GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
TRAUMA.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Hidup ini hanya tentang berkah Allah, sebab tanpa berkah darinya hidup yang kita miliki takkan berarti apa-apa. Bila kita merasakan manisnya kehidupan itu, tak lain hanya karena Allah telah menganugrahi kita nikmat yang luar biasa


Jangan khawatir tidak dapat berkah dari Allah, bilamana kita telah bersungguh-sungguh berjalan di koridor yang ditetapkan-Nya, maka biarpun lelah tetaplah percaya bahwa Allah mempunyai hadiah yang indah setelahnya.


Kita harus tahu, bahwa apapun yang membuat “Lelah” bila hati sudah “Lillah”, maka semuanya akan serba “Alhamdulillah”


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


"Eh, mengapa mereka menempati posisiku?" gumam Rio sembari ia mendekati tempat tidur yang diatasnya terdapat Naazwa dan quadruplets, "Eh, dalam keadaan tidur mereka bisa tersenyum?" gumamnya lagi.


Rio, tertegun melihat senyum anak-anaknya, yang sedang tertidur dengan saling berpelukan. Mereka nampak bahagia, tidur bersama dengan Mama baru mereka. Ia pun menepis rasa cemburunya terhadap Anak-anaknya. Karena memang tujuan utama ia menikah, hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia. Dan akhirnya ia ikut tersenyum bahagia, karena melihat mereka, tersenyum bahagia.


Sesekali ia juga melihat wajah cantik Naazwa, yang terlihat begitu tenang, saat tertidur, "Bahkan saat dia tidur pun begitu cantik! Ah, apa yang sedang aku pikirkan? Hah, sudahlah biar saja! Sebaiknya aku istirahat diruang kerja saja," batin Rio, lalu ia pun keluar dari kamarnya. Dan baru saja ia keluar dari kamarnya, ia sudah dikagetkan oleh sang ayah yang ternyata sudah berada didepan kamarnya.

__ADS_1


"Brian? Anak-anak kok nggak ada dikamarnya? Kemana mereka?" tanya Harun, yang nampaknya ia baru saja datang dari kamar para Cucunya.


" Eh, Papa! Mereka didalam Pah, sedang tidur bersama Mama baru mereka," balas Rio apa adanya, sembari ia berjalan kesebuah sofa yang berada di lantai dua tersebut.


"Ooh, masya Allah, pasti mereka bahagia sekali ya Nak?" tanya Harun, yang terlihat jelas ia juga ikut merasakan kebahagiaan dari para cucu-cucunya.


"Iya Pah, Alhamdulillah mereka memang terlihat bahagia, bahkan dalam tidurnya mereka tersenyum bahagia Pah," balas Rio, yang terlihat ikut tersenyum saat teringat pada anak-anaknya.


"Ah, syukurlah, Papa ikut senang mendengarnya. Oh iya, apakah kamu tidak berniat untuk berbulan madu, bersama istri kamu Nak?" tanya Harun.


"Bulan madu? Ah, untuk apa Pah? Brian sudah berumur, tidak pantas melakukan hal itu," jawab Rio, ngasal.


"Adik? Tidak! Itu tidak akan pernah ada! Karena aku tidak ingin memiliki anak lagi Pah!" balas Rio, dengan tegas. Membuat Harun kaget mendengar perkataannya.


"Kenapa Nak? Bukankah itu hal yang wajar? Dan pastinya anak-anak kamu akan senang Nak, apalagi Papa," ujar Harun, terlihat begitu berharap.


"Karena aku tak ingin melihat anak-anakku kehilangan ibunya lagi Pah!" pungkas Rio, dengan yang terlihat sedih, lalu ia pun langsung pergi menurunkan anak tangga, meninggalkan Harun, yang masih terlihat kaget mendengar alasan sang anak.

__ADS_1


"Ya Allah, apakah Brian trauma? Apakah kepergian Cindy, membuatnya trauma? Ini tidak boleh terjadi! Karena itu akan menyakiti Naazwa. Bagaimanapun, ia menyayang quadruplets, pasti sesuatu saat nanti ia juga ingin menyayangi anak kandungnya sendiri. Karena bagi seorang wanita, kesempurnaannya ketika ia melahirkan buah hatinya sendiri," gumam Harun yang terlihat jelas ia begitu mencemaskan anaknya.


"Pokoknya aku harus mencari cara, agar Brian tidak trauma lagi," gumamnya lagi, lalu ia pun beranjak dari duduknya, dan langsung melangkah menuruni anak tangga juga.


...*****...


Sementara disisi lain.


Rio yang tadi pergi dalam keadaan sedih, kini terlihat ia sedang berada didalam mobilnya. Ia juga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Gue menikahi dia demi quadruplets, agar memiliki ibu! Jadi gue tidak akan membiarkan dia Hamil! Dan gue tidak akan pernah menyentuhnya!" gumam Rio. Ada kemarahan serta rasa takut didalam dirinya. Dan sesaat ia pun teringat pada almarhum istrinya. Hingga tanpa sadar air matanya merembes keluar.


"Maaf Acha! Kak Bian sudah melakukan kesalahan. Kak Bian telah menikah tanpa meminta izin darimu. Apakah kamu akan membenci kak Bian Acha?" batin Rio terlihat sekali ia merasa begitu bersalah


Rio terus melajukan mobilnya, tak tentu arah, hingga akhirnya mobilnya memasuki area bandara, "Mengapa aku kesini?" batinnya terlihat bingung, "Hmm..apa sebaiknya aku ke kota JK ya untuk menenangkan diri. Ya sebaiknya aku kesana, sekalian ziarah ke makam Acha," gumamnya, lalu ia pun memarkirkan mobilnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Rio pun memasuki bandara dan memesan tiket pesawat menuju ke kota JK. Rio pun berangkat ke kota JK tanpa memberitahu siapapun.

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2