GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
PRIA AROGAN BERBUNTUT.


__ADS_3

*═══❉্͜͡💚Mutiara Hikmah.💚❉্͜͡═══*


"Allah tidak akan menghadirkan seseorang tanpa sebab. Apakah ia hadir untuk merubah hidup kita? Ataukah kita yang merubah hidupnya?.


Apakah ia hadir untuk bagian terpenting?


Atau hanya sekedar saja? Wallahu 'alam! Karena hanya Allah yang tahu. Dan kita hanya mengikuti kehendak-Nya.


So, jalani semua dengan ketulusan, meski tidak menjadi yang diinginkan. Percayalah tidak ada yang sia-sia karena Allah yang telah mempertemukan. Pasti ada hikmah di setiap kejadian. Tetaplah bersabar karena rencana Allah sangatlah indah.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•═══════•


Diwaktu yang sama.


Rio, yang mengajak Naazwa keluar karena ingin berbicara dengannya secara empat mata. Kini mereka sudah berada di sebuah taman rumah sakit yang terlihat agak sepi. Saat ada sebuah kursi batu, yang berada di sana Rio pun langsung duduk, dan membiarkan Naazwa tetap berdiri, dengan jarak satu meter.


"Sekarang katakan! Apa motif kamu yang sebenarnya hm?" tanya Rio, terdengar datar.

__ADS_1


Naazwa sedikit tersentak saat mendengar perkataan Rio, "Eh! Motif? Apa maksudnya Akhy?" tanyanya terlihat ia tidak paham dengan apa yang dimaksud Rio.


"Heh! Pura-pura tidak tahu?" gumam Rio, tersenyum sinis pada Naazwa. Namun gumamannya ternyata didengar oleh Naazwa.


"Maaf Akhy, Ana memang betul-betul tidak tahu, apa yang Akhy bicarakan?" ujar Naazwa, yang kini suaranya terdengar ketus.


"Benarkah kamu tidak tahu? Baiklah ganti pertanyaan! Ada niat terselubung apa kamu mendekati anak-anak gue hah?" tanya Rio, yang kini ia menatap wajah Naazwa dengan tatapan yang begitu dingin padanya.


"Niat terselubung? Emangnya apa yang Ana niatkan pada anak-anak Antum?" tanya Naazwa, yang nampaknya ia benar-benar tak mengerti apa dengan ucapannya Rio.


"Heh! Mana gue tahu! Mungkin kamu berniat ingin menjadi ibu mereka kali! Makanya kamu sengaja mendekati mereka!" balas Rio, memandang rendah pada Naazwa.


"Astaghfirullah! Sempit banget ya pemikiran antum! Asal antum tahu! Sedikitpun Ana tidak pernah berpikiran kesana! Lagian pertemuan Kami jugakan tidak disengaja! Jadi please jangan mengintimidasikan saya dengan pemikiran Anda yang sempit itu!" hardik Naazwa, yang nampak ia semakin kesal pada Rio.


"Benarkah? Tetapi bukankah berjanji akan menjadi Mamanya Yumna? Apakah itu salah satu trik kamu yang ingin menjadi Nyonya dirumah gue hah?" lanjutnya, seraya ia mendekati wajahnya ke wajah Naazwa. Membuat Naazwa benar-benar kaget, hingga dengan spontan ia mundur. Namun kakinya malah memijak pada sebuah batu lumayan besar, hingga ia kehilangan keseimbangannya, dan..


"Aaakh!" pekik Naazwa, yang terlihat ia hendak terjungkal kebelakang. Namun dengan sigap Rio meraih tangan dan langsung menariknya. Hingga akhirnya Naazwa masuk kedalam pelukannya Rio. Dan untuk sesaat mereka saling bertatapan. Rio terlihat terpesona melihat bola mata Naazwa yang selama ini tak pernah ia perhatikan.


"Mengapa gadis ini memiliki mata berwarna hijau? Tapi matanya sangat indah," batin Rio. Namun seketika ia pun kembali tersadar, "Apakah pelukanku terasa nyaman hm?" tanyanya sambil menaik turunkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" sentak Naazwa, sambil mendorong tubuh Rio, "Astaghfirullah, bisa-bisa Ana terlena melihat wajah si arogan itu! Ya Allah ampunilah hamba," batin Naazwa sembari membuang pandangannya.


"Kenapa hm? Malu? Benarkan kamu merasa nyaman dalam pelukanku? Kalau begitu ayo menikah denganku! Bukankah ini tujuanmu hm?" ujar Rio yang begitu percaya dirinya. Membuat mata hijaunya Naazwa membulat, ia juga terlihat amat kesal pada Rio. Rasanya ia ingin membungkam mulutnya yang amat menjijikkan baginya.


"Astaghfirullah! Percaya diri sekali ya Anda! Tapi saya ucapkan terima kasih atas tawarannya! Tapi Maaf, saya menolaknya! Karena saya tidak suka pada pria Arogan berbuntut seperti Anda! Dan saya juga sudah memiliki calon suami yang sangat menyayangi saya! Jadi jangan pernah berpikir saya mendekati anak Anda karena itu! Dan saya juga tidak pernah minta dia memanggil saya Mama! Kalau Anda tidak suka! Bukan saya yang seharusnya Anda salahkan! Tetapi Anda yang tak bisa memberikan kebahagiaan untuk Anak-anak Anda! Permisi!" pungkas Naazwa.


Nazwa pun langsung pergi meninggalkan Rio yang terlihat masih tertegun, melihat kepergiannya. Entah mengapa hatinya menjadi kesal saat mendengar ucapan Naazwa, yang berkata ia sudah memiliki calon suami.


"Calon suami? Huh! Sombong sekali dia! Ah kenapa aku jadi kesal sih! Sudahlah sebaiknya aku masuk, pasti Yumna sedang menungguku," gumam Rio, lalu ia pun beranjak meninggalkan taman rumah sakit tersebut, sembari ia bergumam di sepanjang jalannya menuju ke kamar rawat anaknya.


"Tunggu dulu! Tadi dia nyebut gue apa?" gumam Rio, yang tiba-tiba menghentikan langkahnya saat ia teringat akan sebutan yang diberikan oleh Naazwa, "Pria Arogan berbuntut? Apa maksudnya? Emangnya gue berbuntut apa?" gumamnya lagi, sembari ia memegang bokongnya.


"Huh! Dasar, wanita aneh! Ngatain orang seenaknya saja! Emangnya gue monyet apa berbuntut!" gerutu Rio terlihat kesal, sambil ia melanjutkan langkahnya. Dan saat ia mendekati pintu kamar sang Anak, tiba-tiba ia mendengar suara tangisan putri kecilnya.


"Yumna!" sentaknya, lalu dengan cepat ia pun membuka pintu kamar rawatnya Yumna. Dan terlihatlah Yumna yang sedang menangis histeris.


"Mamaa.. huhuhu...Mama..hiks.. jangan pergi! Huhuhu..Hiks...huhuhu.."


"Yumna, kamu kenapa Nak?" tanya Rio, yang langsung memeluk anaknya.

__ADS_1


"Mama Dad.. huhuhu..Mama pergi, Daddy! Hiiks Mama nggak ngomong apa-apa sama Umna.. huhuhu..Mama...Umna mau sama Mama Daddy..!" Rio tampak kebingungan melihat anaknya yang menangis. Dan ia hanya bisa memeluknya tanpa berkata apapun.


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2