
•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•
Manusia pada umum-nya banyak yang mengejar-ngejar harta, tahta, jabatan dan sebagainya. Namun pada hakikatnya seluruh yang ada di dunia ini hanyalah milik Allah Ta’ala yang Maha Pemilik. Kita sebagai hambanya hanyalah di titipkan ataupun dipinjamkan dan semua itu sudah pasti akan diminta pertanggung jawaban di akhirat kelak.
“Semua orang di dunia ini adalah tamu, sedangkan harta seluruhnya adalah titipan. Semua tamu pasti pergi, sedangkan barang titipan itu harus dikembalikan kepada Sang pemilik” (Ibnu Mas’ud).
Seringkali diri ini lupa bahwa semuanya hanyalah titipan. Bahkan nafas yang sekarang sedang kita hirup sewaktu-waktu Allah Ta’ala akan mengambilnya kembali. Maka dari itu alangkah baiknya harta dunia yang sifatnya fana ini dan akan diminta pertanggungjawabannya kita gunakan untuk segala kebaikan,
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•
"Haloo Yumna! Yumna!" teriak Rio, memanggil-manggil nama anaknya. Namun semuanya sia-sia karena sebenarnya sambungan mereka telah terputus, membuat Rio menjadi kesal, "Aah, sial! Berani sekali mereka mengusik keluarga gue!" ujar Rio, yang terlihat sekali ia begitu marah.
"Tenanglah Brian! Lo nggak sendirian ada Allah, dan ada kami berlima, in shaa Allah kita akan segera menemui anak-anak kita," ujar Ardiyan, yang terlihat ia lebih tenang.
"Benar Brian, anak buah gue juga sudah melacak posisi signal terakhir telpon mereka. Gue yakin mereka akan segera menemukan tempat persembunyian mereka," sambung Wira, juga selaku teman masa kecilnya Rio.
"Ar, lihatlah plat pada mobil itu! Bukankah itu nomor plat kendaraan yang biasa di pakai oleh keluarga Brinata ya?" tanya Dimas tatkala, ia sedang memeriksa layar monitor yang terhubung dengan cctv yang berada di depan gerbang sekolah bintang.
Mendengar perkataan Dimas dengan spontan Ardiyan dan Rio berserta kawan-kawan lainnya langsung menghampiri Dimas. Dan setelah mereka memastikan perkataan Dimas dengan spontan Ardian dan Wira saling bertatapan, begitu juga dengan Dimas. Membuat Rio, yang merasa asing dengan nama yang disebut oleh Dimas menjadi penasaran.
__ADS_1
"Mengapa kalian saling bertatapan begitu sih? Dan siapa sebenarnya keluarga Bintara itu?" tanya Rio terlihat sekali ia amat penasaran.
"Keluarga Bintara sangat terkanal dikota ini BRI. Mereka juga terkenal sebagai keluarga mafia yang sangat kejam. Makanya sebisa mungkin kita jangan sampai berurusan dengan mereka," jelas Dika, apa adanya.
"Jangan sampai berurusan dengan mereka? Tapi sepertinya mereka duluan yang mengusik kitakan? Lalu apakah kita akan diam saja, guys?" tanya Rio, yang terlihat ia tak habis pikir dengan perkataannya Dika.
"Keluarga Bintara biasa tidak akan mengusik seseorang Bri, terkecuali ada yang lebih dulu mengusiknya," balas Andi, dengan tatapan menyelidik pada Rio. Karena setahunya Ardiyan tidak mungkin berurusan dengan keluarga itu.
Mendapatkan tatapan yang berbeda dari Andi dan juga Dika, Rio pun mengerutkan dahinya, "Hah?! Apakah kalian berpikir, gue gitu yang mengusik keluarga itu?" tanyanya pada Andi dan Dika, lalu tiba-tiba saja ia tersenyum sinis, karena Dika dan Andi, tak memberikan jawaban dari pertanyaan.
"Heh..lucu! Kalian nuduh gue, mengusik keluarga yang bahkan baru hari ini gue mendengar namanya? Hem..Tapi ya sudahlah gue paham kok! Jadi jangan khawatir, gue tidak akan melibatkan kalian! Karena ini memang urusan gue!" pungkas Rio, yang kemudian ia mulai melangkahkan kakinya bermaksud ingin meninggalkan ruangan kontrol tersebut. Namun tiba-tiba saja, Ardiyan menahan pundaknya, sehingga langkahnya pun terhenti.
"Tunggu Brian! Apa Lo lupa? Kalau bukan anak Lo aja yang mereka culik hm? Ingat anak gue juga! Jadi Lo nggak bisa tidak melibatkan gue dalam hal ini! Apa Lo paham?" ujar Ardiyan sambil merangkul pundaknya Rio.
"Benar itu Brian! Asal Lo tahu aja ya? Walaupun kami terkadang dikenal geng somplak, tapi kami tidak pernah takut pada siapapun! Dan itu rmasuk keluarga Bintara! Jadi jangan pernah berpikir ingin bertempur seorang diri. Karena kami tidak akan membiarkan itu!" timpal Dimas juga, yang kali ini perkatanya amat serius. Dan disaat bersamaan tiba-tiba handphone Rio kembali berbunyi.
"Itu pasti mereka! Cepat angkat Bri!" kata Ardiyan, "Wir, lacak lagi!" katanya lagi, yang kali ini ditujukan pada Wira.
"Oke Bro!" balas Wira, dan ia pun langsung bersiap untuk melacak, ke sumber panggilan berasal. Setelah semuanya siap, Rio pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo! Katakan apa mau Lo?" tanya Rio, dengan nada suara tinggi.
__ADS_1
"Sabar Pak Rio! Jangan menggas begitu dong," ujar seorang pria yang berada di seberang.
"Jangan banyak omong Lo! Cepat katakan apa yang lo inginkan dari gue?!" tanya Rio, dengan nada yang sama.
"Heh.. baiklah kalau gitu! Gue tidak perlu berbasa-basi lagi! Dan gue mau Lo cabut tuntutan Lo pada adik gue! Lalu bawa dia ke kapal pesiar malam ini juga! Kalau Lo tidak datang, maka Lo akan menemukan mayat anak Lo di tengah-tengah laut, paham!" ujar Pria tersebut, lalu ia pun langsung memutuskan sambungannya.
"Apa maksud dia Bri? Adik? Apa baru-baru ini Lo ada masalah,?" tanya Wira, jadi penasaran.
"Adik? Apa yang dia maksud perempuan ular itu ya?" ujar Rio, yang tiba-tiba saja ia teringat peristiwa dua hari yang lalu, "Tunggu sebentar, apa kalian mengenal wanita ini?" tanya Rio, seraya ia menunjukkan sebuah video dilayar handphonenya pada kelima sekawan tersebut.
"Bella!!" ujar Andi, dan Dika secara bersamaan.
"Hah! pantesan saja si lutung kasarungnya beraksi. Rupanya ular betinanya lepas toh!" celetuk Dimas.
"Udah jangan banyak omong lagi! Ayo kita segera beraksi!" ajak Ardiyan yang kemudian ia pun mulai bergerak.
"Yeeee Horree, akhirnya Rambo mulai beraksi lagi!!" sorak Dimas kesenangan.
"Cih! Dasar Rambo somplak!!"
...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
__ADS_1
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉