GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
KEBAHAGIAAN YANG SEMPURNA (Versi Hans End).


__ADS_3

•⊷⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷⊷•


Hanya orang yang berhati besar yang mampu menangani masalah disetiap ujian-Nya.


Gelas yang berisi air putih yang terisi tinta hitam akan berubah menjadi hitam. Sedang kau lihat telaga itu? Butuh berapa tinta untuk membuatnya berubah. Itulah hati yang besar.


Masalah yang datang kadarnya sama dan tidak mungkin diluar kapasitas setiap diri hanya saja, respon terhadap masalah itu tergantung pada seberapa besar hati ini dalam menyikapinya.


Kekuatan hati tergantung pada iman dan ilmu. Semakin besar iman dan semakin luas ilmu yang kita miliki akan menjadikan hati ini lebih baik dalam menghadapi kehidupan dengan segala ujian didalamnya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


••┈┈•┈┈••┈••✾•◆❀💚❀◆•✾••┈••┈┈•┈┈••


Suasana kebahagiaan selalu menyelimuti keluarga Hans, semenjak kehadiran Baby twins. Terutama Hans, ia seakan tak ingin berjauhan dari keluarga kecilnya itu. Bahkan ia jadi sangat jarang banget pergi keluar kota. Saking tak inginnya ia berjauhan dari mereka. Hal itu membuat Ardiyan jadi sedikit kesulitan, karena memang Hans adalah tangan kanannya, yang paling ia percaya.


"Hans, kamu tidak jadi ke kota JK? Bukankah proyek itu, tanggung jawab kamukan?" tanya Ardiyan, saat ia berada di dalam kantornya.


"Maaf Pak! Kemarin itu Saya mau pergi, tapi Priono menawarkan dirinya. Karena katanya orang tuanya menyuruh dia pulang. Dan cuti tahunannya kemarin itu sudah diambilkan? Makanya itu, Dia mengambil tanggung jawab proyek itu agar Dia tetap bekerja disana Pak! Kemarin saya ingin memberitahukan sama Anda, hanya saja Anda kemarinkan pulang cepat," jelas Hans Memberi alasan mengapa ia tak jadi berangkat ke luar kota.


Mendengar perkataan Hans, wajah Ardiyan, langsung berubah. Kelihatan banget ia seperti tak suka dengan keputusan Hans, "Apa kau yakin dia dapat dipercaya hah?!" tanyanya, terdengar ketus.


"Yakin Pak! Apakah Anda ingat, waktu beliau menangani proyek yang berada yang di kota BT? Bukankah Pak Diyan mujinya juga pada saat itu. Karena kinerja sangat baguskan? Bahkan proyek tersebut sangat sukses loh Pak," jelas Hans lagi, yang mengingatkan Ardiyan.


"Ooh iya iya? Ya sudah kalau begitu, tapi tetap itu menjadi tanggung jawab Lo! Paham!" kata Ardiyan, yang wajahnya sudah terlihat sedikit normal lagi


"Paham pak!" balas Hans, terlihat bernafas lega.

__ADS_1


"Huh! Semenjak jadi seorang Ayah, tampaknya Lo selalu menghindari dari tugas keluar kota ya?" tanya Ardiyan, memasang wajah datar.


"Maaf Pak! Saya tidak menghindar, hanya saja saya tidak tega membiarkan Nayah mengurus si Twins seorang diri. Apalagi akhir-akhir Twins sedikit rewel saat malam Pak. Makanya, saya tidak bisa tenang bila, meninggalkannya Pak," balas Hans memberikan alasan lagi.


"Baiklah, saya paham! Karena saya juga pernah merasakan mengurus bayi kembar. Ya sudah kalau begitu, mari kita pulang! Sudah waktunya jam Pulang!" kata Ardiyan, seraya ia bangkit dari kursi kebesarannya.


"Baik Pak!" balas Hans, yang terlihat ia kembali bernafas lega. Karena pada akhirnya, Ardiyan mau memahami alasan, mengapa ia selalu berat keluar kota. Hans pun mengikuti langkah Ardiyan dari belakang. Keduanya terlihat menuju ke arah ke perparkiran khusus para petinggi perusahaan.


"Hans, kamu pulanglah, biar Aku nyetir sendiri saja. Kebetulan hari ini aku mau menyusul Anisah ke pondok!" kata Ardiyan, membuat Hans begitu senang mendengarnya.


"Aah.. baiklah kalau begitu Pak! Kalau begitu saya permisi Pak!" balas Hans, seraya ia membungkukkan tubuhnya sedikit pada Ardiyan. Setelah itu ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan Ardiyan, yang terlihat ia langsung menggelengkan kepalanya. Melihat Hans yang langsung pergi dengan wajah terlihat senang.


"Hmm.. segitu senangnya dia mau ketemu anaknya. Iya sih, gue juga pernah kok diposisikan dia. Aah Sudahlah! Sebaiknya Aku segera menyusul Anisah," gumam Ardiyan. Lalu ia pun langsung masuk ke mobilnya dan tak berapa lama mobil pun mulai melajukan keluar dari area perparkiran dan melesat pergi, setelah mobilnya memasuki jalur jalan raya.


...*****...


Hans yang tadi lebih dulu pergi, terlihat masih mengemudikan mobilnya, dengan kecepatan tinggi, agar secepatnya ia sampai di rumahnya. Dan benar saja, dalam waktu hanya empat puluh menit, Ia sudah memasuki gerbang rumahnya. Bahkan ia langsung berlari, setelah mobil terparkir dengan sempurna. Dan disaat ia hendak masuk rumahnya tiba-tiba..


"Astaghfirullah..! Aden! Main nyolonong aja sih, si Mbok sampai mau jatuh!" teriak Mbok Iyem, yang hampir saja jatuh, karena tertabrak oleh Hans . Untungnya Hans langsung menangkap tubuhnya Iyem.


"Maaf Mbok, saya buru-buru, karena ingin melihat Twins Mbok," balas Hans, seraya ia melepaskan tangannya yang tadi memegang tangannya Mbok Iyem.


"Ya ampun.. rupanya Aden lagi terkena demam simpati Ayah ya?" tanya Mbok Iyem ngasal.


"Apaan sih Mbok! Aaah.. sudahlah! Aku mau lihat anak-anak saja!" kata Hans, dan ia pun langsung bergegas pergi menuju ke lantai dua.


"Owalah Den-Den, segitu kangennya sama Twins," gumam Iyem, seraya ia mendongakkan wajahnya keatas. Karena ia sedang melihat Hans, yang terlihat sedang berlari kecil menuju pintu kamarnya, dari bawah. Setelah itu ia pun langsung bergegas pergi ke dapur.

__ADS_1


...***...


Sedangkan Hans, langsung membuka pintu kamarnya begitu ia sampai. Dan tampaklah Olehnya Inayah yang terlihat sedang menyusui salah satu anaknya.


"Assalamu'alaikum.. wah anak-anak lagi mimik cucu ya?" kata Hans, seraya ia bermaksud ingin mendekati istri. Namun malah mendapatkan teguran dari Inayah.


"Eet! Ayah, Pergi mandi dulu deh! Jadi virus-virus yang menempel tubuh Ayah, pada minggir semuanya!" tegur Inayah, membuat Hans langsung berdengus sedih.


"Humm.. ya sudah kalau begitu, Ayah mandi dulu deh;" kata Hans lalu ia pun langsung bergegas ke kamar mandi. Dan tak membutuhkan waktu lama Hans, sudah kembali lagi. Dengan tubuh yang telah memakai kaos oblong dipasangkan dengan celana pendek yang memiliki banyak kantong.


Setelah keluar dari kamar mandi ia langsung bergegas menghampiri istri dan anak-anaknya lagi.


"Aah.. ayah benar-benar kangen banget sama kalian sayang-sayangnya Ayah," kata Hans, lalu ia pun mengecup lembut dahi istrinya, setelah itu ia juga mengecup lembut dahi kedua putranya.


"Masaaa?" balas Inayah singkat.


"Iya loh Sayang! Rasanya sekarang perasaan Abang itu tak ingin jauh-jauh dari kalian. Rasanya benar-benar berbeda setelah memiliki mereka. Terima kasih ya Sayang? Ini semua berkat kamu, karena sudah memberikan Abang kebahagiaan yang sempurna. Dan Abang benar-benar bahagia banget Sayang," ucap Hans, terdengar tulus dan lembut. Seraya ia kembali mengecup dahi istrinya lagi.


"Sama-sama Bang, Nayah juga sangat bahagia, karena berkat Abang, kini Nayah merasa menjadi wanita yang sempurna. Yaitu menjadi seorang istri sekaligus menjadi ibu. Untuk itu Nayah sangat berterima kasih banget sama Abang, karena telah memberikan kebahagiaan juga sama Nayah," balas Inayah, sambil ia meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Dan Hans pun langsung merangkulnya.


"Alhamdulillah.. senang rasanya mendengar kamu bahagia. Semoga kebahagiaan ini senantiasa mengiringi kehidupan rumah tangga kita ya Sayang?" kata Hans, yang terlihat ia tak juga bosan-bosannya menciumi istri dan anak-anaknya. Begitu juga dengan Inayah, yang terlihat tak bosan-bosannya mengecupi buah hati mereka yang telah membawa kebahagiaan untuk dirinya dan juga Suaminya. Hingga terpancar jelas dari wajah keduanya terlihat begitu bahagia.


...••┈••✾•◆❀💚E.N.D.💚❀◆•✾••┈••...


Alhamdulillah author telah menyelesaikan versi Hans. Semoga para Readers terpuaskan dengan versi Hans ya. Terima kasih karena selalu mendukung Hans dan Inayah. ♥️


Terus dukung author ya guys 🙏😘 Syukron 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2