GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.

GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat.
SALAH TINGKAH.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💚 Mutiara Hikmah 💚❉্᭄͜͡⊶⊷•


❝Hati adalah seperti cermin. Ia akan mewujudkan apa saja yang tersimpan di dalam hati seseorang.


Jika hati seseorang menyimpan perasaan yang bersih maka penampilan orang iti akan menarik perhatian orang lain karena perilakunya yang terpuji.


Kalau hatinya kotor, maka perilaku orang itu bagaikan asap gelap. Sehingga budi pekertinya selalu akan condong kepada keburukan. ❞


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷•


Hari-hari telah berlalu dengan cepat.


Kondisi Rio juga semakin lama semakin membaik. Hanya saja, ia masih belum bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Karena dirinya masih belum bisa menggunakan kaki dan tangannya. Bahkan Kemanapun ia harus menggunakan kursi roda. Membuatnya tidak leluasa untuk bergerak.


Pada awalnya ia selalu marah dengan keadaannya yang tidak bisa melakukan apapun. Untung Naazwa yang sudah mulai terbiasa dengan tabiatnya, selalu sabar menghadapinya. Dan bahkan dengan ikhlas ia selalu membantunya, saat dirumah, dikantornya, bahkan ketika ia sedang meninjau perkebunan, Naazwa pasti akan mendampinginya.


Seperti saat ini, mereka sudah memasuki kantornya Rio. Dan seperti biasa Naazwa yang selalu mendorong kursi roda suaminya, menuju ke ruangannya yang berada dilantai lima.


Dan sejak Rio, membawa Naazwa bersamanya, ia selalu menjadi pusat perhatian bagi karyawannya Rio. Mereka selalu penasaran pada Naazwa, yang tak pernah melepaskan cadarnya.


"Linda? Sebenarnya siapa sih wanita bercadar itu,? Aku kok penasaran banget ya ingin melihat wajahnya?" tanya salah satu karyawati, dengan suara yang sedikit berbisik pada temannya, yang dipanggil Linda.


"Aku juga nggak tau, Din! Cuma aku pernah dengar, katanya dia istrinya Bos sih," balas Linda, ikut berbisik.


"Hah? Istri Pak Rio? Masa sih? Tapi kenapa wajahnya ditutupi gitu ya Din? Apakah wajah sangat jelek? Sehingga ia tutupi?" tanya Dina, terlihat begitu penasaran.


"Bisa jadi sih. Tapi kenapa Pak Rio mau ya, dengan wanita berwajah jelek? Padahal wajah pak Rio begitu tampan. Yaah walaupun sekarang dia seperti orang yang cacat, tapi tetap aja aku tak bisa berpaling melihat ketampanannya," ujar Linda, dengan mata yang berbinar. Tampaknya gadis itu sedang dimabuk cinta. Disaat bersamaan.


"Apakah kalian sedang tidak punya pekerjaan hah?!" bentak seorang pria, yang mengejutkan Linda dan Dina, yang sedang hanyut dalam hayalan tentang bos mereka masing-masing. Dan seketika keduanya langsung menoleh kesumber suara Pria tersebut.

__ADS_1


"P-pak Gilang?!" sentak keduanya dengan mata yang terbelalaknya saat mereka melihat Pria tampan berwajah dingin yang berada di belakang mereka. Dan seketika tubuh keduanya bergetar, tampak sekali mereka begitu takut pada Pria tersebut, yang tak lain adalah Gilang, sang Asisten Rio, yang ternyata ia ditakuti oleh para Karyawan yang bekerja di kantor Rio.


"Apakah kalian masih ingin bekerja disini hah?" tanya Gilang dengan tatapan dinginnya.


"Ma-masih Pak!" jawab keduanya, dengan suara yang ikut gemetaran.


"Bagus! Sekarang pergilah! Dan lakukan tugas kalian!" tegas Gilang.


"Baik Pak!" balas Kedua gadis tersebut, sambil keduanya membukukan tubuhnya. Setelah itu mereka pergi dengan tergesa-gesa.


"Huh! Dimana-mana yang namanya wanita itu tukang gosip ya? Haiis.. pagi-pagi udah bikin tensi naik aja!" gumam Gilang, seraya ia juga melangkah pergi dari sana.


*****


Sementara disisi lain


Naazwa, kini memiliki kebiasan baru, yang harus mendorong kursi roda suaminya saat menuju keruangan Rio. Setelah keduanya didalam, maka Naazwa akan mengunci kursi roda tersebut setelah berada di sebelah kursi kebesaran milik Rio.


"Alhamdulillah sudah kok Naaz," balas Rio, seraya tersenyum lembut pada istrinya.


"Alhamdulillah, kalau begitu, apa sudah bisa kita memulainya Bei?" tanya Naazwa lagi yang terlihat masih berdiri di samping kursi roda Rio.


"Gimana mau memulainya Naaz? Kalau kamu masih berdiri di situ hm? Duduklah! Aku tak suka mendongakkan kepalaku berlama-lama!" jawab Rio, terdengar kesal, Karena memang ia tak suka bila Naazwa berdiri disampingnya saat mereka sedang berdiam. Terkecuali saat ia sedang mendorongnya itu takkan masalah untuknya.


"Eh, iya iya, maaf Suamiku Sayang, Zwa lupa," balas Naazwa seraya mencium pipi Rio, membuat wajah Rio langsung memerah.


"Ck! Jangan menggodaku Naaz! Ingat kerjaan kita sudah menumpuk!" bentak Rio, berusaha menutupi, rasa senangnya karena Naazwa menyebutnya Suamiku Sayang.


"Iya iya Bei! Maaf, sekarang apa yang harus Zwa kerjakan?" tanya Naazwa, yang kini ia sudah duduk di kursi kebesaran Rio.


Yaa, karena tangan Rio masih memakai gift, ia pun tak bisa melakukan apapun. Makanya pekerjaan Rio, pun diambil alih oleh Naazwa, sebagai pengganti tangan kanannya. Makanya walaupun Naazwa duduk dikursi kebesaran suaminya. Namun tetap saja ia harus mengikuti instruksi dari suaminya, yang saat ini sedang duduk disebelahnya dengan kursi rodanya.

__ADS_1


"Kamu pelajari dulu yang ini, nanti baru kamu rangkum, kamu pahamkan?" ujar Rio, memberi petunjuk yang akan dikejarkan oleh istrinya.


"In shaa Allah Bei," balas Naazwa, dan ia pun mengikuti apa yang instruksi oleh Rio. Kini ia nampak serius dalam bekerjanya, bak seorang direktur wanita.


Sedangkan Rio, setelah mengajarkan istrinya, ia pun membaca file-file yang berada dimejanya. Karena ia hanya menggunakan tangan satu, membuat ia cepat lelah. Alhasil ia memilih memperhatikan istrinya yang terlihat sedang serius, dengan layar laptopnya. Dan disaat ia sedang menikmati keindahan wajah istrinya nan cantik. Tba-tiba terdengar suara ketukan pintu, membuat Naazwa terkejut dan langsung memandang suaminya yang sedang menatap dirinya.


"Siapa tuh Bei?" tanya Naazwa, seraya ia hendak memakaikan cadarnya lagi. Karena ia takut kalau-kalau yang datang adalah seorang Pria.


"Mungkin sekretarisku!" balas Rio, berpura-pura ia kembali melihat isi file yang ada dipangkuannya.


"Pria apa wanita Bei?"


"Wanita kok, sudah nggak papa nggak usah dipakai lagi," kata Rio yang mulai paham, kalau istri tidak ingin memperlihatkan wajahnya pada pria lain.


"Ooh, ya sudah suruh masuk saja Bei," kata Naazwa yang akhirnya ia tak jadi memakai cadarnya.


"Masuk!" teriak Rio, dan tak berapa lama seorang wanita cantik masuk dengan membawa baki yang diatasnya ada dua buah gelas.


"Permisi Pak, Bu, ini minumannya," kata Wanita itu, seraya ia meletakkan gelas tersebut satu persatu diatas meja Rio.


"Terima kasih Mbak," balas Naazwa sopan, membuat wanita itu tercengang, melihat kecantikan Naazwa, ditambah lagi Naazwa mengucapkan terima kasih padanya. Karena biasanya Rio, tak pernah mengucapkannya.


"Eh, iya Bu sama-sama. Kalau begitu saya permisi Pak Bu," ujar wanita itu, dan dianggukan oleh Naazwa. Sementara Rio tak menoleh sedikitpun padanya. Setelah wanita itu pergi, Naazwa kembali melihat ke suaminya yang terlihat sedang fokus.


"Bei? Kamu hebat ya?" kata Naazwa, seraya menahan tersenyumnya.


Rio mengerenyitkan dahinya, saat mendengar perkataan Naazwa, "Hebat? Maksud kamu Hebat kenapa?" tanyanya terlihat penasaran.


"Iya loh hebat! Soalnya Bibei bisa baca file, dengan posisi terbalik," kata Naazwa terlihat polos, membuat Rio seketika langsung melihat file yang ada di pangkuannya.


"Eh? I-Itu aku sedang baru belajar kok!" balas Rio terlihat salah tingkah.

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2