.. kalau memang Zwa salah Zwa minta maaf ya Bei. Tapi jangan merajuk lagi ya ya ya..?" ujar Naazwa, seraya ia mengedip-ngedipkan kedua matanya, dikalimat terakhir. Membuat Rio tersenyum tipis, karena melihat tingkah istrinya yang terlihat sedikit lucu dimatanya.
"Siapa sih yang merajuk? Orang Bibei nggak merajuk pun! Sudah ah, Bibei mau ganti baju dulu!" balas Rio, seraya ia membuka bajunya. Dan setelah itu ia bermaksud mengambil baju, yang tadi ia letakkan di atas tempat tidurnya.
"Eeeett.. tunggu dulu! Buktikan dulu kalau Bibei tidak merajuk! Kasih Zwa senyuman manisnya Bibei dulu!" ujar Naazwa, kembali ia menahan tangan Suaminya.
"Hiiis.. kamu ya! Nggak percaya banget jadi orang! Kalau begitu baiklah Bibei buktikan kalau Bibei tidak merajuk!" katanya seraya ia membungkukkan tubuhnya, lalu ia mengangkat tubuh Naazwa dari depan. Membuat Naazwa terkejut, sehingga dengan spontan ia pun terpekik.
"Kyaaak!" teriaknya. Dan dengan spontan tangannya langsung melingkar ke lehernya Rio. Sedangkan kakinya langsung melingkar di pinggangnya Rio.
"Bibei! Apaan sih! Bikin kaget aja deh! Cepat turunin Zw...Uhm...!" protes Naazwa. Namun belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, bibirnya Rio, sudah mendarat kebibirnya. Naazwa bermaksud ingin melepaskan dirinya. Namun tangan Rio yang kekar sudah menahan tengkuknya. Sehingga ia tak bisa berkutik lagi, dan akhirnya mau tak mau, ia pun mengikuti permainan bibir Suaminya.
Rio, yang mendapatkan respon dari istrinya. Membuat hasratnya malah menginginkan hal yang lebih. Bahkan ia juga bisa merasakan kalau bagian bawah mulai mengeras. Dan karena merasa sudah tak tertahankan ia pun membawa Naazwa ketempat tidur mereka dengan posisi bibir yang masih bertautan. Sesampainya di tempat tidur mereka ia pun melepaskan tautannya seraya ia membaringkan tubuhnya Naazwa dengan perlahan.
"Sayang, apakah sudah boleh Bibei menyentuh kamu? Semenjak kamu melahirkan, Bibeikan sudah tiga bulan berpuasanya Sayang, Bukankah katanya kalau sudah tiga bulan sudah bolehkan?" tanya Rio, dengan nada suara yang terdengar sudah berubah.
Mendengar perkataan suaminya, Naazwa pun tidak berani, membantahnya dan akhirnya ia pun mengangguk kepalanya, seraya ia tersenyum lembut pada suaminya.
"Alhamdulillah, kalau begitu Bibei mulai ya?" kata Rio, Seraya ia ingin kembali meraih bibirnya Naazwa. Namun tiba-tiba..
"Oee..Oee..Oee Oee..!"
...┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••...
Oh iya Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏 Serta jangan lupa berikan 👉" ⭐⭐⭐⭐⭐ serta ulasan Oke 😉 Dan tak lupa juga Vote serta Hadiahnya ya 🤭 biar memicu Author update kembali oke guys 😉 Syukron 🥰.
__ADS_1