GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
INAYAH TELAH PERGI.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


🌸 Self Reminder 🌸


"*Jika ada yang menyakitimu, jangan balas menyakiti. Jika ada yang menghinamu; jangan balas dengan hinaan juga. Doakan saja, doakan kebaikan untuknya, doakan semoga dia sadar, berubah dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Mungkin sulit rasanya tapi ingatlah, doa-doa baik yang kita langitkan untuk orang lain akan kembali kepada kita. Jadi urusan sakit hatimu biarlah Allah yang mengurusnya."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷*•


Suara Hans yang begitu lantangnya mengijab Inayah, langsung disambut kata "Sah" oleh para saksi dan langsung di sambut dengan doa oleh Ustadz Fahmi yang terdengar jelas di ruang keluarga, tempat Inayah kini berada bersama para sahabatnya termasuk Anisah.


"Barakallahu lakum wa baraka alaikum.” (Semoga Allah memberikan keberkahan bagi kalian dan melimpahkan keberkahan atas kalian.)“ ucap Anisah, seraya ia memeluk Inayah yang saat itu, Inayah seperti orang bodoh, karena ia begitu terkejut dengan apa yang telah terjadi.


"Selamat sayang, akhirnya kini Anti telah berstatuskan Aliyah Hans, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah ya Sayang," lanjut Anisah, yang terlihat sekali ia begitu bahagia.


Namun tidak bagi Inayah, yang terlihat jelas ia begitu sedih. Hatinya begitu sakit, karena ia merasa telah diperlakukan seperti orang yang tidak dihargai. Sehingga mereka memutuskan untuk menikahinya, tanpa meminta persetujuannya darinya. Apalagi, tadi ia sempat berseteru dengan Hans, yang sempat mengatakan ia tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi Inayah bisa langsung menebak kalau Hans pasti dipaksa oleh Ardiyan.


"Nayah? Kenapa kamu seperti tidak bahagia sih? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Lisa, yang ternyata ia memperhatikan Inayah, karena ia tak membalas ucapan selamat dari Anisah.


"Ti-tidak kok Ustadzah! Ana hanya nervous saja. Hmm.. bolehkah Ana ke kamar mandi dulu?" balas Inayah, terlihat gugup. Tapi malah membuat para sahabatnya tertawa.


"Hehehe, kamu lucu Inayah, ya sudah pergilah," kata Anisah, yang sepertinya ia berpikir sikap Inayah yang berubah, itu karena nervous. Makanya Anisah akhirnya memakluminya.


Setelah mendapatkan jawaban dari Anisah, Inayah pun langsung beranjak dari ruang keluarga, dan langsung menuju ke dapur, dan langsung masuk ke kamar mandi, sempainya didalam ia mengambil buku hariannya yang selalu ia bawa kemanapun. Setelah buku dan pulpen sudah berada ditangannya, Inayah pun langsung menuliskan sesuatu disana. Setelah itu ia memisahkan satu lembar kertas dari buku tersebut, dan melipatnya. Kemudian ia letakkan ditenpat yang mudah dilihat. Lalu ia pun bergegas keluar dari kamar mandi tersebut.


"Ana tidak ingin pernikahan yang seperti ini! Maaf Ustadzah, Ana tak menginginkan pernikahan dengan cara pemaksaan seperti ini. Untuk itu Ana lebih baik pergi!' batin Inayah yang terlihat begitu sedih.


Sesampainya didepan pintu Inayah memperhatikan disekitarnya, dan ia melihat para pembantunya Anisah terlihat begitu repot. Sehingga mereka tak menyadari kehadiran Inayah, "Ini kesempatan Ana, sebaiknya Ana secepat pergi dari sini," Batin Inayah lagi. Lalu ia pun bergegas melangkah keluar dari pintu belakang, dan langsung berlari menuju gerbang belakang mansionnya Ardiyan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ternyata tidak ada penjaga. Hmm.. pasti mereka sedang ikut menyaksikan pernikahan, karena bagaimanapun bang Hanskan teman mereka," gumam Inayah, seraya ia keluar dan berjalan sedikit menjauh dari pintu gerbang. Sampai ia menemukan taksi dan langsung menaikinya.


"Mau kemana Mbak?" tanya supir taksi, saat Inayah sudah didalam mobil taksi.


"Jalan saja dulu Pak, nanti akan saya katakan," kata Inayah yang nampaknya ia masih bingung hendak kemana, "Ana tidak mungkin balik kepondok, karena sudah pasti mereka akan segera menemuikan Ana. Hmm lalu Ana harus kemana yaa?" batinnya yang nampak ia sedang berpikir keras untuk mencari tempat persembunyian untuk dirinya.


"Oh iya, bukankah di daerah ST kampungnya almarhum Umi, masih ada lahan peninggalan nenek? Ah.. Alhamdulilah Ana masih mengingatnya, kalau begitu ana kesana saja, karena pasti Ustadzah Nisah tidak akan mengingatnya," batin Inayah, merasa lega.


"Pak? Antarkan saya ke stasiun kereta api saja ya?" kata Inayah pada sang supir taksi.


"Baiklah Mbak!" balas sang supir yang kemudian ia pun mengarahkan mobil taksinya menuju ke stasiun kereta api.


...******...


Sementara di Mansion Ardiyan.


Anisah nampak sedang berbincang dengan Lisa dan Nina. Hingga pembicaraan mereka terhenti karena, Ardiyan memintanya memanggilkan Inayah. Dan seketika itu juga ia baru menyadari kalau Inayah, sudah cukup lama dikamar mandi.


"Eh, bentar By, Inayah sedang ke kamar mandi," balas Anisah apa adanya.


"Ty Nisah? Bukankah Nayah sudah sejak tadi disana? Mengapa ia belum keluar juga?" timpal Lisa, menyadari Anisah.


"Oh iya ya..! Kalau begitu sebentar By Nisah panggil Inayah dulu," kata Anisah seraya ia bangkit dari duduknya.


"Pergilah Sayang!" Setelah mendapatkan balasan dari suaminya. Anisah pun bergegas ke dapur karena seingatnya Inayah menuju kesana.


Sesampainya ia berada didapur, Anisah langsung mengarah ke pintu kamar mandi, dan juga mengetuknya, "Nayah? Apakah kamu baik-baik saja? Mengapa lama sekali Anti didalam?" panggilnya, yang terlihat ia masih mengetuk pintu kamar mandi. Di saat bersamaan, seorang wanita paruh baya menghampiri Anisah.


"Neng, tidak ada siapapun didalam, karena tadi Bibi baru saja keluar dari sana Neng," ucap wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Bi Asih? Benarkah Bi? Tidak ada siapa pun didalam?" tanya Anisah terlihat, penasaran.


"Iya Neng, cuma tadi Bibi menemukan ini Neng didalam," kata wanita paruh baya, yang dipanggil Bi Asih oleh Anisah. Seraya ia menyerahkan lipatan lembaran kertas berwarna putih kepada Anisah.


"Apa ini Bi?" tanya Anisah sembari ia mengambil lipatan kertas tersebut.


"Sepertinya surat Neng,"


"Bentar Nisah lihat dulu ya Bi," kata Anisah, dan ia pun langsung membuka lipatan kertas tersebut. Dan benar saja kalau lipat kertas itu adalah sebuah surat, karena ada tulisan tangan didalamnya. Dan Anisah pun langsung membacanya.


____________________________


*Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu Ustadzah Nisah.


Maaf Ustadzah Nisah, disaat Ustadzah membaca Surat ini. Itu menandakan Inayah telah pergi. Oh iya Sebelumnya mengucapkan terima kasih pada Ustadzah, yang begitu menyayangi Ana. Sehingga, Ustadzah telah menyiapkan pernikahan untuk Ana. Tapi maaf Ustadzah Ana tidak menyukai pernikahan secara paksa ini. Apalagi Ana Ustadzah memutuskan secara sepihak tanpa meminta persetujuan dari Ana! Itu membuat Ana kecewa Ustadzah.


Untuk itu Ana memutuskan untuk pergi. Dan Ana berharap, Ustadzah tidak mencari Ana! Atau Ana akan memutuskan tali silaturahmi kita, jadi please biarkan Ana menengkan diri. Semoga ustadzah memakluminya.


...Wasallam....


...Inayah*...


___________________________________


"Astaghfirullah! Inayah!" sentak Anisah, yang terlihat kaget setelah membaca isi surat tersebut. Lalu ia pun langsung bergegas menemui suaminya, yang kebetulan suaminya telah kembali kumpul di ruang tamu tempat Acara ijab berlangsung.


"Hubby? Inayah telah pergi! Dia hanya meninggalkan ini By," kata Anisah sambil menunjuk secarik kertas kepada Ardiyan. Secara mendadak membuat Ardiyan, Hans serta yang lainnya terkejut mendengarnya.


"Apa!!"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2