GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
INGIN MENJADI SEORANG IBU


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Ketahuilah diam jauh lebih elegan daripada sibuk mengumbar kesalahan orang lain dan kemudian lupa bercermin"


Setiap orang belum tentu baik, tetapi selalu ada kebaikan pada setiap orang.


Jangan terlalu cepat menilai seseorang,


karena setiap orang suci pasti punya masa lalu,


dan setiap pendosa masih punya masa depan.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


"Kyaak!! turunkan Zwa Bei! Nanti bayinya kejepit!!' teriak Naazwa dengan lantang. Ketika tubuhnya telah berada di pundak Rio. Membuat Rio terkejut dan langsung menurunkan Naazwa.


"Apa!! Apa yang kamu katakan tadi? Bayi?" tanya Rio, dengan tatapan mata yang begitu tajam pada Naazwa. Serta kedua tangannya langsung mencengkram kedua pundaknya Naazwa. Membuat Naazwa seketika meringis, karena cengkraman Rio, memang sedikit kuat.


"Awu.. sssth.. sakit Bei!" keluhnya, sambil tangannya berusaha melepaskan cengkraman tangan Rio.


"Aah! Maaf!" sentak Rio, dan ia pun langsung melepaskan tangannya dari pundak istrinya, "Sekarang katakan! Apa maksud kamu tadi? Bayi apa? Hah! Jangan bilang, kalau kamu sedang...?" lanjutnya lagi. Namun perkataannya langsung terhenti. Dan seketika ia langsung menatap perutnya Naazwa.


"A-apa ka-kamu sedang hamil?" tanya Rio lirih, dan terdengar juga, suaranya sedikit bergetar. Melihat perubahan pada suaminya Naazwa, terlihat ragu dan sedikit takut, karena ia tahu kalau suaminya tak menginginkan anak darinya. Sehingga ia memilih diam dan hanya menunduk wajahnya saja.

__ADS_1


"Katakan Naazwa! Apakah kamu sedang hamil hah?!" bentak Rio secara tiba-tiba, membuat Naazwa terkejut dibuatnya. Sehingga tanpa sadar ia terpekik.


"Kyaak! Nggak tahu!" teriaknya, terlihat begitu takut melihat Suaminya, "Zwa nggak tahu! Karena belum diperiksa Bei! Hanya saja Zwa belum mendapatkan halangan!" lanjutnya seraya ia melangkah mundur. Karena ia takut Rio berbuat sesuatu yang nekad terhadapnya.


"Aakh! Kenapa aku lengah!" sesal Rio, seraya Nia mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia kembali menatap wajah istrinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Membuat Naazwa semakin takut melihatnya. Namun tiba-tiba saja Rio pergi begitu saja meninggalkan Naazwa yang saat ini masih berada di depan kamar anak-anaknya.


Sedangkan Naazwa, hanya melihat kepergian Rio, yang ternyata ia memasuki kamarnya, "Apa yang akan terjadi? Apakah Bang Rio, akan memintaku menggugurkan kandunganku? Oh ya Allah, aku takut! Ya Allah lindungilah anakku!" batin Naazwa, yang terlihat ia begitu khawatir melihat perubahan sikap Rio setelah menebak kalau dirinya hamil.


"Pokoknya aku harus waspada, jangan sampai Bang Rio mengajakku ke rumah sakit! Karena sudah pasti ia akan menyuruh Ana untuk menggugurkan kandungan Ana," batinnya lagi. Dengan tatapan masih mengarah ke kamar. Dan tak berapa lama ia, melihat Rio kembali keluar dari kamar tersebut dengan membawa sebuah tas milik Naazwa, serta kain hitam kecil ditangannya. Lalu ia kembali menghampirinya.


"Hah! Bang Rio kembali lagi? Aah jangan-jangan dia mau ngajak Ana kerumah sakit lagi?" batin Naazwa terlihat takut melihat wajah Rio yang terlihat menatap dingin padanya.


"Pakailah!" kata Rio, seraya menyerahkan kain hitam tersebut pada Naazwa, yang ternyata itu adalah cadarmya Naazwa.


Melihat istrinya yang berusaha keras melepaskan tangannya, Rio pun akhir melepaskan tangan Naazwa. Namun setelah itu ia malah menggendong tubuh Naazwa, membuat Naazwa kembali lagi terpekik.


"Kyaak! Turunkan Zwa Bei! Zwa nggak mau kemana-mana!" berontak Naazwa. Namun Rio, tak meresponnya ia terus saja menggedong istrinya dengan langkah cepatnya. Bahkan ia hanya diam saja saat Naazwa memukuli dadanya. Sampai mereka berada diluar Rio masih terdiam membisu. Hingga akhirnya mereka sudah mendekati mobilnya.


"Gilang buka pintu mobil!" teriaknya pada Gilang yang kebetulan, sedang mengobrol pada salah satu penjaga gerbang. Mendengar teriakannya Rio, Gilang pun langsung berlari menghampirinya dan langsung membuka pintu mobilnya. Lalu Rio pun langsung masuk, dengan posisi memangku Naazwa.


"Cepat antar kami kerumah sakit!" titah Rio dengan tegas.


"Baik Pak!" balas Gilang, dan ia pun segera masuk ke mobil dan langsung melajukan mobilnya.


Sedangkan Naazwa, yang mendengar kata rumah sakit, membuat ia semakin takut. Karena dugaannya benar, kalau Rio akan membawanya ke rumah sakit. Itu berarti, Rio berencana menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Dan Naazwa pun bertekad untuk mempertahankan kandungannya. Walaupun ia harus mengorbankan pernikahannya.

__ADS_1


"Zwa nggak mau ke rumah sakit Bei! Zwa nggak mau menggugurkan kandungan Ana! Jadi turunkan Zwa disini!" ujar Naazwa, sembari ia berusaha melepaskan diri dari pangkuannya Rio. Dan lagi-lagi Rio hanya diam, dan hanya mempererat lingkaran tangannya yang berada di tubuhnya Naazwa.


"Bang Brian! Lepaskan! Turunkan Ana disini! Ana tidak mau kerumah sakit! Ana tidak akan menggugurkan bayi ini! Lebih baik bercerai! Dari pada Ana menggugurkan kandungan Ana, Bang!" hardik Naazwa dengan tatapan kemarahan pada Rio.


Mendengar kata Bercerai, mata Rio langsung menatap tajam pada Naazwa, "Apa kamu bilang? Bercerai? Berani sekali kamu berkata seperti itu hm? Apakah sekotor itu pikiran kamu terhadapku hm? Apakah aku tadi ada mengatakan menyuruh kamu untuk menggugurkan kandungan kamu hm?" tanyanya yang terlihat begitu geram melihat Naazwa. Ia sangat kesal tatkala Naazwa menyebut kata Bercerai.


Naazwa terdiam mendengar perkataan Rio. Karena ia mengakui kalau Rio, memang tidak pernah mengatakan untuk menyuruh ia menggugurkan kandungannya. Dan perkataannya tadi, karena rasa curiganya ia terhadap Rio yang hendak membawanya ke rumah sakit.


"Kenapa diam hm? Ayo jawab, apakah tadi aku menyuruh kamu menggugurkan kandunganmu hm?" tanya Rio, yang kini nada bicaranya sudah terdengar lebih rendah. Naazwa membalasnya dengan menggelengkan kepalanya. Namun ia masih penasaran, mengapa Rio ingin membawanya ke rumah sakit.


"Hmm.. Maaf! Hmm..lalu mau apa Bang Brian membawa Ana kerumah sakit?" tanya Naazwa, terlihat penasaran.


"Bukankah kamu tadi bilang belum memeriksanya? Makanya kita kerumah sakit untuk memperiksanya, apa benar kamu hamil atau tidak," jelas Rio dengan datar.


"Hmm.. kalau ternyata Ana benaran hamil, apa yang akan Bang Brian lakukan?" tanya Naazwa, yang terlihat ia ingin melihat reaksi suaminya. Rio terdiam tak menjawab pertanyaan Naazwa. Ia hanya menatap lekat pada mata hijau milik Naazwa, yang terlihat begitu penasaran menunggu jawabannya.


"Apakah kamu sangat menginginkannya?" tanya Rio kembali, dengan tatapan yang kini terlihat sendu saat menatap mata Naazwa nan hijau.


"Iya Zwa sangat menginginkannya, karena anak ini adalah buah dari cinta kita Bei, ini hadiah dari Allah. Anugerah yang begitu indah yang diberikan Allah pada Zwa. Dan anak ini penyempurna Zwa sebagai wanita. Jadi Zwa sangat menginginkannya Bei," balas Naazwa, dengan mata yang berbinar, terlihat sekali ia sangat ingin menjadi seorang Ibu.


"Baiklah kalau itu keinginan kamu, tapi berjanjilah jangan pernah meninggalkan Aku," kata Rio sembari ia memeluk tubuh Naazwa begitu erat. Membuat Naazwa paham akan perkatanya.


"In shaa Allah Bei," ucapnya lirih,"Ya Allah, aku mencintainya karena-Mu, maka izinkanlah kami untuk membesarkan anak-anak kami secara bersama-sama, jadi hamba mohon, berikanlah hamba hidup lebih lama besamanya," batin Naazwa didalam pelukan suaminya.


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2