
•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•
SKENARIO TERBAIK
Tiada satupun skenario Allah yang tiada indah, semuanya pasti indah walaupun kita sulit memahaminya. Sebab kerapkali Allah membungkus hadiah dan anugerah terindah di balik setiap musibah yang kita alami. Namun bila kita melewatinya dengan rasa Syukur dan ikhlas. Maka yakinlah akan ada sesuatu yang indah yang akan Allah selipkan disetiap ujian-Nya.
Maka dari itu pentingnya bagi kita untuk selalu berbaik sangka kepada Allah dan meyakini bahwa yang terjadi itulah yang terbaik. Dan saat keyakinan ini menghujam ke dalam sanubari maka jiwa kita, hati kita akan terasa tenang. Bahkan hidup pun akan merasa tentram dan bahagia. Insya Allah.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••
Setelah mendengar penjelasan dari Ustadz Fahmi, Daffin pun tercengang. Tampak ia terlihat seperti orang yang sedang menyesal. Apalagi saat ini ia memang telah dikaruniai tiga orang putra. Namun tak satupun dari mereka yang ia selipkan nama dari Rasulullah ﷺ.
"Astaghfirullah.. berati Saya termasuk orang yang bodoh dong Ustadz. Karena saya memiliki tiga anak laki-laki, tapi tak satupun dari mereka yang saya beri nama Muhammad," ujar Daffin, dengan wajah yang terlihat ada tersirat penyesalan disana.
"Ya sudah, bikin aja satu lagi Pak Daffin, gampangkan? Saya juga nanti mau bikin anak lagi deh, karena guekan emang masih satu Anak laki-lakinya," celetuk Dimas, seraya ia menaik turunkan alisnya pada Daffin.
"Ay..! Ngomong mah gampang Pak! Tapi emangnya nggak Kasian sama yang ngurusinnya. Apalagi Anak saya banyak. Jadi saya nggak akan tega, untuk menyuruh istri saya untuk hamil lagi," jawab, Daffin apa adanya.
"Emangnya berapa sih Anak Lo fin?" tanya Ardiyan ikut nimbrung.
"Anak gue Lima Ar," balas Daffin seadanya.
__ADS_1
"Yaaelah.. baru lima ekor Fin, nambah satu ekor lagi jugakan nggak papakan?" timpal Dimas, ngasal.
"Ekor..ekor..ekor! Emang Lo kata Anak Daffin binatang apa?! Kalau ngomong kok asal jeplak aja Lo, Dim!" tegur Dika, yang emang kebetulan ia sedang duduk disampingnya Dimas.
"Tau nih! Sekate-kate, ngomongin anak orang pakai ekor! Kalau Lo yang berekor itu baru pas kan? Secara Lo kan emang punya ekor didepankan.. hahahaha.." sambung Andi, seraya ia tertawa terbahak-bahak. Namun hanya dirinya sendiri yang terlihat merasa lucu sendiri. Namun ketika semua mata mengarah kepadanya Ia pun langsung terdiam seketika.
"Apaan sih Lo? Gaje banget! Ngatain gue berekor! Emangnya, punya Lo berbeda ya dari punya gue? Atau jangan-jangan punya Lo sudah berbuah, menjadi.." balas Dimas, seraya matanya melirik ke arah bagian bawahnya Andi. Melihat hal itu, dengan spontan Andi, langsung menutup bagian intimnya dengan kedua tangannya.
"Apaan sih Lo! Mesum banget, jadi orang, segala ngeliatin, ke arah junior gue lagi!" bentak Andi memotong perkataannya Dimas.
"Apaan sih Lo pada! Kok jadi ngelantur semua ngomongnya! Kitakan tadi lagi membahas nama! Kenapa jadi kemana-mana sih!" tegur Ardiyan, terlihat mulai kesal, pada kedua temannya itu.
"Tau nih! Kebiasaan banget deh kalian berdua! Selalu saja bikin masalah! Bisa nggak sih kalian tuh, serius sedikit! Ingat kalian tuh bukan lagi anak kecil yang saban hari harus ditegur malu kenapa sama tuh jenggot kalian!" sambung Wira, yang tampaknya ia juga kesal dengan Dimas dan Andi, yang memang keduanya tak pernah bisa akur.
"Sorry..gue yang salah! Karena memang gue tadi yang ngelantur duluan!" sambung Andi juga.
"Ya sudah, lupakan saja! Sekarang kita bahas yang lainnya saja! Biar nggak kemana-mana lagi!" balas Ardiyan, yang terlihat wajahnya sudah kembali normal.
"Oke! Oh iya Ar.. ngomong-ngomong gue kemaren ke temu sama Diego saat meeting di restoran Xx. Dan dia ngomong sama gue, katanya salah satu karyawan Lo ada yang hampir bunuh diri dirooftop perusahaan Lo ya?" tanya Dimas terlihat begitu penasaran.
"Iya benar! Tepatnya dua Minggu yang lalu sih," balas Ardiyan seadanya.
"Kok bisa? Emangnya apa yang sudah terjadi pada karyawannya Lo itu?" tanya Dimas lagi.
__ADS_1
"Iya biasalah! Apalagi coba kalau bukan karena cinta," balas Ardiyan. Seraya matanya melirik ke arah Hans, yang kebetulan ia juga ikut hadir di acara syukurannya Rio. Melihat hal itu membuat Dimas langsung memasang wajah curiganya pada Hans.
"Kok Lo melirik Hans, Ar? Apa hal ini ada kaitannya dengan Hans?" tanya Dika, yang ternyata ia juga ikut penasaran.
"Ya begitulah! Kan kalian tahu sendiri, walaupun Hans terlihat cuek dan dingin.Tetap aja dia menjadi idola di kantor gue. Jadi hal tersebut, pasti akan terjadilah," balas Ardiyan, sambil ia kembali melirik ke arah Hans lagi. Membuat Hans, jadi merasa nggak nyaman.
"Ooh..mungkin itu ciri khasnya, Hans untuk mentebarkan pesonanya kali," kata Dimas, yang akhirnya ia juga ikut melirik tangan kanannya Ardiyan itu
"Apaan sih Pak! Saya tidak pernah melakukan seperti yang dikatakan Pak Dimas tadi ya? Mereka saja kali tuh yang kurang kerjaan! Jadi jangan tuduh saya seperti itu Pak!" protes Hans, yang akhirnya ia buka suara.
"Kalau gue rasa sih, ini karena Hans, belum meresmikan pernikahannya. Maksudnya diakan nikah cuma kita doang yang tahu! Jadi sudah pasti mereka berpikir Hans, masih cowok singel jadi sah-sah saja dong bila para wanita diperusahaan Lo pada suka dengan Hans," ujar Wira, ikut menimpali.
"Benar juga ya? Kalau begitu bagaimana kalau Minggu depan kita bikin acara walimah'urs untuk Lo Hans. Lalu kita udang para karyawan gue ke acara Lo," ujar Ardiyan.
"Eh! Tapi Pak saya.." balas Hans, yang tampaknya ia tak menyetujui dengan rencana Ardiyan untuk Hans. Namun belum lagi ia menyelesaikan protesnya, tiba-tiba Wira menyanggahnya.
"Benar itu Hans, Lo harus mengadakan acara walimah'urs. Lagian kasihankan Inayah. Pasti dia juga berkeinginan seperti teman-temannya yang pernah bersanding di pelaminan, jadi apa salahnya kalau Lo mengikuti sarannya Ardiyan, demi bini Lo itu," ujar Wira, membuat Hans jadi terlihat serba salah. Melihat hal itu Ardiyan pun memegang tangannya Hans
"Gue paham perasaan Lo Hans. Lo masih pasti merasa malukan karena, Lo pernah mengundang mereka. Tapi di hari hahnya Lo malah tergantikan di acara tersebut, iyakan?" tanya Ardiyan, membuat Rio jadi merasa tersindir.
"Eh, kok gue jadi merasa bersalah ya? Sorry Hans, tampa sengaja gue malah membuat Lo jadi trauma dengan acara tersebut. Baiklah kalau, sebagai gantinya gue yang akan mengadakan acara walimah'urs untuk Lo Hans! Dan Lo harus mau!" ujar Rio, terdengar tegas.
...••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••...
__ADS_1
Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉