GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
DIMANA INAYAH?


__ADS_3

•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•


Orang yang pintar dan sukses adalah orang yang memikirkan masa depan dan menyiapkan bagaimana masa depannya, bahkan kita bersusah payah dan berjuangan agar mendapatkan kehidupan masa depan yang baik. Bersusah-payah belajar agar diterima di sekolah dan fakultas yang favorit agar mendapatkan kerja yang layak. Berpeluh bekerja giat meniti karir agar masa depan dan masa tua yang bahagia.


Semoga kita tidak lupa atau sengaja melupakan bahwa “masa depan yang paling depan adalah akhirat”. Tentu akhirat lebih layak untuk kita persiapkan. Jika masa depan dunia kita sangat perhatian dan sangat peduli bahkan bersusah-payah dengan kerja keras, mengapa untuk masa depan akhirat kita lupakan? Jika mempersiapkan pun hanya seadanya saja.


Jika orang sukses dan pandai adalah orang yang mempersiapkan masa depan dunianya, demikian juga orang yang pintar dan sukses, ia akan memersiapkan masa depan akhirat sebaik mungkin.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••


Karena merasa khawatir pada istrinya yang belum makan. Hans pun pun langsung bergegas menuju ke kamarnya. Namun saat ia sudah mulai menaiki anak tangga, tiba-tiba timbullah keinginan untuk memanjakannya.


"Aah.. kenapa nggak sekalian saja ya, aku bawakan makanannya ke kamarnya. Pasti dia nggak bakalan nolakkan?" gumam Hans, yang terlihat ia masih berdiri di salah satu anak tangga yang menuju ke lantai dua, "Ya sudah kalau begitu aku ambil dulu deh makannya," lanjut Hans, seraya ia kembali menuruni anak tangganya. Lalu ia langsung bergegas keruang makan kembali.


Setibanya Ia di ruang makan, Hans pun meminta Mbok Iyem menyiapkan makanan untuk istrinya. Dan sesuai titah majikannya, Iyem pun langsung menyajikan beberapa makanan di sebuah baki dan tak lupa ia menyertai minumannya juga di dalam baki tersebut. Setelah selesai ia pun langsung menyerahkan baki tersebut pada Hans.


"Ini Den, makanannya. Apa perlu si Mbok saja yang membawakannya Den?" ujar Iyem seraya ia menyerahkan baki yang berisikan makanan tersebut pada Hans.

__ADS_1


"Tidak Usah Mbok, biar saya saja, yang membawanya," bales Hans sambil menyambut baki yang berada di tangan Iyem.


"Ooh ya sudah, hati-hati ya Den?" balas Iyem, terlihat sedikit khawatir.


"Oke Mbok! Terima kasih ya Mbok, kalau begitu saya ke kamar dulu ya Mbok," kata Hans lagi.


"Iya Den, silahkan,"


Setelah mendapat jawaban dari Iyem, Hans pun kembali melangkah menuju ke anak tangga dengan perlahan-lahan. Karena ia harus menyeimbangkan bakinya, agar makanan yang berada di dalamnya tidak tumpah. Setelah ia melewati anak tangga, Hans pun langsung menuju ke kamarnya.


Sesampainya di kamar ia melihat istrinya yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Sedangkan Inayah yang terlihat sedang tiduran di atas tempat tidurnya. Tampak tersentak saat melihat Hans datang. Dan Ia pun langsung membalikkan tubuhnya, membelakangi Hans. Sepertinya ia sedang enggan melihat wajah suaminya itu. Hans yang melihat itu pun tersenyum, ia tahu kalau istrinya saat ini sedang merajuk.


"Sayang, udahan dong merajuknya. Sekarang kamu makan dulu yuk, kan kasihan Anak kita, Sayang. Pasti sekarang mereka juga ikut kelaparan seperti ibunya. Jadi ayolah Sayang kamu makan ya?" rayu Hans, seraya ia mengecup pipinya Inayah, setelah itu ia tempelkan pipinya ke pipinya Inayah. Namun tak direspon oleh Inayah, Ia hanya berpura-pura memejamkan matanya saja. Akan tetapi Hans tahu kalau istrinya itu tidaklah tidur.


"Sayang, Abang tahu loh, kalau kamu tidak tidur, jadi Ayoo dong, kamu makan dulu. Nanti kalau sudah makan, kamu boleh deh tidur lagi," lanjut Hans, lagi masih berusaha merayu istrinya. Sambil ia mengecupi leher jenjangnya Inayah, dan otomatis, membuat bahu naik seketika. Menandakan ia sedang merasa kegelian dan hal itu malah membuat Hans, tersenyum lucu.


"Humm... kalau nggak bangun juga Abang, cium lagi nih lehernya," bisik Hans, lalu ia pun kembali mengecup lehernya Inayah dan sekali lagi, bahunya kembali menjengkitkan, seperti orang yang terkena aliran listrik.


"Ay, masih belum bangun juga? Oke deh kalau begitu, jangan salahkan Abang, ya?" kata Hans, lagi, yang kemudian ia kembali mendekati wajahnya ke lehernya Inayah. Bahkan ia sengaja berlama-lama di sana, sambil menelusuri leher istrinya itu. Sehingga keluarlah suara yang dirindukan oleh Hans.

__ADS_1


"Uhmmm..." Mendengar lenguhan Inayah Hans langsung bangkit.


"Aah.. Sayang, jangan mengeluarkan suara seperti itu! Bisa-bisa Abang nggak kuat menahannya," protes Hans, yang terlihat ia hendak turun dari tempat tidurnya. Namun tangan Inayah langsung menahannya dari belakangnya. Bahkan kini tangannya sudah melingkar sempurna dilehernya Hans.


"Kalau begitu jangan ditahan lagi dong Bang," ucap Inayah, dengan suara yang terdengar begitu seksi ditelinganya Hans. Bahkan, kini gantian Inayah yang mengecupi serta memberikan gigitan kecil pada lehernya Hans dari belakang hingga kesamping. Dan kini mulut Hanslah yang kini mengeluarkan suara sedikit Aneh.


"Sssh..ukh.. Sayang! Apa yang kamu lakukan.. Ah.. jangan lakukan itu Sayang! Ukh.. nanti Abang nggak kuat..ukhm.." ucap Hans, dengan suara yang terdengar sudah mulai berat yang artinya, hasratnya mulai bangkit.


"Kalau nggak kuat, lepaskanlah! Ayo kita lakukan, Nayah, juga lagi ingin," balas Inayah, yang terlihat ia terus berusaha membangkitkan hasrat suaminya. Berharap Hans, mau melakukan bersetubuh dengannya. Namun Hans malah mendorong tubuh Inayah, lalu ia langsung turun dari tempat tidurnya.


"Tidak Nayah! Hentikan ini!" katanya dengan tatapan, yang terlihat ia sedang menahan hasratnya, "Ingatlah perut kamu sudah membesar! Dan Aku nggak mau menyakiti Anak kita! Jadi berhentilah bersikap aneh!" pungkas Hans, dengan nada suara yang terdengar tinggi. Dan setelah itu ia pun langsung bergegas pergi menuju ke kamar mandi.


Setelah mendengar suara keras dari Suaminya, Inayah sempat terkejut, kini terlihat begitu sedih. Bahkan ia tak kuasa lagi menahan air matanya. Hingga akhirnya ia pun menangis tersedu-sedu. Terlihat sekali Ia begitu kecewa pada suaminya. Karena bukan hanya tak terlampiaskan keinginannya saja. Ia bahkan mendapatkan bentakan yang tak pernah sekalipun ia dapatkan. Saking kecewanya Inayah pun langsung bangkit, dari tempat tidurnya. Lalu ia langsung mengambil hijab dan cadarnya. Setelah itu ia langsung bergegas keluar dari kamarnya.


Dua puluh menit setelah Inayah pergi, Hans pun keluar dari kamar mandinya. Dengan memakai handuk kimono berwarna putih, rambutnya juga terlihat masih basah. Ia terlihat sedikit terkejut saat melihat istrinya tak ada lagi dikamarnya.


"Loh, dimana Inayah? Kok nggak ada?"


┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••

__ADS_1


Oh iya Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏 Serta jangan lupa berikan 👉" ⭐⭐⭐⭐⭐ serta ulasan Oke 😉 Dan tak lupa juga Vote serta Hadiahnya ya 🤭 biar memicu Author update kembali oke guys 😉 Syukron


__ADS_2